Tokhtor Sumatera (Carpococcyx viridis) sesuai namanya, burung Tokhtor Sumatera merupakan hewan asli dari Pulau Sumatera. Tokhtor Sumatera merupakan salah satu satwa endemik yang sangat langka. Spesies ini sempat dikira punah karena hampir tidak terlihat selama 81 tahun.

Pengertia satwa endemik adalah spesies hewan yang jumlahnya sangat terbatas pada suatu wilayah tertentu. Yang artinya, fauna tersebut hanya bisa hidup alami di tempat tersebut dan tidak dapat dijumpai di lokasi lain.

Tokhtor Sumatera dikenal dengan nama Sumatran Ground Cuckoo dalam bahasa Inggris. Dan Tokhtor Sumatera salah satu dari tiga spesies burung Tokhtor yang ada di dunia. Dua lainnya adalah Carpococcyx radiceus dikenal sebagai Tokhtor Kalimantan dan Carpococcyx renauldi dijumpai di Thailand dan Vietnam.

Seekor Tokhtor Sumatera tampak terkejut ketika kehadirannya tertangkap kamera otomatis

Tokhtor Sumatera sendiri tergolong ke dalam 18 burung paling langka di Indonesia, bersama dengan Jalak Bali, Sikatan Aceh, dan Trulek Jawa. Situs Birdlife International mencatat, populasi Carpococcyx viridis dewasa di alam hanya ada sekitar 50–249 ekor saja.

Baca juga : Kakatua Raja si Hitam Eksotis Endemik Tanah Papua

Jumlah tersebut pun disebut akan terus menurun. Karena informasi terkait populasi dan jangkauannya yang minim, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mengklasifikasikan spesies ini sebagai “Kritis” (Critically Endangered).

Tokhtor Sumatera merupakan burung yang sangat pemalu

Karena tergolong langka, mungkin tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui ciri fisik dari burung endemik Pulau Sumatera ini. Tokhtor Sumatera memiliki tubuh berukuran 55–60 cm. Bulunya berwarna hitam di bagian kepala.

Sedang pada bangian leher hingga dada berwarna kehijauan juga bulu penutup sayap dan bulu sekunder. Berwarna kecokelatan dengan garis-garis hitam pada bagian dada hingga tungging. Ciri khasnya ada pada kulit sekitar mata yang kehijauan, di belakang mata kebiruan, iris kemerahan, serta paruh dan kaki kehijauan.

Tokhtor Sumatera termasuk spesies burung pemakan serangga. Tokhtor Sumatera jarang menggunakan kedua sayapnya untuk terbang. Burung ini lebih banyak menghabiskan waktunya di permukaan tanah. Burung pemalu ini adalah penghuni tetap lantai hutan.

Termasuk mencari makan berupa vertebrata kecil maupun invertebrata berukuran besar. Seperti umumnya burung-burung bertubuh besar yang hidup di permukaan tanah, misalnya burung bubut, Tokhtor Sumatera tidak mempunyai suara kicauan yang bervariasi sebagaimana burung petengger.

Tokhtor Sumatera hampir tidak pernah menggunakan sayapnya untuk terbang

Burung ini mengeluarkan suara yang cukup keras dan terdengar seperti tock-tor. Dari situlah namanya diambil. Nada awal suaranya bertempo tinggi, kemudian berangsur menurun di nada kedua. Suara Tokhtor Sumatera tidak kalah merdu dari burung tekukur. Suara burung Tokhtor Sumatera mirip dengan suara burung Engggang Jambul.

Baca juga : Sepah Raja, Burung Madu Cantik yang Mulai Langka

Jenis ini pertama kali terlihat di sepanjang hutan primer Bukit Barisan pada tahun 1878, pada ketinggian 300 hingga 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sebanyak sembilan ekor burung yang berhasil diidentifikasi.

Tokhtor Sumatera mencari makan di lantai hutan

Semula, spesies Tokhtor Sumatera dianggap sama dengan Tokhtor Kalimantan. Dahulu, keduanya berada di bawah satu nama yang sama, yakni Tokhtor Sunda. Namun, setelah kajian lebih lanjut, dua spesies burung tersebut dipisahkan.

Penemuan lainnya juga terjadi pada 1916. Namun, setelah periode tersebut, tidak ada lagi berita temuan Tokhtor Sumatera yang mencuat. Burung ini seolah lenyap dari muka bumi, burung endemik Pulau Sumatra ini pun dianggap sudah punah.

Namun pada November 1997, keberadaan Tokhtor Sumatera teramati di sekitar Taman Nasional Bukit Barisan. Perjumpaan ini diabadikan dalam sebuah foto untuk membuktikan bahwa Tokhtor Sumatera masih ada dan belum punah.

Pada tahun 2006, keberadaan Tokhtor Sumatera kembali teramati di Taman Nasional Kerinci Seblat, dan baru pada Januari 2007, tim survei satwa liar dari Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP) menangkapnya hidup-hidup. Saat itu, burung Tokhtor Sumatera terjebak dalam perangkap ayam hutan.

Tokhtor Sumatera termasuk burung pemakan serangga

Sampai saat ini, populasi Tokhtor Sumatera diperkirakan tidak lebih dari 250 ekor, dengan luas persebaran 26.000 km2 di kawasan Pegunungan Barisan, Sumatera. Pada September 2017, tim dari Taman Nasional Kerinci Seblat dan Fauna & Flora International–Indonesia Programme tanpa sengaja menangkap kemunculan Tokhtor Sumatera dari kamera jebak yang mereka pasang.

Baca juga : Nuri Talaud, Burung Endemik Pulau-pulau di Utara Sulawesi yang Diambang Kepunahan

Dari foto yang diambil, terlihat burung langka tersebut sedang bersama kijang dan beruang madu. Peristiwa ini secara tidak langsung membuka harapan bagi peneliti untuk menelisik lebih jauh tentang satwa endemik Pulau Sumatera tersebut.

Tokhtor Sumatera mempunyai suara yang cukup keras

Tokhtor Sumatera sendiri tergolong kedalam 18 burung paling langka di Indonesia, bersama dengan Jalak Bali, Sikatan Aceh, dan Trulek Jawa. Situs Birdlife International mencatat, populasi Carpococcyx viridis dewasa di alam hanya ada sekitar 50–249 ekor saja.

Jumlah tersebut pun disebut akan terus menurun. Karena informasi terkait populasi dan jangkauannya yang minim, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mengklasifikasikan spesies ini sebagai “Kritis” (Critically Endangered). (Ramlee)

By Ramlee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *