Owa merupakan primata kecil lincah tanpa ekor, dikenal karena gaya berayunnya yang akrobatik (brakiasi) di pepohonan. serta bergerak dengan kedua tungkai. Hewan satu ini memiliki bentuk tubuh yang kecil dan ramping yang sangat mirip dengan monyet.

Owa atau Ungka atau Wau-wau atau Wak-wak adalah primata yang termasuk dalam keluarga Hylobatidae. Keluarga Hylobatidae ini dibagi menjadi empat genus berdasarkan jumlah kromosom diploidnya: Hylobates (44), Hoolock (38), Nomascus (52), dan Symphalangus (50).
Owa adalah hewan endemik Asia Tenggara. Di Indonesia, habitat alami Owa tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Owa dalam bahasa Inggris disebut Gibbon. Ada sekitar 20 spesies Owa di dunia, 9 di antaranya hidup di Indonesia.

Sembilan jenis Owa yang ada di Indonesia adalah Owa Jawa (di Pulau Jawa). Lalu ada Owa Siamang, Owa Bilau, Owa Ungko, dan Owa Serudung di pulau Sumatera. Sedang di Pulau Kalimantan ada Owa Jenggot putih, Owa kalempiau utara, Owa kalawat, dan Owa kalempiau barat.
Baca juga : Siamang, Primata Hitam Berlengan Panjang yang Hobi Menggericau
Ukuran tubuh Owa relatif kecil, badannya terlihat kurus, serta ramping, gerakannya lincah. Owa mempunyai kepala bulat kecil, lengannya panjang, dan jari-jarinya panjang namun jempolnya relatif pendek. Pergelangan tangan owa juga dilengkapi dengan sendi peluru.

Tubuh Owa ditutupi oleh rambut yang tebal, halus, berwarna cokelat terang hingga cokelat gelap. Rambut Owa menutupi sebagian besar bagian tubuh, kecuali wajah, jari, telapak tangan, telapak kaki, dan ketiak. Rahang kecil ungka atau owa dilengkapi dengan gigi taring tajam. Owa betina umumnya lebih berat daripada ungka jantan.
Satwa bernama Owa ini dikategorikan sebagai hewan arboreal karena menghabiskan sebagian besar waktunya dengan berayun di pohon-pohon. Satwa unik ini banyak ditemukan hidup di hutan hujan tropis. Owa juga dikenal sebagai “penjaga hutan”.


Satwa Owa memainkan peran penting dalam penyebaran biji-bijian dan menjaga kelestarian hutan tropis di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Makanan favorit Owa berupa buah-buahan yang dikonsumsi selama perburuan di siang hari. Selain buah, Owa juga mengonsumsi tunas muda, daun, biji, kulit, dan bunga-bungaan. Telur dan serangga juga merupakan bagian dari makanan Owa.
Satwa ini memiliki lengan panjang yang memungkinkannya untuk berayun dari satu cabang ke cabang lain atau dari satu pohon ke pohon lain dengan mudah. Jari-jari Owa yang panjang dapat digunakan untuk memegang cabang pohon dengan sangat baik.

Gerakan ayunan lengannya ini disebut brachiation, Owa mampu berayun sejauh 15 meter di atas pohon dengan kecepatan sekitar 35 mil per jam. Di antara mamalia yang bertempat tinggal di pohon dan tidak bisa terbang, Owa adalah yang paling cepat dan lincah.
Baca juga : Yaki, Monyet Hitam Berjambul Endemik Sulawesi
Selain berayun, primata ini juga terkenal karena gerakan kedua tungkainya (bipedal). Owa berjalan dengan kedua tungkai yang dibantu lengannya untuk menjaga keseimbangan. Owa akan menumpukan berat badannya di tangan dan kemudian mengayunkan kakinya. Karena tidak bisa berenang, biasanya Owa memilih untuk menghindari air.

Berbeda dengan kera yang lebih besar seperti Gorila, Owa tidak membangun sarang sendiri. Satwa ini memiliki ischial callosities, bantalan berdaging tanpa saraf yang melekat pada tulang pinggul yang memungkinkannya untuk tidur dalam posisi duduk.
Owa sering ditemukan tidur dengan posisi duduk di percabangan pohon dengan kepala terselip di pangkuan dan lengan panjangnya memeluk lututnya. Sekelompok Owa biasanya tidur pada pohon yang sama selama beberapa waktu tertentu. Owa termasuk primata diurnal, yakni aktif di siang hari dan sekitar sepuluh setengah jam dalam sehari.

Satwa ini merupakan satwa teritorial, Owa memiliki nyanyian (suara) khas di pagi dan sore hari. Owa juga memiliki suara nyaring yang bisa terdengar hingga 1 kilometer, suara yang biasanya digunakan untuk berkomunikasi satu sama lain dan menandai wilayah teritorialnya. Nyanyian ini juga berfungsi sebagai penanda wilayahnya jika ada serangan dari kelompok Owa lain.
Habitat Owa berada di hutan yang masih asri untuk bergelantungan, mencari makan, dan bersosialisasi. Owa termasuk satwa arboreal menghabiskan waktunya di pepohonan untuk melakukan aktivitasnya. Owa biasanya tinggal berkelompok yang terdiri dari Owa Jantan dan betina dengan 1 atau 2 anak yang masih belum dewasa.

Keberadaan Owa juga dianggap sebagai indikator kualitas hutan. Kehadiran satwa ini di suatu kawasan hutan menunjukkan bahwa ekosistem tersebut masih sehat dan lestari. Dengan perilaku Owa yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan hewan lain.
Baca juga : Kukang, Primata yang Bergerak Lambat Kian Terancam Punah
Hilangnya keberadaan Owa tentu akan mengganggu keseimbangan ekosistem hutan. Ketika masih ada Owa, itu berarti hutan yang ditinggalinya masih lestari. Sayangnya, populasi spesies Owa di Indonesia kian berkurang. Hal ini disebabkan oleh ulah manusia yang kurang memperhatikan ekosistem hutan.

Ancaman dan konflik yang terjadi pada Owa adalah penyusutan habitat dan alih fungsi hutan menjadi ancaman serius keberadaan Owa di Indonesia. Spesies ini telah masuk dalam daftar hewan yang terancam punah karena perdagangan satwa secara ilegal, serta perburuan liar untuk dijadikan satwa peliharaan.
Menurut Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), Owa dikategorikan sebagai satwa dengan status Endangered (Terancam Punah). Status ini menunjukkan, spesies ini menghadapi risiko tinggi mengalami kepunahan di alam liar jika tidak ada upaya konservasi yang serius. (Ramlee)
