Burung Punai (Treron) atau merpati hijau merupakan jenis burung pemakan buah dari keluarga merpati-merpadian (Columbidae). Walau fisiknya seperti merpati, tetapi burung ini bukan keturunan langsung dari burung merpati. Burung punai umumnya berbulu warna hijau.

Punai termasuk burung arboreal yang beraktivitas di atas pohon. Genus ini total ada 23 spesies burung punai di dunia, 13 di antaranya tersebar di Indonesia. Persebaran burung punai di dunia terdapat dari daerah tropik sampai daerah bersuhu dingin (kecuali daerah Antarktika dan Artik).

Burung mendiami berbagai tipe habitat, termasuk hutan dataran rendah, hutan dataran tinggi, hutan musim, sempadan sungai, savanna, padang pasir, karang atol, mangrove, hutan rawa, areal pertanian, pedesaan dan perkotaan, dari ketinggian 0 m-5.000 m di atas permukaan laut.

Punai Gading (Treron vernans)

Burung punai memiliki bentuk tubuh yang padat gemuk dengan paruh pendek dan kuat untuk memakan buah-buahan dan biji-bijian. Aktivitas makan burung punai lebih banyak dilakukan secara berkelompok dengan mendatangi pohon yang sedang berbuah.

Baca juga : Merpati, Burung Simbol Perdamaian ini Dapat Dijumpai di Seluruh Dunia

Selain makanan utama tersebut, burung punai juga memakan juga memakan serangga, kerang-kerangan, cacing, daun, pucuk daun serta bunga-bungaan. Aktivitas ini dimulai pada saat matahari terbit atau sekitar pkl. 5.30 dan kembali ke tempat pohon untuk tidur pada pkl. 16.00-17.00.

Punai Tanah (Chalcophaps indica)

Namun waktu ini tergantung jarak sumber pohon pakan dari tempat tidur burung punai dan keadaan cuaca. Pakan utama burung punai adalah biji-bijian yang berasal dari rerumputan di tanah dan buah-buahan yang berasal dari pohon-pohonan.

Pada beberapa habitat, perkembangbiakan jenis burung punai dipengaruhi oleh ketersedian sumber makanannya. Perkembangbiakan burung punai diawali dengan menetapkan daerah teritori, pemilihan pasangan, membangun sarang, menjaga dan mengerami telur serta membesarkan anaknya.

Apabila telah mendapatkan pasangan, burung punai akan memisahkan diri dari kelompoknya untuk selanjutnya membangun sarang. Burung punai umumnya mulai memasuki usia dewasa dan siap berkembang biak saat berumur sekitar 1 tahun. Siklus reproduksinya sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pakan seperti buah-buahan.

Musim Kawin terjadi pada bulan-bulan tertentu, seperti Januari dan September (di Sumatera) atau Juni (di Jawa). Burung punai bersifat monogami, burung punai biasanya membentuk ikatan dengan satu pasangan selama musim kawin, dan beberapa spesies bahkan berpasangan dalam jangka waktu yang lama.

Punai Bakau (Treron fulvicollis)

Burung punai jantan menarik pasangannya melalui kombinasi pertunjukan visual dan vokal yang khas. Pejantan biasanya akan menggembungkan bulu leher, membungkukkan tubuh, dan mengeluarkan suara dekutan (kicauan merayu) sambil mengitari betina untuk memamerkan warna bulunya yang cerah.

Baca juga : Punai Gading, Merpati Cantik Kaya Warna Pemakan Buah

Sarang burung punai berbentuk persegi empat mendatar, terbuat dari ranting yang disusun tumpang tindih satu sama lain. Sarang dibangun oleh burung punai jantan pada pohon yang rendah atau di semak-semak pada ketinggian 3–4 m dari permukaan tanah.

Punai Lengguak (Treron curvirostra)

Telur burung punai berwarna putih dan hanya satu sampai dua butir dalam satu sarang yang dierami oleh burung betina dan jantan secara bergantian selama 15-20 hari. Anakan menetas dengan mata tertutup dan tubuh botak tanpa bulu, hanya ditandai dengan bulu kapas halus (down feathers).

Pada tahap ini, kedua induk akan bergantian memproduksi dan menyuapi “susu tembolok” (crop milk), yaitu cairan kaya nutrisi yang dihasilkan di tenggorokan induk.Anakan sangat rentan terhadap perubahan suhu dan membutuhkan kehangatan penuh dari induknya.

Pada umur 7 hari, mata anakan burung punai mulai terbuka secara perlahan. Bulu-bulu jarum (tunas bulu) mulai tumbuh lebat di seluruh tubuh, menggantikan bulu kapas bawaan lahir. Induk mulai menyapih anakan dengan makanan yang dimuntahkan secara perlahan, yakni buah-buahan yang sudah dilumatkan.

Setelah berumur 16 hari, bulu tumbuh dengan sempurna. Anakan sudah menyerupai burung punai dewasa, namun dengan ukuran yang sedikit lebih kecil. Anakan punai mulai berlatih mengepakkan sayap dan belajar keluar dari sarang untuk melompat ke dahan terdekat. Pada usia 21-28 hari, anakan mulai belajar mematuk buah-buahan lembut sendiri dan frekuensi disuapi oleh induknya berkurang.

Punai Kecil (Treron olax)

Burung punai dikenal sebagai salah satu jenis burung yang cukup populer di kalangan penghobi alam dan pemburu tradisional. Ciri khasnya terlihat dari warna bulu yang cenderung hijau dengan semburat warna lain di bagian leher atau dada. Suaranya yang lembut dan kebiasaannya hidup berkelompok membuat punai mudah dikenali saat berada di pepohonan tinggi.

Baca juga : Delimukan Zamrud, Burung Cantik Penghuni Lantai Hutan

Status konservasi burung punai bervariasi tergantung pada spesiesnya. Berdasarkan IUCN Red List, sebagian besar punai berstatus Risiko Rendah (Least Concern), tetapi beberapa spesies endemik berstatus Rentan (Vulnerable) hingga Terancam.

Punai Besar (Treron capellei)

Meski begitu, para pegiat lingkungan mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Perburuan yang tidak terkendali dapat berdampak pada populasi burung di alam liar. Karena itu, edukasi mengenai aturan, musim berburu, serta perlindungan satwa menjadi hal yang terus disuarakan berbagai pihak agar kelestarian burung tetap terjaga.

Kini, selain dikenal sebagai target buruan tradisional di beberapa daerah, burung punai juga banyak dinikmati keberadaannya oleh para pengamat burung dan pecinta fotografi alam. Keindahan warna dan perilakunya yang unik menjadikan punai bukan hanya bagian dari tradisi, tetapi juga kekayaan hayati yang patut dilestarikan bersama. (Ramlee)

By Ramlee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *