Bidara (Ziziphus mauritiana) adalah sejenis pohon yang dipercaya mampu mengusir makhluk halus. Tanaman ini tumbuh rimbun menyerupai bentuk payung yang tumbuh di lingkungan kering. Pohon bidara termasuk golongan tumbuhan berkayu meski ukuran batang kayunya relatif kecil, sehingga nampak seperti kelompok tanaman perdu.

Bidara diperkirakan berasal dari Asia Tengah. Kemudian menyebar secara alami ke wilayah yang luas lebih luas, mulai dari Aljazair, Tunisia, Libia, Mesir, Afganistan, Pakistan, India utara, Nepal, Bangladesh, Tiongkok Selatan, Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaya, dan Indonesia.

Menyebar juga hingga ke Australia. Kini bidara telah ditanam di banyak negara di Afrika dan juga di Madagaskar. Namun, yang mengembangkannya secara komersial hanyalah India, Tiongkok, dan sedikit di Thailand.

Tanaman ini dikenal dengan sebutan Chinese Apple, Indian Plum, dan Jujube. Penamaan tersebut berdasarkan habitat pohon bidara yang berasal dari kawasan Asia. Wilayah Indonesia juga cocok untuk pertumbuhan bidara. Masyarakat Jawa dan Sunda menyebutnya sebagai widara, di Bali dikenal dengan nama bekul, dan oleh masyarakat Sumba disebut kalangga.

Pohon bidara mampu tumbuh hingga setinggi 15 meter

Tanaman ini tumbuh baik di wilayah yang memiliki musim kering. Kualitas buahnya paling baik jika tumbuh pada lingkungan yang panas, kaya cahaya matahari, dan cukup kering. Namun, bidara mesti mengalami musim hujan yang memadai untuk menumbuhkan ranting, daun, dan bunga, serta untuk mempertahankan kelembapan tanah selama mematangkan buah.

Bidara berkembang luas pada wilayah dengan curah hujan 300–500 mm per tahun. Untuk keperluan komersial, pohon bidara dapat dikembangkan hingga ketinggian 1.000 m dpl. Pohon ini tahan cuaca kering dan dengan curah hujan tinggi. Serta tumbuh di berbagai jenis tanah. Bidara kerap tumbuh liar di lahan-lahan yang kurang terurus dan di tepi jalan.

Baca juga : Jamblang, Buah Mirip Anggur yang Mulai Langka yang Banyak Manfaatnya

Pohon bidara dapat dikelompokkan ke dalam tanaman perdu atau semak. Hal ini bisa dilihat dari kesatuan daun dan bunganya yang membentuk tajuk seperti payung rindang. Batang pohon bidara berukuran kecil namun berkayu, tumbuh tegak, dan bisa tumbuh hingga ketinggian 15 meter dengan diameter batang maksimal 40 cm.

Batangnya ditutupi kulit berwana antara abu-abu gelap hingga hitam dengan tekstur pecah-pecah secara tidak beraturan. Batang bidara juga beruas dan mempunyai duri kemerahan yang cukup tajam pada setiap ruasnya. Percabangannya tumbuh secara menyebar ke berbagai bagian batang dan menjuntai ke bawah. Sedangkan ranting-rantingnya juga tumbuh tidak beraturan dan mempunyai bulu-bulu halus.

Daun bidara, yang muda bisa dibuat sayur

Daun-daun penumpu berupa duri, sendirian, dan lurus (5–7 mm), atau berbentuk pasangan dimorfis, di mana yang kedua lebih pendek dan melengkung, kadang-kadang tanpa duri. Daun-daun tunggal terletak berseling.

Berbentuk bundar telur menjorong atau jorong lonjong berukuran 2–9 cm x 1.5–5 cm. Tepinya rata, gundul mengkilap di sisi atas, dan rapat berambut kempa keputihan di sisi bawahnya. Tiga tulang daun utamanya tampak jelas membujur sejajar dengan tangkai pendek 8–15 mm.

Daun-daun mudanya dapat dijadikan sayuran. Daunnya yang tua untuk pakan ternak. Rebusan daunnya diminum sebagai jamu. Daun-daun ini membusa seperti sabun jika diremas dengan air dan digunakan untuk memandikan orang yang sakit demam.

Daun bidara juga dipercaya memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan, seperti menjaga kesehatan jantung, mempercepat penyembuhan luka, menurunkan kolesterol, memperbaiki sistem pencernaan, menurunkan risiko diabetes, mengatasi wasir, mengatasi jerawat, antibakteri, menurunkan berat badan, hingga merawat rambut.

Sebagai tanaman yang optimal hidup di kawasan kering dengan curah hujan standar, pohon bidara mempunyai cara untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Satu diantaranya adalah dengan menggugurkan daun ketika masuk musim kemarau atau cuaca panas.

Bunga bidara berwarna putih hingga kekuningan dengan bentuk menyerupai bintang. Kelompok bunga ini termasuk bunga tunggal yang tumbuh di bagian ketiak daun dengan jumlah dua atau tiga kuntum. Ukuran diameter bunga bidara sangat kecil, yaitu sekitar dua sampai tiga mm dan mempunyai aroma yang harum.

Bunga bidara

Jumlah kelopak bunga pada setiap kuntum adalah lima helai dan tergolong sebagai bunga dengan sifat Protandrous. Sifat ini menunjukkan bahwa benang sari terlebih dahulu memasuki tahap kematangan daripada putiknya. Maka dari itu proses penyerbukan pohon bidara sangat bergantung pada bantuan serangga.

Pohon bidara menghasilkan buah yang bentuknya seperti tomat. Pada saat masih muda buah ini berwarna hijau muda dan akan berubah menjadi oranye hingga merah ketika sudah masak. Rasa daging buah pohon bidara cukup manis dengan warna daging buah putih dan mengandung banyak air.

Baca juga : Buah Murbei, Si Hitam Manis yang Kaya Manfaat

Buah bidara yang telah masak justru tidak akan terlalu manis karena tekstur daging buahnya akan lebih bertepung. Begitu pula jika buah sudah terlalu masak, maka dagingnya akan berubah menjadi agak kekuningan, kenyal tetapi lembut, dan mengeluarkan aroma khas yang menyengat.

Ukuran buah bidara rata-rata panjangnya 6 cm dan lebar 4 cm. Namun ukuran ini berlaku untuk buah dari pohon bidara yang melalui proses budidaya. Sedangkan buah bidara dari pohon yang tumbuh secara liar umumnya berukuran lebih kecil. Akan tetapi tekstur kulit keduanya tetap halus dan mengkilat.

Buah bidara yang telah matang

Buah bidara kultivar unggul diperjualbelikan sebagai buah segar, untuk dimakan langsung atau dijadikan es buah. Di beberapa tempat, buah ini juga dikeringkan, dijadikan manisan, atau disetup. Buah muda dimakan dengan garam atau dirujak.

Di Jawa, kulit kayu bidara digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan. Di Malaysia, kulit kayu yang dihaluskan dipakai sebagai obat sakit perut. Kulit kayu bidara diyakini memiliki khasiat sebagai tonikum, meski tidak terlalu kuat, dan dianjurkan untuk penyakit lambung dan usus.

Kayunya berwarna kemerahan, bertekstur halus, keras, dan tahan lama. Kayu ini dijadikan barang bubutan, perkakas rumah tangga, dan peralatan lain. Di Bali, kayu bidara dimanfaatkan untuk gagang kapak, pisau, pahat, dan perkakas tukang kayu lainnya.

Kayu kerasnya mempunyai warna bervariasi dari kuning kecokelatan, merah pucat, cokelat, hingga cokelat gelap. Kayu ini dapat dikeringkan dengan baik, tetapi kadang-kadang sedikit pecah. Kayu bidara juga cocok digunakan untuk konstruksi, furnitur dan almari, peti pengemas, venir, dan kayu lapis.

Bidara menghasilkan kayu bakar yang berkualitas baik. Nilai kalorinya adalah 4.900 kkal/kg. Kayu ini juga baik dijadikan arang. Ranting-rantingnya yang menjuntai mudah dipangkas dan dipanen sebagai kayu bakar.

Kini telah banyak yang menyediakan bibit bidara

Kulit kayu dan buah bidara juga menghasilkan bahan pewarna alami. Bahan-bahan ini menghasilkan tanin dan pewarna cokelat kemerahan atau keabuan dalam air. Di India, pohon bidara juga digunakan dalam pemeliharaan kutu lak. Ranting-rantingnya yang terbungkus kotoran kutu lak itu dipanen untuk menghasilkan sirlak (shellac).

Baca juga : Mengenal Srikaya Buah Surga yang Banyak Khasiat Sekaligus Beracun

Pohon bidara biasa dikembangbiakkan melalui biji ataupun penyambungan. Biji bidara terletak di dalam daging buahnya dan berukuran variatif tergantung ukuran buah. Biji tersebut harus direndam terlebih dahulu jika ingin disemaikan untuk menghasilkan kecambah.

Teh daun bidara, minuman herbal yang bisa redakan demam

Sedangkan untuk teknik penyambungan atau okulasi adalah proses perkembangbiakan vegetatif yang diterapkan pada batang bawah pohon bidara. Anakan yang tumbuh hasil dari penyambungan biasanya memiliki duri yang lebih sedikit, tetapi jumlah biji di dalam buahnya lebih banyak.

Bidara memiliki kedudukan khusus di dalam agama Islam. Pohon ini disebutkan di beberapa surat dalam Al-Qur’an. Pohon ini juga terdapat anjuran penggunaannya di dalam hadits Nabi Muhammad. Dia digunakan dalam berbagai prosesi ibadah, misalnya daunnya disunnahkan untuk digunakan ketika mandi wajib bagi wanita yang baru suci daripada haid. Daun bidara juga kadangkala dipergunakan dalam proses Ruqyah untuk mengobati orang yang kesurupan. (Ramlee)

By Ramlee

One thought on “Bidara, Tanaman Istimewa yang Disebutkan dalam Al-Qur’an”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *