Agenda kegiatan hobi derkuku di Sukoharjo terasa semakin padat, kenyataan ini tidak menyurutkan semangat dekoe mania di Sukoharjo untuk tetap menggelar event. Kali ini Komunitas dekoe mania didukung Pengcab PPDSI Sukoharjo menggelar kegiatan Latberan Kolaborasi DMS & PEDES pada Minggu, 12 April 2026, di Lapangan Sukoharjo Kel. Kwarasan Grogol Kab. Sukoharjo.


Latberan ini membuka dua kelas yakni kelas Bebas dan Pemula. Antusias dekoe mania untuk mengikuti kegiatan ini masih cukup tinggi. Meski dalam kondisi jadwal dan agenda yang cukup padat, namun tidak mengurangi semangat peserta untuk ikut meramaikan kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah hari ini kehadiran Latberan Kolaborasi DMS & PEDES, masih tetap semarak. Peserta lebih banyak yang hadir dan memenuhi gantangan,” terang Jatmiko, salah satu panitia. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada dekoe mania pemula untuk bisa tetap menyalurkan hobi derkukutnya.

Selama ini kegiatan Latberan Kolaborasi DMS & PEDES selain memberikan kesempatan pada penggila lomba untuk menampilkan gaco-gaconya juga memfokuskan diri untuk memberikan sarana dan wadah bagi pemula yang ingin tetap menyalurkan hobi derkuku.
Salah satunya dengan menerapkan batas maksimal penilaian untuk pemula sampai bendera empat warna. Aturan baru yang menyebutkan jika batas maksimal nilai untuk kelas Pemula jadi lima warna dan kelas Yunior jadi enam warna yang sebelumnya lima warna.

Aturan baru ini membuat banyak pemain pemula maupun dekoe mania yang merasa gaconya hanya sampai empat warna saja mengurungkan niatnya untuk melombakan burung gacoannya tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu dekoe mania. “Kalau saya, terus terang sudah kalah sebelum bertanding.”
“Bagaimana tidak, kita ini hanya pemula namun lawannya burung-burung kelas kakap. Punyanya baru burung dengan empat warna saja. Daripada jadi pelengkap penderita mending gak datang sekalian. Kalau bisa penilaian di kelas Pemula kembali ke empat warna biar derkuku ramai kembali. Banyak yang mundur kalau Pemula tidak empat warna.”

Melihat animo Dekoemania yang hadir begitu luar biasa, H. Nur Ali Sasongko selaku Ketua PPDSI Sukoharjo, mengaku sangat senang. Pasalnya, dua blok kerekan yang disiapkan, yaitu 1 blok (28 tiang) untuk kelas bebas dan 1 blok (30 tiang) untuk kelas pemula dipenuhi peserta.
“Alhamdulillah dan terima kasih atas dukungan, partisipasi serta kehadiran teman-teman dekoe mania di Sukoharjo dan Solo Raya. Sehingga acara latberan ini, bisa terlaksana dengan baik sesuai rencana dan sukses,” tutur H. Nur Ali Sasongko, yang juga sebagai pemilik Nasa BF.


“Kegiatan ini dimaksudkan agar teman-teman disini bisa tahu bagaimana perkembangan burung miliknya, sehingga ada catatan khusus apakah bisa dan layak untuk diikutkan lomba yang lebih besar atau tidak,” sambung Jatmiko.
Lapangan Sukoharjo selama ini aktif digelar acara, tidak kurang dua kali dalam sebulan. Lokasi menjadi tempat yang dipilih untuk setiap kegiatan, karena lapangan ini milik Pengcab Sukoharjo sendiri, selain itu Pengcab Surakarta juga ikut bergabung karena kendala lapangan.

Meskipun kapasitas kerekan yang tersedia belum cukup memadai, namun pengurus Sukoharjo dan Surakarta bertekad untuk terus dapat menambah jumlah tiang kerekan. Paling tidak sesuai dengan jumlah tiang kerekan perblok yang telah ditetapkan oleh PPDSI, organisasi yang menaungi para penghobi derkuku ini.
Harapan dan motivasi para pengurus bersama komunitas derkuku yang ada hobi ini bisa ramai dan berkembang dengan adanya lapangan ini. Sekaligus bisa menunjukkan, kalau lomba derkuku yang digelar selama ini benar-benar fair play.

Untuk itu sebelum lomba dimulai, semua juri selalu diingatkan untuk bekerja sesuai pakem. Yakni penilaian berdasarkan kualitas suara (gaya irama, dasar suara, suara tengah, suara ujung, dan suara depan) dan fakta kerja burung tersebut saat berada di atas tiang kerekan.
“Kalau memang burung ini bagus, ya dinilai sesuai kualitas dan kestabilan kerjanya mulai awal sampai akhir tanpa melihat burung itu milik siapa. Dan jangan memaksakan memberi nilai bagus pada burung yang tidak layak, karena itu akan menimbulkan masalah,” tambah H. Nur Ali Sasongko.

Cuaca cerah dengan angin sepoi-sepoi mewarnai acara dari pertama hingga akhir. Pada malam harinya di lokasi turun hujan menjadikan lapangan sedikit berair. Tetapi kondisi itu tidak menghalangi kinerja juri dalam memberikan penilaian terbaiknya. Dan apa yang disampaikan H. Nur Ali Sasongko kepada semua juri, rupanya betul-betul dijalankan.
Buktinya, sejak peluit babak pertama dimulai sampai babak terakhir (full 4 babak), penilaian berjalan mulus dan fair play tanpa ada kendala apapun. Juri-juri yang bertugas juga terlihat merasa nyaman, tidak perlu ada rasa kekwatiran lagi.

Meski persaingan antar jago di setiap babaknya terlihat begitu ramai dan ketat. Namun juri tetap fokus untuk memperhatikan satu persatu, mana jago yang betul-betul punya kualitas suara bagus sesuai pakem dan kerja stabil selama empat babak penilaian. Jelas burung itulah yang dinilai layak oleh tim juri untuk mendapat nilai tertinggi.
Peserta sepakat untuk menerima apapun keputusan juri sebagai bentuk kepercayaan. Untuk podium pertama di kelas Bebas berhasil menjadi milik Kanjeng Mami amunisi Daud Toni Solo, produk Sword 65 yang dikerek pada nomor 48. Kanjeng Mami juara setelah mendapat bendera lima warna empat kali.

Sedangkan podium kedua berhasil direbut oleh Kasantuko ring B2W 3467 milik Wawan Soba. Sebetulnya burung bergelang B2W 3467 yang ada di tiang 51 ini punya nilai total yang sama dengan Kanjeng Mami. Namun dikreteria pakem penilaian (nilai aduan), Kasantuko kalah di gaya irama. Tempat ketiga dimenangkan Victory orbitan Eko LMS, produk ternak LMS 618 yang dikerek pada nomor 43.
Selanjut di kelas pemula yang juga tak kalah ramai, seru, dan ketat persaingannya. Ada 7 burung yang mempunyai total nilai sama yakni mendapatkan bendera empat warna. Namun posisi tiga besar, berhasil direbut oleh tiga jago yang memang dinilai punya kualitas suara bagus dan nilai tertinggi di empat babak penilaian.

Posisi pertama di kelas Pemula, berhasil diboyong oleh Tentara Langit jago bergelang Dorrick 67 yang diusung oleh H. Nur Ali dari Sukoharjo. Tentara Langit merupakan amunisi baru yang dipunyai H. Nur Ali, setelah memboyongnya dari tempat Andang. Begitu digantang langsung gacor dor dengan suara yang melengking.
Kualitas anggung Tentara Langit membuat juri-juri yang bertugas terpana. “Rasanya baru kali ini mendengar kualitas anggung yang demikian,” ungkap Siswo, seorang juri yang paling titen pada suara burung-burung peserta. Tentu saja dengan prestasi itu membuat H. Nur Ali sangat puas dengan gaco barunya tersebut.

Posisi kedua, berhasil direbut oleh Sangkakala ring Dorrick 028 milik Dorrick BF Sukoharjo. Sedangkan juara ketiga sukses diraih oleh Ndoro Putri ring Sadewa milik Sarno dari Sukoharjo. Diakhir acara, panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mendukung dan hadir dalam kegiatan tersebut. Permintaan ma’af disampaikan jika selama acara, ada hal-hal yang kurang berkenan. (Ramlee/Jat)

