Kuskus merupakan salah satu mamalia berkantung (marsupialia). Bagi yang belum pernah mengetahui tentang satwa ini mungkin akan dibuat bingung karena wujud kuskus itu sendiri. Jika dilihat sekilas terlihat seperti kukang, terutama saat masih berusia kecil, padahal keduanya berbeda.

Apabila dilihat dari dekat, kuskus dinilai lebih mirip dengan kanguru versi mini karena memiliki kantung di bagian depan. Kuskus membesarkan anaknya di kantung tubuhnya. Bayi yang baru lahir akan merangkak masuk ke dalam kantung hingga dapat makan sendiri. Kuskus mampu melahirkan 2 hingga 4 anak. Namun, biasanya hanya satu bayi Kuskus yang mampu keluar dari kantong setelah 6 bulan.

Berbeda dengan kanguru, kuskus sendiri merupakan hewan yang memiliki sifat arboreal, atau menghabiskan hampir seluruh waktu hidupnya di pepohonan. Sehingga jarang dijumpai atau terlihat di permukaan tanah. Hewan ini membuat sarang di lubang pohon atau bersarang tinggi di pucuk pohon tempatnya bisa tidur.

Kukang menghabiskan hampir seluruh waktunya diatas pohon

Ciri utama kuskus yakni terdapat kantung di perutnya dan bentuk mukanya yang bundar dengan daun telinga yang kecil, serta bulu yang lebat. Selain itu kuskus mempunyai ekor yang panjang dan kuat yang berfungsi sebagai alat untuk berpegangan saat berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya.

Baca juga : Kukang, Primata yang Bergerak Lambat Kian Terancam Punah

Kuskus juga dapat dikatakan sebagai hewan pemalas sekaligus pemalu. Pemalas karena satwa ini diketahui menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur, dan hanya beraktivitas keluar sarang saat merasa lapar kemudian mencari makanan.

Bayi kuskus ada di dalam kantung induknya

Sementara itu julukan pemalunya muncul karena kuskus juga dikenal sebagai hewan penyendiri atau soliter. Kalaupun terlihat kuskus sedang berkumpul, sebenarnya hanya terdiri dari induk dan beberapa anakan pada saat di luar masa kawin.

Kuskus mampu tumbuh hingga 60 cm, dan berat 1 kg. Kuskus biasa melakukan aktifitas di malam hari (nokturnal) dan beristirahat di siang hari pada pepohonan. Cara tidurnya pun sangat lucu, terkadang kuskus beristirahat dengan membungkuk dan memeluk batang pohon pada kondisi tajuk yang rimbun atau terbuka. Kuskus juga termasuk hewan pemakan segala atau omnivora.

Kuskus merupakan satwa Australis yang persebarannya terbatas di Indonesia bagian timur (Sulawesi, Maluku, Papua), Australia dan Papua New Guinea. Kuskus memiliki sejarah yang panjang. Persebarannya juga sempat punah kala gunung berapi meledak di Long Island Pasifik Selatan.

Menewaskan hampir semua yang ada di dalamnya. Keberadaan Kuskus di Indonesia Timur bertepatan dengan kedatangan manusia di sana pada 3.000 tahun yang lalu. Menguatkan bahwa Kuskus dipelihara, dibawa dan diperlihatkan pada habitat baru.

Kuskus Beruang Talaud (Ailurops melanotis)

Sebuah penelitian lain mengungkap, Kuskus telah ada selama 12.000 tahun yang lalu. Tepatnya di New Ireland yang berjarak 600 kilometer dari Papua. Arkeolog Australia menemukan tulang Kuskus dalam sedimen pada akhir 1980 an.

Baca juga : Sugar Glider, Mamalia Nokturnal Lucu yang Mampu Meluncur di Udara

Dari total enam genus kuskus yang ada di dunia, sebagian ada di Indonesia. Dan di Indonesia sendiri ada beragam satwa kuskus. Di antaranya kuskus tutul, kuskus tanah, kuskus cokelat, kuskus hitam, dan masih banyak lagi, semua ada di wilayah Indonesia Timur.

Kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis)

Namun selain deretan jenis hewan kuskus di atas, ada 3 kuskus endemik yang hanya berasal dari wilayah Indonesia Timur, lebih tepatnya Pulau Sulawesi. Diantaranya, Kuskus beruang Sulawesi (Ailurops ursinus), Kuskus beruang Talaud (Ailurops melanotis), dan Kuskus kerdil/tembung (Strigocuscus celebensis).

Beberapa spesies kuskus telah dikategorikan sebagai kritis, terancam punah, dan menuju kepunahan. Lebih dari 18 jenis kuskus di Indonesia berstatus dilindungi. Internasional Union Conservation of Nature (IUCN) memasukan kuskus dalam redlist (buku merah) sebagai hewan vulnerable atau terancam (IUCN 2016), dan juga terdaftar dalam CITES Appendiks II.

Itu artinya kuskus tidak boleh diburu, disakiti, dibunuh, dan diperdagangkan, baik hidup atau mati, seluruhnya atau sebagian. Saat ini populasi kuskus semakin berkurang akibat deforestasi dan konversi lahan, serta perburuan yang meningkat karena gerakan kuskus yang lambat dan penampilannya yang lucu.

Status konservasi kuskus di Indonesia telah dilindungi sejak tahun 1990 melalui Peraturan Perburuan Binatang Liar (PPBL) No. 226/1931, UU No. 5/1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dan UU No. 7/1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.

Kuskus tanah (Phalanger gymnotis)

Salah satu upaya melindungi kuskus dari kepunahan adalah dengan menjaga dan melindungi habitatnya, serta membatasi perburuan dan perdagangan liar. Sosialisasi penyadartahuan kepada masyarakat bertujuan untuk menanamkan kepedulian serta rasa membutuhkan terhadap keberlangsungan keseimbangan Ekosistem Alam.

Baca juga : Tupai, Mamalia Mungil Pintar yang Kian Terancam Keberadaannya

Dimana Satwa liar seperti kuskus memiliki peran penting didalamnya. Penegakan hukum dan penindakan terhadap praktik kejahatan terhadap satwa liar yang dilindungi harus dilakukan dengan serius. Kuskus merupakan hewan yang memiliki pola warna bulu yang berbeda berdasarkan genusnya.

Kuskus tutul (Spilocuscus maculatus)

Genus Spilocuscus terdiri dari 3 spesies dan genus Phalanger terdiri dari 8 spesies. Di Papua terdapat dua genus kuskus yaitu Spilocuscus dan Phalanger. Spesies endemik untuk Papua adalah Spilocuscus papuensis dan Spilocuscus rufoniger.

Di Kepulauan Maluku Utara ada beberapa jenis kuskus endemik yakni Phalanger rothschildi, Phalanger ornatus, dan Phalanger alexandrae. Kuskus totol biasa (Spilocuscus maculatus) banyak ditemukan di hutan sekunder, dan Hutan tropis dataran rendah, yang terletak dari ketinggian 500 m sampai 1000 m dpl., bahkan bisa hingga ketinggian 1.400 m dpl. (Ramlee)

By Ramlee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *