Cucak Mutiara (Pycnonotus tympanistrigus) merupakan salah satu spesies burung penyanyi dalam keluarga merbah, Pycnonotidae, yang hanya bisa dijumpai di Sumatera. Sekilas penampilan cucak mutiara mirip dengan cucakrowo (Pycnonotus zeylanicus). Kedua burung memang memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat.


Kemiripan antara cucak mutiara dengan cucakrowo dimanfaatkan oleh pedagang nakal menawarkan burung ini kepada calon pembelinya dengan mengatakan jika burung cucak mutiara ini sebagai anakan cucakrowo. Dengan harga jual yang jauh lebih murah tentunya untuk ukuran burung cucakrowo.

Burung cucak mutiara merupakan satwa endemik hutan kaki bukit Sumatera (paling umum dijumpai berada di wilayah dengan ketinggian antara 600-900 meter) di Pegunungan Bukit Barisan Selatan sampai Gunung Kerinci, meski diduga juga tersebar sampai Gunung Dempu. Burung ini sangat mirip dengan cucakrowo namun dengan ukuran yang jauh lebih kecil.
Baca juga : Cucak Rowo, Burung dengan Kicauan Khas Bernilai Ekonomi Tinggi
Cucak mutiara berukuran sedang (16 cm.), tanpa jambul dengan penampakan umum bulu coklat-zaitun. Mahkota coklat-zaitun gelap. Tungging, sayap dan ekor kehijauan; kekang dan tenggorokan keputih-putihan. Kulit tanpa bulu di sekitar mata hitam, penutup telinga kuning. Tubuh bagian bawah terlihat berbintik coklat dan putih dengan garis-garis kuning-zaitun pada penutup ekor bagian bawah. Iris matanya berwarna coklat dengan paruh hitam. Kakinya berwarna coklat.

Postur tubuh antara cucak mutiara dengan cucakrowo memang berbeda, di mana cucakrowo jauh lebih besar (panjang tubuh 28 cm). Tetapi motif dan warna bulu di bagian dada, perut, dan sayap keduanya benar-benar mirip. Ketika pedagang nakal mengklaim sebagai anakan cucakrowo, kicaumania pemula tentu sulit membedakannya.

Namun ada beberapa tengara yang bisa dijadikan panduan untuk membedakan kedua burung ini. Bulu penutup di daerah telinga pada burung cucak mutiara, pasti terlihat berwarna kuning. Sedangkan pada cucakrowo berwarna seperti tekstur jerami.

Warna jerami juga dijumpai pada bagian atas kepala cucakrowo (karena itu disebut straw-headed bulbul). Sedangkan bagian atas kepala cucak mutiara berwarna cokelat-zaitun gelap. Soal kualitas suara, masih jauh dan tidak layak untuk dibandingkan dengan cucakrowo.
Baca juga : Cucak Rengganis, Burung Endemik Indonesia yang Menghuni Daerah Dataran Tinggi
Suara cucak mutiara biasa saja, bahkan sering membawakan lagu secara berulang alias monoton. Volumenya juga tidak begitu keras. Jauh berbeda dari cucakrowo, yang volumenya cenderung keras, dengan suara ngerol (ropel maupun engkel), dan sangat merdu.

Untuk burung cucak mutiara ini bunyi kicauannya memang hanya terdengar monoton dengan hanya bisa mengeluarkan suara dengan melantunkan satu atau dua jenis nada. Nada tersebut akan diulang secara terus menerus. Vokalisasinya lembut dan tidak mencolok.

Untuk suara yang dikeluarkan oleh jenis burung cucak ini terdengar seperti ini ‘tdip…diiw’ yang dilagukannya dengan nada tinggi dalam suara kicauan pertamanya. Kemudian untuk suara dari burung cucak mutiara ini pun sesungguhnya jika didengar tidaklah tinggi. Sebab, bernada tinggi hanya dibunyikan ketika di nada pertama saja. Dan setelah itu, untuk nada yang berikutnya tingkatan nada yang dibunyikan terdengar lebih rendah dan juga lebih pelan.

Burung cucak mutiara di habitat aslinya, seperti halnya keluarga cucak, adalah pemakan buah-buahan (frugivora) dan serangga kecil. Cucak mutiara sering terlihat terbang dari satu pohon ke pohon lain untuk mencari makanan. Pakan utama cucak mutiara di alam liar meliputi berbagai jenis buah-buahan dan serangga seperti belalang atau ulat.
Baca juga : Cica Matahari, Burung Endemik Jawa Barat yang Mirip Cendet Kini Semakin Langka
Berdasarkan data Bird Life International, wilayah persebaran burung cucak mutiara hanya terbatas di Pulau Sumatera, bahkan statusnya Near Threatened/NT (Hampir Terancam). Cucak mutiara jarang dipelihara oleh kicaumania, karena burung ini sangat jarang dijumpai di pasar-pasar burung.

Nampaknya ada korelasi antara menipisnya populasi burung ini dan penangkapan liar oleh para pemikat dengan tujuan mengelabuhi konsumen yang ingin membeli cucakrowo. Deforestasi untuk pembukaan lahan perkebunan sawit dan alihfungsi non-hutan lainnya juga menjadi faktor penyebab menipisnya populasi burung ini, sehingga perlu dijaga betul kelestariannya. (Ramlee)
