Pisang Tongka Langit (Musa troglodytarum) merupakan tanaman endemik Indonesia Timur, khususnya Maluku dan Papua. Berbeda dari jenis pisang pada umumnya yang tandannya menggantung ke bawah, tongkat langit tandannya justru tumbuh menjulang ke atas (langit). Itulah mengapa pisang jenis ini dinamakan pisang tongka langit.

Pisang tongkat langit tumbuh dan mudah dijumpai di Pulau Kapotar, sebuah pulau kecil di Teluk Cenderawasih, Distrik Kepulauan Moora, Kabupaten Nabire, Papua. Data terbaru menunjukan bahwa pisang tongkat langit juga ditemukan di Fakfak, Papua Barat. Hal ini berdasarkan buah pisang tongkat langit yang dijual secara sistem barter di Pasar Mambuni Buni, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak.

Pisang ini diketahui tersebar di Pulau Seram, Ambon, Saparua, Haruku, Nusa Laut, dan Buru Selatan. Juga tumbuh di Papua dan Papua Barat. Banyak dijumpai juga di Kabupaten Nabire (Pulau Kapotar, Kepulauan Moora) dan Fakfak. Bahkan tersebar hingga wilayah Pasifik lainnya seperti Polinesia Prancis, Fiji, dan Kepulauan Solomon.

Tandan pisang tongka langit menjulang ke atas

Pisang Tongka Langit tumbuh subur di wilayah tropis dataran rendah hingga menengah (sekitar 10 hingga 600 meter di atas permukaan laut). Pisang Tongka Langit menyukai media tanah yang gembur, kaya bahan organik, serta memiliki drainase atau sirkulasi air yang baik dengan pH tanah berkisar antara 4,5 hingga 7,5.

Baca juga : Pisang, Buah yang Paling Banyak Dikonsumsi Manusia

Tanaman endemik ini menyukai lingkungan yang hangat, lembap, dan area terbuka. Perbanyakan tanaman ini umumnya tidak dilakukan melalui biji melainkan secara vegetatif menggunakan anakan (tunas) agar sifat genetik indukannya dapat dipertahankan.

Pisang tongka langit yang masih muda

Akar tanaman pisang tongka langit (Musa troglodytarum L.) berjenis serabut dan tergolong sebagai akar adventif yang lunak. Sebagian besar perakarannya menyebar di dalam tanah dengan kedalaman mencapai 75–150 cm, sementara akar samping tumbuh mendatar hingga sejauh 4–5 cm dari bagian umbi batang.

Batang semu tanaman pisang tongka langit tumbuh tegak lurus dengan tinggi rata-rata 3,5 hingga 7 meter. Keunikan fisiknya terletak pada getah batangnya yang berwarna kemerahan hingga ungu tua, serta pelepah daun yang sering kali menampakkan corak kemerahan. Daun tanaman pisang tongka langit memiliki permukaan yang licin dan mengkilat dengan warna hijau tua

Sebagaimana jenis pisang pada umumnya, helai daunnya berbentuk lanset memanjang serta termasuk ke dalam kategori daun lengkap yang tersusun atas pelepah (upih), tangkai daun, dan helaian daun. Daunnya yang lebar sering dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai atap darurat atau pembungkus makanan.

Buah pisang tongka langit memiliki keunikan arah tandan yang tegak lurus mengarah ke atas (menjulang ke langit) tidak menggantung. Satu tandan buahnya bisa mencapai berat 60 kg atau setara dengan berat seorang dewasa. Berukuran panjang 21 – 25 cm, tiga kali lebih besar dari pisang biasa.

Pisang tongka langit yang telah matang

Bentuk buah pisang tongka langit cenderung lurus, tidak terlalu melengkung seperti pisang pada umumnya dengan ujung tumpul. Buah pisang tongka langit saat muda/mentah berwarna hijau, namun pada beberapa subspesies atau fase menjelang tua bisa menampilkan warna pink (merah muda) cerah yang mencolok. Apabila telah masak, kulit buah pisang berwarna merah kecokelatan.

Baca juga : Pisang Vidak, Pisang Unik yang Memiliki Cerita Sejarah dan Nilai Spiritual Tinggi

Daging buah pisang tongka langit (spesies Musa troglodytarum) bercorak kuning hingga jingga/oranye terang karena kandungan betakaroten yang sangat tinggi. Buahnya memiliki banyak biji berukuran kecil di dalamnya. Teksturnya empuk dan pulen seperti ubi atau terasa seperti mentega, dengan cita rasa yang cenderung tidak terlalu manis, agak sepat, atau asam jika dimakan langsung.

Buah pisang tongka langit panggang

Masyarakat setempat mengolah buah pisang tongka klangit dengan dipanggang di atas bara api. Kuliner unik dari Kampung Mambor, Distrik Kepulauan Moora, Nabire yaitu pisang tongkat langit bakar. Olahan pisang tongkat langit ini dikenal secara turun temurun. Oleh masyarakat Mambor, pisang tongkat langit bakar dijadikan sebagai bekal ketika berkebun.

Pisang tongkat langit bakar biasa disajikan dan dimakan langsung dengan kelapa tua mentah, tanpa diparut. Rasa pisang yang tidak terlalu manis bermentega lembut berpadu dengan gurihnya kelapa tua menjadikan sensasi rasa yang khas. Kadar betakaroten pada pisang tongkat langit yang dibakar ternyata lebih tinggi daripada pisang tongkat langit yang direbus.

Pisang tongka langit memiliki profil nutrisi yang mengesankan berdasarkan berbagai penelitian ilmiah. Buah ini mengandung vitamin A dalam bentuk beta-karoten mencapai 2.100 IU per 100 gram bahan segar. Jumlah ini setara dengan 42% dari kebutuhan harian vitamin A orang dewasa, menjadikannya salah satu sumber vitamin A alami terkaya di antara buah-buahan tropis.

Kandungan mineral dalam pisang ini juga sangat mengagumkan. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Food Composition and Analysis (Wemay et al., 2021) menunjukkan bahwa Pisang tongka Langit mengandung kalium sebesar 450 mg/100g dan magnesium 38 mg/100g. Kadar ini lebih tinggi dibandingkan pisang kultivar komersial seperti Cavendish yang hanya mengandung sekitar 360 mg kalium/100g.

Daging pisng tongka langit jauh lebih lembut dibanding pisang pada umumnya

Dari segi serat pangan, studi komparatif oleh Pusat Penelitian Biologi LIPI menemukan bahwa Pisang tongka Langit mengandung 3.8g serat/100g, lebih tinggi daripada pisang biasa (Musa acuminata) yang hanya mengandung 2.6g/100g. Kandungan serat yang tinggi ini berkontribusi pada kesehatan pencernaan dan pengaturan gula darah.

Baca juga : Pepaya, Buah Kaya Nutrisi yang Bermanfaat untuk Kesehatan Tubuh

Yang tak kalah penting adalah kandungan antioksidannya. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa aktivitas ORAC (Oxygen Radical Absorbance Capacity) Pisang tongka Langit mencapai 8.200 μmol TE/100g, jauh lebih tinggi dibanding pisang biasa (4.500 μmol TE/100g). Senyawa fenolik dan flavonoid yang bertanggung jawab atas aktivitas antioksidan ini berpotensi sebagai senyawa antikanker dan anti-penuaan.

Pisang Tongkat Langit di pasar Fakfak, Papua Barat

Sayangnya, keberadaan pisang raksasa ini semakin terancam. Pembalakan liar dan perubahan fungsi hutan telah mengurangi populasinya hingga 30% dalam 10 tahun terakhir. Beberapa upaya konservasi telah dilakukan, termasuk oleh Kebun Raya Biologi Wamena, tetapi masih dibutuhkan perhatian lebih dari berbagai pihak.

Pisang tongka langit bukan hanya warisan alam Papua, tapi juga potensi besar bagi ilmu pengetahuan dan ketahanan pangan Indonesia. Perlindungan habitat alaminya harus menjadi prioritas, sambil terus mengembangkan penelitian tentang berbagai manfaat yang mungkin belum terungkap dari tanaman luar biasa ini. (Ramlee)

By Ramlee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *