Rendingan (Curculigo latifolia) merupakan tumbuhan khas hutan yang sangat populer di kawasan lahan basah Sungai Musi, Sumatera Selatan. Tanaman ini dikenal luas karena buahnya yang memiliki rasa manis dan unik. Bagi masyarakat lokal dan pemburu di hutan Sumatera, buah ini sering dimakan langsung untuk memulihkan stamina dan menghilangkan rasa haus selama perjalanan.

Tumbuhan ini termasuk dalam famili hypoxidaceae (dulu dikategorikan Amaryllidaceae) biasanya hidup liar di sekitar kebun warga atau di kiri-kanan jalan kecil menuju hutan. Genus Curculigo ini terdiri 20 spesies herba yang biasanya tersebar di wilayah tropis dan subtropis seperti India, Tiongkok, Asia Tenggara, dan Australia.

Tumbuhan bernama rendingan ini tersebar di Sumatera, Bangka, Lingga, Jawa, Kalimantan, hingga Papua. Rendingan terkenal dengan nama lokal “lemba”, sedangkan di Indonesia beberapa warga lokal menyebutnya marasi, keliangau, prakuwang, lumpa, doyo, dan kehoang.

Landskap lahan basah Sungai Musi

Sekilas, bentuk daun rendingan menyerupai bibit pohon kelapa atau anakan pohon salak. Tumbuh tegak sebagai semak dengan tinggi berkisar antara 60 hingga 150 cm (umumnya kurang dari 2 meter). Rendingan tumbuh subur di wilayah lahan basah, seperti daerah aliran lahan basah Sungai Musi serta tanah gambut.

Baca juga : Lobi-lobi, Buah Merah Kecil Asam yang Langka dengan Banyak Manfaat

Rendingan kerap dijumpai di kawasan hutan hujan tropis sekunder, lereng bukit, pinggiran hutan, hingga kawasan belukar. Tumbuhan ini sering tumbuh liar di kiri-kanan jalan kecil menuju hutan, di sekitar kebun warga (seperti kebun karet, kelapa sawit, atau kebun buah-buahan). Tanaman ini menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung (naungan separa atau teduh).

Kebun di sekitar Desa Tempirai di lahan basah Sungai Musi yang sering dijumpai tumbuhan rendingan

Tanaman ini biasanya tumbuh subur di bawah kanopi pohon lain. Rendingan membutuhkan lingkungan dengan kelembapan tinggi dan pasokan air yang melimpah (tanah lembap), namun dengan drainase atau saluran air yang baik. Rendingan mampu beradaptasi dengan baik di dataran rendah dekat sumber air hingga daerah lereng gunung dengan ketinggian mencapai 1.500 meter di atas permukaan laut (dpl).

Rendingan dikategorikan sebagai tumbuhan yang tidak memiliki batang sejati di atas permukaan tanah. Bagian yang berdiri tegak menyerupai batang di atas tanah terbentuk dari tangkai daun yang saling tumpang tindih secara rapat dan membungkus satu sama lain di bagian pangkalnya. Penumpukan tangkai daun ini memadat sehingga membentuk struktur batang yang tebal dan kokoh untuk menopang helaian daun yang lebar.

Batang asli tanaman rendingan berada di bawah permukaan tanah berupa rimpang (rizoma) yang berumbi atau berbonggol. Batang bawah tanah ini berbentuk bulat, tumbuh secara vertikal atau tegak, dan menjadi pusat pertumbuhan di mana akar serabut serta pelepah daun melekat. Dari rimpang di dalam tanah inilah tunas daun baru, stolon, serta tangkai bunga majemuk rendingan muncul dan menyembul ke atas permukaan tanah.

Akar rendingan merupakan bagian vital dari tanaman yang memiliki karakteristik morfologi khas tumbuhan monokotil. Rendingan memiliki sistem akar serabut yang tumbuh rapat dari bagian rimpang (bonggol batang bawah tanah). Di dekat sistem akarnya, terdapat rimpang (rhizome) tegak yang membulat dan membentuk struktur seperti umbi atau bonggol. Akar rendingan menghasilkan stolon atau umbi akar, yang berfungsi sebagai alat perbanyakan tanaman secara vegetatif alami di lantai hutan.

Tanaman Rendingan

Daun rendingan tumbuh langsung dari rimpang di dalam tanah. Berbentuk memanjang oval atau elips dengan ujung yang meruncing (acuminatus). Permukaan daunnya memiliki guratan bergaris-garis yang menonjol dan bergelombang, menyerupai lipatan-lipatan kecil (plicatus).

Baca juga : Buah Hala, Buah Pesisir Berbentuk Unik Kaya Oksidan dan Manfaat

Helai daun berukuran cukup besar, dengan panjang berkisar antara 30 hingga 100 cm dan lebar sekitar 5–10 cm. Memiliki tangkai daun (petiolus) yang panjang, kaku, dan kokoh. Panjang tangkai ini bisa mencapai sepertiga dari total panjang daun keseluruhan, dan bagian pangkalnya saling membungkus membentuk batang semu.

Bentuk daun rendingan menyerupai bibit pohon kelapa atau anakan pohon salak

Bunga rendingan (Curculigo latifolia) memiliki posisi dan struktur morfologi yang sangat unik. Berbeda dari kebanyakan tanaman hias atau herba yang bunganya mekar di ujung ranting tinggi, bunga rendingan justru tumbuh sangat dekat dengan permukaan tanah.

Bunga rendingan tumbuh langsung dari rimpang atau bonggol batang yang berada di bawah tanah. Karena itu, kumpulan bunganya tampak seperti menyembul dan mekar langsung di atas permukaan tanah di antara sela-sela pangkal pelepah daunnya. Bunga rendingan merupakan bunga majemuk berjenis bulir atau tandan yang tumbuh sangat kompak berbentuk oval atau silindris dengan panjang 1-6 cm.

Bagian daun pelindung (bractea) serta tangkai perbungaannya tertutup rapat oleh bulu-bulu halus yang berfungsi melindungi kuncup bunga dari kelembapan ekstrem dan serangga tanah. Kelopaknya berwarna kuning cerah yang kontras, sehingga sangat mudah terlihat mencolok di lantai hutan yang gelap atau teduh.

Setiap kuntum bunga berukuran kecil, memiliki 6 helai kelopak (mahkota) yang mekar melebar, serta dilengkapi dengan 6 buah benang sari. Setelah bunga mengalami penyerbukan (biasanya dibantu oleh serangga tanah atau kumbang kecil), kelopak bunga kuningnya akan gugur dan bertransformasi menjadi buah buni (berry) kecil berwarna putih bening. Buah inilah yang mengandung protein pemanis alami bernama curculin.

Bunga Rendingan

Buah rendingan merupakan bagian paling fenomenal dari tanaman ini. Keistimewaan utamanya terletak pada kemampuannya memanipulasi indra pengecap manusia, menjadikannya salah satu buah paling unik di hutan tropis Indonesia. Buahnya berupa buah buni (berry) kecil berbentuk bulat atau agak lonjong dengan diameter sekitar 5 milimeter hingga 1 sentimeter.

Baca juga : Kalangkala, Buah Hutan Langka Teman Bersantap Masyarakat Banjar

Saat masih muda berwarna hijau, namun ketika matang penuh akan berubah menjadi putih bening atau keputihan. Kulit buahnya cenderung tipis dan berbulu halus di bagian pangkalnya. Daging buahnya memiliki tekstur agak berserat. Di dalam daging buahnya terdapat banyak biji kecil berwarna hitam legam yang sekilas mirip dengan biji buah naga.

Buah Rendingan

Rasa manis luar biasa pada buah rendingan tidak berasal dari karbohidrat atau glukosa, melainkan dari senyawa protein khusus bernama curculin. Berdasarkan beratnya, protein curculin memiliki tingkat kemanisan 500 hingga 9.000 kali lipat lebih manis daripada sukrosa (gula tebu).

Zat curculin dapat memicu efek unik. Makanan atau minuman asam (seperti jeruk nipis atau lemon) yang dikonsumsi setelahnya akan mendadak terasa sangat manis di lidah. Air putih hangat maupun dingin yang diminum setelah memakan buah ini akan terasa manis segar seperti minum sirup gula, dan efek ini dapat bertahan di lidah selama beberapa puluh menit.

Buah Rendingan bisa langsung dinikmati

Buah rendingan kaya manfaat, senyawa aktif seperti curculin dan tingginya antioksidan (mencapai lebih dari 85% pada daging buah) membuat buah rendingan memiliki potensi medis yang besar. Karena manisnya berasal dari protein dan sangat rendah kalori, buah rendingan diteliti secara intensif untuk digunakan sebagai alternatif pengganti gula tebu bagi penderita diabetes dan obesitas. Secara turun-temurun, masyarakat adat mengonsumsi buah ini untuk membantu mengobati sakit batuk.

Di wilayah dengan tutupan hutan yang masih baik (seperti beberapa pedalaman Kalimantan dan Sumatera), populasi rendingan sebenarnya masih tergolong cukup aman dan mudah dijumpai tumbuh liar di bawah naungan pohon hutan. Walaupun belum masuk kategori terancam punah, tanaman ini mulai menghadapi tekanan ekologis yang serius di beberapa wilayah akibat alih fungsi hutan dan pemanfaatannya secara langsung tidak dibarengi dengan upaya budidaya. (Ramlee)

By Ramlee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *