Ayam Kuntara (Kampung Unggul Nusantara) merupakan galur ayam kampung unggul hasil seleksi intensif. Pengembangannya diprakarsai oleh Edi Irawan dari Kabrokan Kulon, Sendangsari, Pajangan, Bantul, Yogyakarta. Seorang breeder ayam yang telah lama berkecimpung di dunia perunggasan, khususnya dalam breeding ayam Joper.


Ayam Joper sendiri merupakan hasil persilangan ayam layer dengan ayam Bangkok, yang banyak digunakan untuk pedaging. Persilangan pertama menggunakan PS layer, kedu merah, dan astrolop. Sedangkan pada persilangan kedua menggunakan kedu merah, baret, dan bitleyhor. Persilangan dibuat dengan tujuan untuk mengatasi rendahnya produksi telur ayam kampung biasa.
Nama “Kuntara” juga diambil dari nama rekan breeder, Pak Anggoro (Kunto), yang turut berkontribusi dalam pengembangannya. Filosofi utama pengembangan ayam Kuntara adalah kemandirian breeder. Peternak tidak lagi bergantung pada pembelian indukan terus-menerus, melainkan mampu mencetak indukan sendiri sesuai kapasitas dan kebutuhan.

Ayam Kuntara diluncurkan pada akhir tahun 2022, dan diberi nama Kuntara 4. Secara morfologi, ayam Kuntara memiliki postur yang mendekati ayam petelur. Ciri-cirinya antara lain berjengger jelas, bulu agak tebal, dan struktur tubuh yang mendukung produksi telur tinggi.
Baca juga : Joper, Ayam Unggul Hasil Perkawinan Silang Ayam Kampung dengan Ayam Petelur
Namun demikian, warna telur dan rasa dagingnya tetap masuk kategori ayam kampung, sehingga diterima dengan baik oleh pasar tradisional maupun konsumen ayam kampung. Inilah yang menjadikan ayam Kuntara berada di posisi unik: ayam petelur kampung, bukan ayam ras murni, tetapi juga bukan ayam kampung tradisional yang produktivitasnya rendah.

Salah satu keunggulan utama ayam Kuntara adalah produktivitas telurnya. Ayam Kuntara mulai bertelur pada umur 4,5 – 5 bulan. Berat telur yang dihasilkan mencapai 55 – 65 gram atau jauh lebih besar dari telur ayam kampung biasa. Ayam Kuntara mampu memproduksi telur setara ayam layer (ayam petelur) yang menghasilkan telur konsumsi dengan produktivitas tinggi.
Ayam Kuntara mampu menghasilkan telur sekitar 280 hingga 300 butir per tahun dengan berat telur mencapai 60 gram. Puncak produksinya mencapai 80 % – 90 % pada umur 28 minggu. Dengan rata-rata produksi telur hingga 70 sampai 80 % per tahun. Ayam ini tidak memiliki sifat mengeram, sehingga memungkinkannya untuk bertelur terus sepanjang tahun.


Dalam kondisi perawatan standar, tingkat produksi telur dapat mencapai di atas 70%, dan dengan manajemen pakan serta lingkungan yang baik, dapat meningkat hingga 80%. Dalam hitungan tahunan, seekor ayam Kuntara mampu menghasilkan sekitar 300 butir telur per tahun.
Angka ini sangat tinggi untuk ukuran ayam kampung, sehingga menjadikannya sangat potensial untuk usaha penetasan dan produksi DOC. Produktivitas telur yang stabil juga membuat arus pendapatan peternak lebih kontinyu, terutama bagi mereka yang fokus pada penjualan DOC atau telur konsumsi.

Keunggulan lain yang sangat menonjol dari ayam Kuntara adalah ketahanan terhadap penyakit. Ayam ini dikenal tidak mudah tertular penyakit menular seperti senot atau gangguan pernapasan ringan, mencret, dan tidak mudah stres. Bahkan jika ada individu yang sakit, penularannya sangat minim.
Baca juga : Ayam KUB, Ayam Kampung Strain Baru yang Menjanjikan
Ayam Kuntara memiliki karakter jinak, tenang, dan tidak kanibal. Ayam Kuntara memiliki masa brooding yang relatif singkat. Jika ayam lain membutuhkan pemanas hingga 3 – 4 minggu, ayam Kuntara cukup membutuhkan pemanas selama 10 – 15 hari.

Setelah itu, DOC sudah cukup kuat dan hanya memerlukan kehangatan ruang. Bahkan dalam kondisi tertentu, ayam Kuntara dapat langsung diumbar setelah dua minggu karena daya tahannya terhadap dingin cukup baik. Hal ini tentu menghemat biaya listrik, gas pemanas, dan tenaga kerja.
Ayam ini memiliki ukuran tubuh lebih besar dari ayam kampung biasa, dengan bobot sekitar 2,5 hingga 3,5 kg untuk ayam dewasa. Membuatnya cocok sebagai ayam pedaging saat masa produktif telur berakhir. Ayam ini termasuk tipe dual purpose (ayam pedaging dan ayam petelur).

Fisik ayam ini mirip ayam impor (seperti Barred Rock atau Brown Horn). Dengan varian warna bulu yang beragam, meliputi hitam, kelabu (abu-abu), dan jali (lurik/bergaris). Ada juga yang memiliki warna bulu dominan merah kekuningan, dengan corak oranye dan kuning cerah yang menyala. Memiliki suara yang cukup nyaring dengan nada melengking yang khas.
Pakan ayam Kuntara (Kampung Unggul Untara) difokuskan pada nutrisi tinggi untuk pertumbuhan cepat dan produksi telur, dengan campuran utama konsentrat layer 50%, jagung 75%, dan katul 26% saat masa bertelur. Konsumsi pakan harian berkisar 110-120 gram per ekor, dengan kebutuhan pakan sekitar 2,5 kg untuk mencapai bobot 1 kg.

Manajemen pakan ayam Kuntara berdasarkan fasenya yakni fase starter (DOC – 2,5 bulan) dengan menggunakan pakan pur khusus petelur (seperti Pardok) secara ad libitum (tanpa takaran) untuk pertumbuhan optimal. Untuk fase grower (2,5 – 4,5 Bulan) pemberian pakan mulai ditakar.
Baca juga : Ayam Sentul, Ayam Kampung Unggul dari Ciamis
Dengan menggunakan pakan campuran jagung, katul, dan sedikit konsentrat untuk mempersiapkan masa bertelur. Pada fase layer/petelur (4,5 bulan ke atas), diberikan campuran pakan konsentrat layer 50%, jagung 75%, dan katul 26%. Pakan bisa ditambah bahan alternatif seperti sisa roti/biskuit, tepung ikan, dan sayuran.

Kebutuhan pakan ayam Kuntara dewasa membutuhkan sekitar 110 gram per hari, sedikit lebih banyak dibanding ayam KUB karena ukuran tubuhnya yang lebih besar. Hindari overfeeding untuk mencegah obesitas yang menurunkan produksi telur. Pakan fermentasi dapat digunakan untuk meningkatkan nutrisi.
Ayam Kuntara dapat dipelihara dengan sistem kandang koloni maupun intensif. Ayam Kuntara sangat cocok untuk peternak yang mencari ayam lokal atau ayam kampung dengan produktivitas setara ras petelur namun memiliki ketahanan fisik yang kuat. (Ramlee)
