Uwi (Dioscorea alata) merupakan salah satu tanaman umbi-umbian yang telah lama dikenal sebagai sumber pangan lokal di Indonesia. Uwi atau water yam adalah tanaman pangan umbi-umbian nomor empat dunia setelah kentang, ubikayu, dan ubi jalar sebagai umbi-umbian terpenting di dunia.

Tanaman uwi (Dioscorea alata) berasal dari kawasan Asia Tenggara dan wilayah tropis Asia, termasuk India, Cina, dan Indo-China. Persebarannya di bumi lebih luas dibanding tanaman ubi-ubian lainnya sehingga menyandang nama greater yam.

Tanaman umbi-umbian ini telah dibudidayakan secara luas di kawasan tropis dan subtropis, serta menjadi bahan pangan penting di berbagai budaya, terutama di Indonesia dan Pasifik. Tumbuhan ini menyumbang 10 persen produksi umbi di seluruh dunia, terutama di daerah tropis dan subtropis.

Tanaman uwi tumbuh merambat

Uwi telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan sumber karbohidrat oleh masyarakat Indonesia, terutama di daerah Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Jawa sebagai pengganti atau tambahan beras/sagu pada musim kemarau/paceklik.

Baca juga : Gadung, Tanaman yang Dapat Dijadikan Sumber Pangan Alternatif

Namun sayangnya semakin tahun, hanya tersisa generasi tua yang masih mampu mengenali tanaman uwi dan mengkonsumsinya. Bahkan saat ini keberadaan tanaman uwi telah jarang ditemukan dan hampir dilupakan masyarakat sehingga menjadi tanaman minor (terabaikan dan kurang termanfaatkan).

Bentuk daun tanaman uwi

Keengganan petani untuk menanam uwi disebabkan nilai ekonominya yang rendah dan belum tereksplorasi manfaat dari uwi. Sebenarnya uwi jadi salah satu sumber pangan lokal yang potensial untuk mendukung ketahanan pangan dan gaya hidup sehat.

Uwi juga dikenal dengan banyak nama, seperti ubi kelapa, ubi kenduduk, atau dalam bahasa Inggris sering disebut purple yam jika berdaging ungu. Nama yang beragam ini sering membuat orang salah mengira sebagai ubi jalar, padahal keduanya berbeda genus dan karakter.

Uwi termasuk tanaman perdu semusim yang tumbuh merambat dari famili Dioscoreaceae (ubi-ubian). Uwi tumbuh merambat dengan menyebar pada batang bambu atau pohon inang di sekitarnya. Batangnya berbentuk bulat atau agak bersudut, berpilin ke kanan atau kiri sesuai varietas. Permukaan batang biasanya halus dengan warna hijau hingga ungu kehijauan.

Daun bertangkai, tersusun berseling atau berhadapan, berbentuk hati (cordate) dengan ujung meruncing. Warna daun hijau tua dengan permukaan mengkilap, tulang daun tampak jelas. Tanaman uwi menghasilkan bunga kecil berwarna kehijauan kekuningan. Buah berbentuk kapsul, berisi biji bersayap tipis. Di budidaya rakyat, perbanyakan biasanya tidak mengandalkan biji, namun umbi atau bagian vegetatif.

Bunga tanaman uwi

Umbi merupakan bagian yang dikonsumsi. Bentuknya bervariasi: silindris, membulat, atau tidak beraturan. Kulit umbi kecokelatan hingga keabu-abuan, daging umbi putih, krem, ungu muda, atau ungu pekat tergantung varietas. Teksturnya lebih padat dibanding ubi jalar.

Baca juga : Gembili, Bahan Pangan Alternatif Pengganti Nasi Bagi Penderita Diabetes

Budidayanya paling sesuai di lingkungan iklim tropis dengan suhu 25-30 derajat Celcius, namun sudah berkembang pula di daerah subtropis. Umbi dipanen setelah umur tanaman 8-10 bulan. Tanaman uwi dapat tumbuh di berbagai jenis tanah bahkan di daerah pegunungan yang kering dan berkapur.

Uwi ungu

Tanaman uwi akan tumbuh besar jika ditambatkan pada pohon randu, lamtoro, ataupun pohon yang lainnya yang tidak memiliki akar serabut. Semakin tinggi rambatan atau panjatannya, umbi yang dihasilkan oleh uwi juga akan semakin besar. Hal ini karena akan semakin banyak cahaya matahari yang dapat diterima oleh uwi untuk melakukan proses fotosintesis.

Tanaman uwi diperbanyak dengan menggunakan tunas yang tumbuh pada kepala umbi. Penanaman dilakukan pada musim hujan dengan menanam langsung tunas pada lubang yang telah disediakan. Lubang tersebut kemudian ditutup dengan tanah yang sudah dicampur dengan seresah. Pupuk yang digunakan hanya pupuk kompos karena pupuk kandang dapat menyebabkan umbi uwi menjadi busuk.

Pemanenan dilakukan ketika tanaman sudah berumur minimal satu tahun. Akan tetapi, pemanenan yang dilakukan setiap tiga tahun sekali dapat membuat umbi uwi dapat mencapai berat hingga 50 kg. pada musim kemarau, tanaman akan mengalami dormansi dan akan tumbuh kembali ketika musim hujan datang atau pada saat kelembaban tanah mencukupi.

Bagian yang dimanfaatkan dari uwi adalah umbinya. Uwi dapat diolah dengan direbus, dikukus, atau dipanggang. Karena rasanya yang manis, uwi juga sering dijadikan keripik, kue, es krim, dan berbagai hidangan tradisional. Selain sebagai makanan pokok, uwi berpotensi sebagai bahan industri pangan seperti pembuatan pati karena sifat pastanya yang tahan suhu tinggi dan kondisi asam. Namun hingga saat ini, masih jarang tepung yang terbuat dari uwi.

Uwi putih

Secara tradisional uwi digunakan pula sebagai bahan obat pencahar, melawan cacing, perawatan demam, gonorea, lepra, tumor dan hemorrhoid. Belakangan, hasil-hasil penelitian ilmiah menemukan potensi uwi untuk pengendalian diabetes, penyakit-penyakit kardiovaskuler, kanker, meningkatkan jumlah koloni bakteri berguna dan menghambat pertumbuhan bakteri patogen dalam usus, dan menghambat proses oksidasi oleh lipopolisakarida. Selain itu getah umbi uwi dapat digunakan sebagai pestisida ramah lingkungan.

Baca juga : Garut, Tanaman yang Umbinya Bisa Digunakan sebagai Sumber Pangan Alternatif yang Menyehatkan

Rendahnya minat masyarakat dalam membudidayakan dan mengonsumsi uwi disebabkan karena kurangnya informasi mengenai nilai nutrisi dan potensi uwi sebagai bahan pangan alternatif. Padahal di Jepang, umbi uwi memiliki nilai ekonomi tinggi dan bahkan telah dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan mi, es krim, dan campuran pengental sup.

Uwi kukus

Uwi memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Dengan kandungan gizi yang melimpah, adaptabilitas yang tinggi, potensi pasar yang luas, uwi menjadi salah satu solusi dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan di masa depan. Upaya untuk menigkatkan budidaya, promosi konsumsi uwi perlu terus dilakukan agar tanaman ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang pesat.

Dukungan dari berbagai pihak tentu saja sangat diperlukan agar program diversifikasi tidak sekedar menjadi wacana saja dari tahun ke tahun. Sehingga bangsa Indonesia benar-benar menjadi bangsa yang mandiri pangan dengan tidak bergantung pada komoditas beras saja, namun dapat memanfaatkan sumber plasma nutfah lainnya. (Ramlee)

By Ramlee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *