Pengcab. PPPPSI Blitar resmi memiliki gantangan baru. Grand opening gantangan baru ditandai dengan gelaran kegiatan Lomba Seni Suara Alam Burung Puter bertajuk Temenggungan Cup, pada Sabtu 22 Agustus 2026. Gantangan baru ini berada di Pasar Wisata Desa Temenggungan Jl. Totok Kerot, Temenggungan, Kec. Udanawu, Kabupaten Blitar.

Kegiatan itu juga menandai babak baru Pengcab. PPPPSI Blitar yang kini dinahkodai oleh Pramono S.E. Kepengurusan baru ini langsung begerak cepat, dengan merencanakan dan sekaligus mengeksekusi dua agenda penting, yakni segera menyiapkan gantangan dan merealisasikan kegiatan lomba di Blitar.

Penghobi puter pelung dari berbagai daerah serius menikmati gelaran lomba PPPPSI Blitar

“Ini semua bermula waktu mengikuti lomba derkuku di Jogja. Terus ada keinginan untuk segera bisa mengadakan lomba puter pelung,” tutur Pramono S.E. yang juga selaku Kepala Desa Temenggungan. Pramono aktif mempromosikan dan mengembangkan Pasar Wisata Desa Temenggungan untuk meningkatkan ekonomi warganya.

Tidak tangung-tanggung Pramono menyiapkan dua agenda lomba di tempat yang sama, yakni lomba puter pelung dan derkuku irama (LDI). Sebelumnya di sana telah berdiri ratusan tiang kerekan untuk menggelar lomba derkuku. Pramono pun membangun sarana gantangan di area Pasar Wisata Desa Temenggungan.

Semua gantangan penuh terisi oleh peserta lomba

“Kami mengadakan lomba puter pelung biar pecinta puter peluang bergairah lagi terutama di wilayah sekitar Blitar dan bisa meningkatkan harga puter pelung. Dan saya rasa ada peluang beternak burung puter pelung ini bisa menjadi usaha. Alhamdulilah kegiatan ini didukung oleh teman-teman terutama Pak Sis, Juri dari Solo,” tambah Pramono.

Dengan dibukanya lapangan tersebut, maka Blitar menjadi salah satu daerah yang siap meramaikan kembali hobi puter pelung di wilayahnya. “Saya berharap dengan adanya gantangan ini akan memudahkan bagi kita untuk sermakin semangat dalam membagun hobi puter pelung dan menjadikan Blitar daerah yang lebih maju.”

Team Gerbong Maut Bondowoso

Lebih lanjut dikatakan bahwa gantangan baru ini dipersilahkan untuk dimanfaatkan oleh puter pelung mania di Blitar sebagai pusat atau sentra kegiatan. “Saya mempersilahkan penghobi puter pelung menjadikan gantangan ini sebagai sarana dan wadah untuk mengembangkan potensi diri sehingga kita bisa bersama-sama membangun hobi lebih berkembang.”

Gantangan baru ini pun menuai pujian dari penggemar puter pelung yang datang dari berbagai kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jogjakarta. Lokasi tempat gantang baru ini telah menjelma menjadi kompleks terpadu pusat olahraga dan hiburan yang lengkap. Sehingga segala sarana dan prasana yang dibutuhkan oleh penghobi pun telah tersedia.

Keberadaan gantangan ini sangat penting sekali. Karena yang paling terlihat di organisasi PPPPSI adalah lombanya. Dan Pengcab boleh dibilang hidup atau berkembang bila bidang lombanya aktif menggelar kegiatan, baik itu latihan dinilai maupun lomba resmi. Dengan adanya tempat yang representatif tersebut memudahkan bagi Pengcab Blitar dalam mengagendakan setiap kegiatannya.

Meski event Temenggungan Cukup dikemas sangat sederhana tapi terlihat cukup meriah dan guyub. Penghobi puter pelung dari berbagai daerah di Pulau Jawa ikut hadir memeriahkannya. Suasananya gantangan malam itu tampak begitu hidup, bahkan seperti suasana di gelaran lomba besar.

Suudi dan Agus Petir dari Nganjuk

Panitia hanya membuka dua kelas, yakni kelas Bebas dan Pemula dan luar biasanya semua slot gantangan yang disediakan habis terisi. Semua yang hadir menikmati alunan anggung puluhan burung puter pelung. Suasana malam yang dingin terasa hangat dengan keakraban para penghobi puter pelung dari beberapa daerah.

Kelas Pemula yang dinaikkan terlebih dahulu menyuguhkan persaingan yang ketat. Karena di kelas yang dibatasi penilaiannya hanya sampai bendera empat warna saja dengan nilai 43 ½ ini secara kualitas terbilang merata. Saling susul perolehan nilai terjadi begitu cepat.

Cak Hari dari Bogor dan rombongan dari Jogja turut berikan dukungan

Semua diimbangi dengan kinerja juri yang cekatan memberikan penilaian. Lokasi yang jauh dari hiruk pikuk jalan serta jalannya lomba pada malam hari membuat suara puter pelung sangat jelas terdengar, memudahkan para juri dalam memberikan penilaian terbaiknya.

Empat babak penjurian berlangsung tanpa kendala. Hingga akhirnya dihasilkan urutan kejuaraan, yang sebelumnya diwarnai kejadian diskualifikasi untuk burung yang ada di gantangan nomor 27. Di babak awal belum kelihatan kualitas anggungnya, namun semakin lama semakin terdengar anggung istimewanya.

Pramono S.E. berikan bendera koncer di kelas Bebas

“Sepertinya burung tersebut salah kamar (salah memilih kelas, red). Soalnya burung ini sepertinya tipe burung yang lambat panas,” jelas Sapto, salah seorang juri yang bertugas. “Burung itu, semakin lama semakin terdengar bagus dan amat stabil dibanding yang lain.”

“Apa lagi pembawaannya suara antar dan inter anggungnya terdengar mantap,” tambah Sapto. Jadi ketiga Koordinator Juri, akhirnya sepakat pada babak keempat untuk memberikan penilaian lima warna setelah sebelumnya bendera empat warnanya sudah diusulkan naik oleh juri penilai sejak di babak ketiga. Dengan mendapatkan bendera lima warna, secara tidak langsung gantangan 27 dinyatakan diskualifikasi.

Juara pertama kelas Pemula berhasil dimenangkan oleh Patriot ring BJ 098, puter pelung orbitan Buyoet Djoyo Blitar, yang digantang pada nomor 58. Kemudian Salindri ring Tape Manis 520 debutan H. Ichwanto Bondowoso yang berada di nomor gantangan 35 ada di tempat kedua. Dan posisi ketiga dimenangkan Jaksen orbitan JKM BF Blitar, produk ternak JKM 66 yang digantang pada nomor 22.

Persaingan tidak kalah seru terjadi di kelas Bebas, yang dipertandingkan setelahnya kelas Pemula usai. Babak pertama dibuka dengan tampilan apik burung yang ada di gantangan nomor 47, bendera enam warna didapatnya. Perolehan itu menjadi satu-satunya bendera enam warna yang turun malam itu.

Para juara di kelas Bebas

Persaingan merebut juara di event Temenggungan Cup, praktis hanya sampai pada babak ketiga, karena gantangan 47 kembali mendapatkan bendera enam warna. Namun tidak demikian dengan urutan juara di bawahnya, persaingan terus berlanjut hingga empat babak selesai. Hingga akhirnya dihasilkan urutan kejuaraan.

Sementara di kelas Bebas, podium juara pertama berhasil menjadi milik Everest, puter pelung amunisi B2W BF Jogjakarta. Burung bergelang B2W 516 yang digantang pada nomor 47 itu merebut podium juara pertama usai mendapatkan total nilai 88, tertinggi diantara para kontestan.

Juara-juara di kelas Pemula

Di tempat kedua ada Melodi andalan Arahiwang BF Purworejo, puter pelung bergelang Arahiwang 026 yang berada di gantangan nomor 9. Posisi ketiga diraih oleh Panji Laras milik Abah Yanto Lumajang, ternakan Lokananta 107 yang berada pada nomor gantangan 15. Penentuan juara kedua dan ketiga harus melalui meja juri perumus setelah mendapatkan total nilai yang sama.

Diakhir acara panitia mengucapkan terima kasih atas dukungan peserta yang kali ini tidak saja datang dari wilayah sekitaran Blitar seperti Tulungagung, kediri, serta Nganjuk. Hadir juga petur pelung mania dari Purworejo, Jogjakarta, Bondowoso, Lumajang, dan Situbondo. Permintaan ma’af juga disampaikan jika selama acara, ada hal-hal yang kurang berkenan.

Panitia Temenggungan Cup memanjakan peserta dengan aneka doorprize

“Semoga lomba Puter Pelung ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana silaturahmi, hiburan, dan mempererat persaudaraan antar pecinta burung,” harap Pramono. “Semoga kegiatan ini juga mampu mendorong pelestarian dan pengembangan seni suara Puter Pelung, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui kegiatan wisata, UMKM, dan pasar desa.”

“Kedepan, semoga lomba semacam ini dapat dilaksanakan secara rutin, semakin besar, dan semakin berkualitas. Dan menjadi daya tarik wisata serta ikon kegiatan masyarakat yang membanggakan.” tutur Pramono di akhir acara. (Ramlee/GD)

By Ramlee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *