Serak Jawa (Tyto alba) merupakan salah satu burung predator atau burung pemangsa yang dapat memangsa kelompok burung dan mamalia kecil. Burung Serak Jawa lebih dikenal masyarakat sebagai burung hantu atau barn owl. Salah satu spesies burung pemangsa malam yang paling mudah dikenali.

Perilaku burung ini yang aktif pada malam hari (nokturnal) dan terkadang mengeluarkan suara yang tidak biasa saat terbang inilah yang menyebabkan nama burung hantu disematkan oleh khalayak umum kepada. Tyto alba yang memiliki wilayah persebaran di hampir semua benua, kecuali Antartika. Di Indonesia, burung hantu ada beberapa jenis.
Tercatat ada 54 jenis burung hantu dengan rincian 8 jenis dari famili Tytonidae dan 27 jenis dari Strigidae yang tersebar di wilayah Indonesia. Burung hantu merupakan burung menetap, burung yang setia dengan rumah dan lingkungannya. Burung hantu juga tidak akan berpindah selama dirasa aman dan selama makanan di wilayah tersebut masih tersedia.

Salah satu hewan yang umum dijadikan mangsa oleh Serak Jawa adalah Tikus (Rattus spp.). Apabila sulit mendapatkan tikus, burung ini akan bermigrasi atau pindah mencari makan ke daerah yang masih ada tikus namun sifatnya hanya sementara dan akan kembali ke tempatnya semula.
Baca juga : Burung Hantu, Sang Pemburu Malam yang Punya Tampilan Eksotis
Burung Serak Jawa pertama kali dideskripsikan oleh Giovani Scopoli pada tahun 1769. Nama penunjuk spesies alba mengacu pada warna bulunya yang putih dan cokelat keemasan dengan bintik-bintik halus di bagian atas tubuh. Permukaan bulu Serak Jawa bagian bawah tubuhnya didominasi warna putih. Bulu Serak Jawa mempunyai tekstur lembut dengan corak tersamar.

Bagian atas berwarna kelabu terang dengan sejumlah garis gelap dan bercak pucat tersebar. Pada Serak Jawa muda maupun betina, bercak tersebut biasanya lebih rapat. Ciri lain burung ini yaitu ada tanda mengkilat pada sayap dan punggung, kaki berwarna putih kekuningan sampai kecokelatan, dan memiliki bulu-bulu yang jarang. Semua bulunya mengandung zat lilin yang berfungsi untuk menjaga elastisitas dan membuat bulu lebih tahan air.
Serak Jawa jantan dan betina memiliki ukuran dan warna hampir sama, dengan ukuran tubuh sedang hingga besar sekitar 34 cm. Namun, serak jawa betina kadang-kadang berukuran sedikit lebih besar. Serak Jawa memiliki kepala besar, kekar dan membulat. Mukanya berbentuk jantung dengan tepi cokelat dan memiliki iris berwana hitam.


Tidak seperti jenis-jenis burung lain, mata burung ini menghadap kedepan. Sementara paruhnya yang tajam dan berwarna keputihan menghadap ke bawah. Kepala membulat dengan iris mata hitam. Meskipun matanya tidak bisa bergerak bebas seperti manusia namun Serak Jawa memiliki leher yang sangat fleksibel, yang mampu berputar ke segala arah.
Wajahnya berbentuk hati yang membantu memusatkan suara ke telinganya. Mempunyai kaki jenjang dengan cakar kuat, serta paruh berwarna putih kekuningan yang membengkok ke bawah. Keberhasilan burung Serak Jawa dalam berburu ditunjang oleh kemampuannya terbang tanpa suara.

Ketika terbang, suara yang timbul akibat pergerakan sayap diredam oleh semacam lapisan seperti beludru pada permukaan bulu-bulu sayap bagian bawahnya. Selain itu, tepi bulu sayap burung hantu memiliki gerigi sangat halus menyerupai sisir yang berfungsi meredam suara kepakan sayap.
Baca juga : Baza Hitam, Burung Predator yang Eksotis
Cara terbang tanpa suara ini mempertajam pendengaran burung ini sekaligus menyebabkan pergerakannya tidak terdeteksi oleh mangsa. Pendengaran Serak Jawa juga sangat tajam, didukung oleh letak lubang telinga yang tidak simetris (berbeda tinggi di sisi kiri dan kanan) dan ditutupi bulu-bulu pendek sebagai pemantul suara.

Wajah berbentuk cakram/parabola memusatkan suara langsung ke telinga, memudahkan deteksi mangsa dalam kegelapan. Sebagai burung malam, mata burung Serak Jawa memiliki kemampuan 3–4 kali lebih baik dari manusia untuk melihat dalam kegelapan sekitar. Bola matanya tidak dapat digerakkan.
Namun kepalanya dapat diputar 270 derajat dalam empat arah kiri, kanan, atas, dan bawah. Mata burung hantu juga menghadap ke depan sehingga menunjang penglihatan yang stereoskopik. Artinya, burung hantu dapat menentukan jarak dari objek yang dilihat.

Satwa ini dapat ditemukan mulai dari kawasan hutan, tepi hutan, hingga taman kota, dan padang rumput. Di Indonesia, Serak Jawa banyak ditemukan di dataran rendah, sawah, serta daerah perkotaan yang memiliki pepohonan tinggi. Dalam hal kehidupan sosial, beberapa penelitian menunjukkan bahwa Serak Jawa dapat bersifat poligami.
Seekor Serak Jawa jantan bisa memiliki lebih dari satu pasangan dalam jarak yang berdekatan, dengan sarang yang biasanya berada di lubang pohon setinggi 5 hingga 20 meter. Pada masa kawin, pejantan akan terbang mengelilingi sarang sambil mengeluarkan suara berderit untuk menarik perhatian betina.

Serak Jawa sudah siap bertelur saat berumur 9 bulan dan dalam setahun burung ini dapat bertelur 2—3 kali. Kisaran jumlah telur yang dihasilkan tiap musim berbiak berkisar 4—19 butir tergantung kesediaan pakan. Karena itu, populasi pengendali tikus ini bisa diperbanyak dalam waktu relatif singkat.
Baca juga : Cendet, Burung Predator yang Pandai Tirukan Beragam Suara
Tiap burung Serak Jawa dewasa dapat memangsa 2—5 tikus per hari atau sekitar 1.300 tikus per tahun. Serak Jawa mulai dapat berburu tikus pada umur 5 bulan. Diperkirakan, sepasang Serak Jawa dapat melindungi hingga 10 hektar sawah. Namun, petani biasanya menempatkan satu pagupon (semacam rumah kecil yang khusus disediakan untuk burung) di tiap 3 hektar sawah.

Secara global, Serak Jawa termasuk dalam kategori “Least Concern” (Risiko Rendah) menurut IUCN. Hal ini karena persebarannya yang luas dan populasinya yang relatif stabil. Namun, di beberapa daerah tertentu, tekanan terhadap habitat alami seperti penebangan pohon tua dan penggunaan pestisida yang berlebihan bisa menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup satwa ini
Di Indonesia, Serak Jawa belum dilindungi secara khusus, tetapi keberadaannya sering dimanfaatkan sebagai pengendali tikus secara alami oleh petani. Serak Jawa adalah contoh nyata bagaimana satwa liar bisa hidup berdampingan dengan manusia dan memberikan manfaat ekologis yang besar. (Ramlee)
