Katak Raksasa Sulawesi (Limnonectes grunniens), merupakan spesies amfibi berukuran besar endemik Sulawesi. Limnonectes adalah genus katak dari famili Dicroglossidae. Genus ini secara kolektif dikenal sebagai katak bertaring. Katak yang dikelompokkan dalam genus Limnonectes ini disebut bertaring karena memiliki tonjolan tulang di rahang bawah.


Taring yang dimiliki jenis katak ini bukan berarti gigi taring yang sebenarnya, sebab tidak memiliki akar gigi atau ciri-ciri gigi lainnya. Sampai saat ini, belum diketahui manfaat taring pada katak genus ini. Beberapa kemungkinan adalah sebagai senjata melawan pejantan lain untuk mempertahankan wilayah, menangkap mangsa seperti ikan dan serangga serta sebagai senjata melawan predator.

Dalam bahasa setempat katak ini dikenal dengan nama todan. Todan hidup di pinggiran-pinggiran sungai hutan primer, atau kebun-kebun warga yang berdekatan dengan sumber air. Sebagai makhluk amphibi, Limnonectes grunniens terbiasa hidup di air.
Baca juga : Amfibi, Hewan Vertebrata yang Mampu Hidup di Dua Alam
Hal tersebut lantaran katak tersebut bernafas dengan kulit dan kulitnya harus senantiasa dalam keadaan lembab. Katak jumbo ini hidup di pinggiran-pinggiran sungai hutan primer, atau kebun-kebun warga yang berdekatan dengan sumber air.

Katak ini lebih banyak beraktivitas malam hari. Sering terdengar suaranya di celah bebatuan dekat sungai. Ketika bersuara, beberapa penduduk lokal melafalkan seperti batuk orangtua. Beratnya bisa mencapai 1,5 kg, menjadikannya salah satu katak terbesar, dengan ukuran menyerupai bayi manusia atau ayam dewasa.
Katak Todan biasanya ditemukan di wilayah Sulawesi, Maluku hingga Papua. Spesies katak raksasa sejatinya hidup di Afrika, seperti jenis African bullfrog yang ukuran tubuhnya bisa mencapai panjang 23 cm diukur dari kepala hingga bokongnya. Sementara berat tubuhnya bisa mencapai hingga 2 kilogram. Pada katak jantan malah rata-rata ukurannya lebih besar.


Katak yang berada di daerah Enrekang, Sulawesi Selatan ini memiliki ukuran 10x lipat dari katak normal yang biasanya paling besar seukuran genggaman tangan saja. Todan disebut memiliki berat sampai 1,5 kg seperti berat bayi manusia. Panjang tubuhnya sekitar 30-50 cm.
Tengkorak dan rahang mulut saat tertutup terlihat lancip. Secara umum, morfologi katak jantan dan betina sulit dibedakan. Karena keduanya memiliki pola warna mirip (cokelat muda hingga agak kehitam-hitaman). Namun, katak Todan jantan lebih besar daripada Todan betina. Betina katak ini berukuran lebih besar daripada pejantan.

Habitat dan distribusi persebaran katak raksasa Sulawesi di sungai-sungai kecil dengan lebar antara 1-4 meter dengan kedalaman air antara 0-50 sentimeter. Kisaran suhu alami air lingkungan antara 24-26 derajat Celcius dan suhu udara antara 27-28 derajat Celcius, suhu normal daerah tropik.
Baca juga : Katak Kepala Pipih Kalimantan, Satu-satunya Jenis Katak di Dunia yang Tanpa Paru-paru
Katak jenis ini termasuk lambat dalam perkembangbiakannya. Todan salah satu jenis katak yang unik sebab dalam setahun katak ini berkembangbiak bukan dengan cara bertelur melainkan melahirkan kecebong. Kecebong yang dilahirkan dapat mencapai hingga 1000 ekor kecebong.

Namun tidak semua kecebong dapat tumbuh besar karena dimangsa predator dan manusia serta habitatnya yang rusak. Katak ini lebih banyak beraktivitas pada malam hari. Katak ini biasa makan semua yang bergerak. Serangga, kepiting, ikan, dan katak kecil adalah makanan favorit dari todan ini.
Dulunya katak Todan dapat dengan mudah ditemukan oleh warga namun memasuki awal tahun 2000-an populasi Todan mulai menurun. Menurunnya beberapa informasi masyarakat populasi Todan di Kabupaten Enrekang bukan saja karena ditangkap untuk kebutuhan konsumsi, namun adanya perubahan alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian yang mengubah habitat hidup Todan.

Padahal keberadaan katak sangat penting bagi lingkungan. Keberadaan dan populasi katak di suatu wilayah itu mengindikasikan lingkungan di sekitarnya masih baik. Karena itu katak menjadi salah satu fauna yang cukup riskan akan perubahan lingkungan. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan, jenis ini hampir terancam.
Katak Todan ini biasa dikonsumsi oleh orang Duri yang ditinggal di Kecamatan Baraka dan Buntu Batu sebagai cemilan atau teman minum tuak. Katak ini dapat diolah dengan cara di bakar atau digoreng, karena ukuran tubuhnya yang cukup besar, katak ini memiliki banyak daging.

Bagi masyarakat Duri kegiatan menangkap todan di sebut dengan “metodan”, kegiatan ini lebih banyak dilakukan oleh anak muda di sekitar kebun dan sumber mata air. Belum diketahui secara pasti sejak kapan kegiatan metodan dilakukan.
Baca juga : Biawak Tanpa Telinga, Naga Misterius dari Kalimantan
Namun hal ini telah dilakukan sudah sejak lama, kegiatan metodan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan dapat memupuk solidaritas diantara masyarakat Duri. Untuk menjaga populasi todan sebagai binatang endemik Kabupaten Enrekang, masyarakat di Desa Wisata Kadingeh sejak tahun 2021 mulai menangkarkan katak jenis ini.

Hingga kini telah ada sekitar 20-an ekor katak Todan yang telah ditangkarkan oleh masyarakat Desa Kadingeh. TTjuan penangkaran Todan ini tidak lain untuk menjaga kelestarian todan di alam dan sebagai wisata edukasi bagi wisatawan yang ingin mempelajari siklus hidup katak besar ini.
Jika katak Todan dibudidayakan dengan baik maka dapat menjadi salah satu komoditi ekspor yang menjanjikan bagi masyarakat Duri. Untuk saat ini kebanyakan katak yang di ekspor adalah katak sawah jenis Fejervarya cancrivora yang berukur kecil. Untuk itu diperlukan kerjasama dengan pemerintah, Dinas terkait dan masyarakat dalam budidaya Todan sehingga dapat menjadi komoditi ekspor yang dapat meningkatkan perekonomian kabupaten Enrekang. (Ramlee)
