Ikan Red Devil (Amphilophus labiatus) merupakan jenis ikan hias air tawar agresif asal Amerika Tengah. Secara spesifik, ikan setan merah adalah spesies endemik yang berasak dari perairan Nikaragua, seperti Danau Nikaragua, Danau Managua, dan Danau Xiloa. Ikan ini jadi spesies invasif berbahaya di Indonesia, terutama Danau Toba dan Sermo.



Genus yang dimiliki oleh red devil ini sama dengan ikan lou han, yakni Amphilophus, sehingga kedua ikan tersebut masih memiliki hubungan kekerabatan. Ikan ini lebih sering ditemukan di perairan air tawar berupa danau daripada di sungai.
Ikan pemangsa ini lebih senang untuk berada di dasar pasir halus yang memiliki banyak tempat persembunyian di antara batu maupun kayu. Umumnya, ikan ini dapat ditemukan di sela-sela bebatuan maupun batang kayu yang terendam.

Ikan ini memiliki penampilan yang unik. Sebab, Red Devil memiliki bibir yang lebih tebal dibandingkan dengan jenis ikan yang lainnya. Warna kulit Red Devil cenderung lebih merah dan terang. Ikan ini mencapai kematangan seksual pada usia 3 tahun. Spesies ini dapat tumbuh hingga 38 cm dan berat yang mencapai 1,2 kg.
Baca juga : Louhan, Ikan Unik yang Dipercaya Pembawa Keberuntungan
Ikan red devil jantan dan betina sendiri, tidak terlalu ada perbedaan yang mencolok. Hanya saja red devil jantan umumnya memiliki ukuran yang lebih besar. Yang jantan juga mempunyai benjolan di kepala yang lebih tampak ketika musim kawin dan papila genital yang meruncing.

Ikan red devil mempunyai warna cantik yang mencolok, sirip runcing, serta bibir tebal yang menjadikannya populer sebagai ikan hias di Indonesia. Meskipun memiliki nama setan merah, warna tubuh dari ikan yang mampu hidup hingga 10–12 tahun ini ternyata tidak hanya merah.
Red Devil memiliki variasi warna yang unik dan sangat luas, mulai dari abu-abu ke hijau, putih ke merah muda, dan lain sebagainya. Adapun beberapa ikan Red Devil yang memiliki bintik-bintik hitam di ekor atau siripnya. Bibir ikan Red Devil ini pun lebih tebal dan biasanya berwarna oranye atau kehitaman.


Secara umum, ukuran ikan Red Devil bisa mencapai 15 inci alias 38 cm saat dewasa dan ini jelas lebih besar dibandingkan ikan air tawar pada umumnya. Red Devil cukup gemuk dengan berat yang bisa mencapai 1,2 kg. Dilengkapi sirip yang runcing untuk membantu mereka memberikan kecepatan dan kelincahan di dalam air.
Di Indonesia, ikan Red Devil awalnya masuk sebagai ikan hias yang dijual dengan harga yang mahal. Didatangkan dari Malaysia dan Singapura sekitar tahun 1990-an, sampai akhirnya berhasil dikembangbiakkan di aquarium-aquarium lokal.

Ironisnya sejak beberapa dekade terakhir ikan ini muncul di sejumlah waduk danau di Indonesia, salah satunya Danau Toba. Perkembangannya cukup cepat hingga menjadi masalah ekologis yang serius, seperti penurunan populasi ikan-ikan lokal.
Baca juga : Ikan Oscar, Ikan Hias Air Tawar Ganas yang Rupawan
Keberadaan ikan ini umumnya dilakukan secara tidak sengaja melalui benih ikan yang dilepas di keramba jaring apung sebagai ikan budidaya, namun ada juga yang dilakukan dengan cara sengaja oleh para penggemar ikan hias yang melepas ikan ini ke perairan.

Selain di Danau toba, ikan Red devil juga tersebar di beberapa kawasan perairan seperti di Waduk Jatiluhur, Cirata, Saguling, Darma, Wadas Lintang, Kedung Ombo, Sermo, Danau Batur dan Danau Sentani. Namanya pun di tiap daerah memiliki penyebutan yang berbeda-beda, diantaranya ikan Oskar, Setan Merah, Lohan Merah dan Nonong.
Penamaan red devil bukan karena warna tubuh dari ikan ini yang merah cerah, melainkan karena perilaku agresif yang dimilikinya. Tak jarang si setan merah mengejar ikan-ikan lain untuk sekadar “olahraga”, menggigit, dan bahkan membunuhnya.

Dikarenakan perilaku red devil yang ganas tersebut, penghobi ikan hias lebih kerap menempatkan si setan merah ke tempat yang terpisah dari spesies lain. Meski demikian, bahkan dengan jenis yang sama pun ikan bertaring tajam ini tetap menunjukkan sifat agresif, kecuali dengan pasangannya.
ikan ini sangat agresif dan gigih dalam mempertahankan wilayahnya. Ikan ini cenderung akan menguasai dan mendominasi perairan, makanya ikan ini tidak cocok dipelihara dengan ikan lain, karena bisa membuat ikan yang lain mati, kecuali dicampur dengan ikan yang juga berukuran besar.

Saking agresifnya, di beberapa kasus Ikan Red Devil dapat menggali substrat, memindahkan dekorasi, dan merusak aquascape karena sifat alaminya yang aktif mengacak-acak lingkungan sekitar. Saat bereproduksi, ikan ini akan sangat protektif terhadap telur dan anakannya. Tidak hanya agresif terhadap ikan lain, Red Devil juga dikenal gemar menghancurkan apa pun yang bisa mereka masukkan ke dalam gigi.
Baca juga : Ikan Lemon, si Kuning Galak dari Afrika yang Mudah Dipelihara
Walaupun sebagai ikan hias sangat populer, tapi di beberapa negara ikan ini malah dilarang, karena bias memunculkan masalah ekologi ketika masuk ke dalam perairan umum. Daya adaptasinya yang cepat merupakan keunggulannya, ketika dilepas ke alam ikan ini akan langsung mendominasi ekosistem dan memangsa ikan-ikan lokal.

Sifat agresif dan kemampuannya berkembang biak dengan baik menjadikannya salah satu spesies berpotensi invasif yang dapat mengganggu keseimbangan populasi ikan asli. Pemerintah RI pun sudah merilis peraturan yang melarang persebaran ikan red devil di Indonesia.
Larangan tersebut diatur melalui Peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020 tentang Larangan Pemasukan, Pembudidayaan, Peredaran dan Pengeluaran Jenis Ikan Yang Membahayakan dan atau Merugikan Dalam dan Dari Perairan Negara Republik Indonesia. Kini, berbagai upaya dilakukan untuk mengendalikan populasi ikan red devil di Danau Toba. (Ramlee)
