Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan tanaman merambat dari suku labu-labuan (Cucurbitaceae) yang juga mencakup melon, semangka, dan labu. Tanaman ini menghasilkan buah yang dapat dimakan. Buahnya biasanya dipanen ketika belum masak benar untuk dijadikan sayuran atau penyegar, tergantung jenisnya.

Mentimun berasal dari wilayah Asia Selatan, tepatnya di lereng Pegunungan Himalaya, India. Bahkan termasuk Tiongkok. Tanaman ini telah dibudidayakan selama ribuan tahun, tercatat sejak 3.000 tahun yang lalu, dan menyebar ke daratan Eropa seperti Yunani dan Italia.
Lalu menyebar ke seluruh dunia terutama di daerah tropis dan subtropis. Ada catatan yang mengatakan bahwa timun sudah mulai muncul di Prancis pada abad-9 dan kemudian Inggris pada abad-14. Dengan demikian, jelaslah bahwa memang keberadaan timun sudah ada sejak lama.

Mentimun atau timun adalah salah satu bahan makanan yang hampir selalu ada dalam berbagai hidangan khas Indonesia. Mentimun juga dapat ditemukan di berbagai hidangan dari seluruh dunia. Rasa segarnya dan tekstur renyahnya menjadikannya salah satu favorit banyak orang.
Baca juga : Semangka, Tanaman Buah Tropis Sumber Antioksidan
Mentimun termasuk jenis tanaman sayuran buah semusim yang berumur pendek seperti terong, labu, tomat, dan pare. Persebaran timun di berbagai wilayah di Indonesia menyebabkannya memiliki julukan yang berbeda-beda di beberapa daerah, misalnya, timun (Indonesia), bonteng (Priangan atau Sunda), timun krai (Jawa), timun (Pulau Aru), timon (Aceh), hantimun (Lampung), dan ketimun (Kalimantan).

Mentimun umum digunakan dalam lalapan, campuran acar, salad, dan bahkan sebagai pelengkap dalam berbagai hidangan berkuah atau gorengan. Rasanya yang tidak manis membuatnya lebih cocok disandingkan dengan makanan yang asin atau pedas. Mentimun jarang dijadikan makanan penutup, sehingga secara praktis banyak orang menyebutnya sayur.
Tanaman tropis dan subtropis ini mempunyai daya adaptasi yang cukup luas terhadap lingkungannya tumbuh. Di Indonesia, mentimun dapat ditanam di dataran rendah dan tinggi, yaitu sampai ketinggian ±100 meter di atas permukaan laut. Setelah berbunga dan berbuah tanaman ini akan mati.


Tanaman ini memiliki batang yang berwarna hijau dan berbulu dengan panjang yang dapat mencapai 1,5 meter. Umumnya batang mentimun mengandung air dan lunak. Mentimun memiliki daun tunggal, terletak berseling, bertangkai panjang, dan berwarna hijau. Daunnya beraroma kurang sedap, langu, dan berbulu, tetapi tidak tajam.
Bentuknya bulat lebar dengan bagian ujung meruncing seperti jantung. Permukaan daun terasa kasar karena memiliki bulu halus dan teksturnya berkerut. Daun ini tumbuh berselang-seling keluar dari buku-buku (ruas) batang yang menjalar atau memanjat dengan bantuan sulur.

Perbungaannya berumah satu (monoecious) dengan tipe bunga jantan dan bunga hermafrodit (banci). Bunga pertama yang dihasilkan, biasanya pada usia 4-5 minggu, adalah bunga jantan. Bunga-bunga selanjutnya adalah bunga hermafrodit apabila pertumbuhannya baik.
Baca juga : Timun Suri, Salah Satu Buah Favorit Saat BerBuka Puasa
Bunga mentimun berwarna kuning, berbentuk terompet, dan berumah satu yang artinya bunga jantan dan betina terpisah, tetapi masih dalam satu pohon. Bunga betina mempunyai bakal buah berbentuk lonjong yang membengkak, sedangkan bunga jantan tidak. Letak bakal buah tersebut di bawah mahkota bunga.

Buah mentimun muda berwarna antara hijau, hijau gelap, hijau muda, hijau keputihan sampai putih, tergantung kultivar atau varietas yang dibudidayakan. Sementara buah mentimun yang sudah tua dan digunakan untuk produksi benih, berwarna cokelat, cokelat tua bersisik, kuning tua, dan putih bersisik.
Panjang dan diameter buah ini antara 12-25 cm dengan diameter 2-5 cm atau tergantung kultivar yang diusahakan. Satu tumbuhan dapat menghasilkan 20 buah, namun dalam budidaya biasanya jumlah buah dibatasi untuk menghasilkan ukuran buah yang baik.

Buah mentimun berwarna hijau ketika muda dengan larik-larik putih kekuningan dan permukaannya licin. Timun yang masih segar memiliki tekstur yang keras, sementara timun yang sudah tidak segar cenderung memiliki tekstur yang lembek dan empuk. Umumnya dikonsumsi mentah sebagai lalapan, jus, atau acar.
Namun kulit buah berubah warna menjadi kuning saat sudah tua. Bentuk buah memanjang seperti torpedo. Daging buahnya perkembangan dari bagian mesokarp, berwarna kuning pucat sampai jingga terang. Buah dipanen ketika masih setengah masak dan biji belum masak fisiologi. Buah yang masak biasanya mengering dan biji dipanen, warnanya hitam.

Timun mengandung sekitar 95% air, sehingga konsumsinya membantu meningkatkan hidrasi tubuh. Hidrasi yang baik untuk menjaga fungsi organ tubuh dan mendukung berbagai proses fisiologis. Kandungan air yang tinggi dalam timun membuatnya menjadi camilan yang baik untuk mencegah dehidrasi.
Baca juga : Buah Blewah yang Laris di Bulan Ramadhan
Mentimun memiliki sifat diuretik, efek pendingin, dan pembersih yang bermanfaat bagi kulit. Kandungan air yang tinggi, vitamin A, B, dan C. Mentimun juga mengandung mineral, seperti magnesium, kalium, mangan, dan silika. Menireal ini membuat mentimun menjadi bagian penting dalam perawatan kulit.

Masker wajah yang mengandung sari mentimun juga digunakan untuk mengencangkan kulit. Asam askorbat dan asam caffeic yang hadir dalam mentimun dapat menurunkan tingkat retensi air, yang pada gilirannya mengurangi pembengkakan di sekitar mata.
Tiongkok menjadi negara dengan penghasil buah timun terbesar di dunia, yaitu sekitar 70.3 juta ton produksi per tahunnya. Angka ini bahkan berhasil membuat Tiongkok mendominasi 80 persen dari total produksi timun dunia. (Ramlee)
