Kuau-kerdil Kalimantan (Polyplectron schleiermacheri) merupakan burung endemik Pulau Kalimantan yang sangat langka dan berkerabat dengan burung merak. Burung kuau-kerdil paling kurang dikenal diantara semua burung merak-pegar. Keindahan bulunya menjadikannya salah satu permata tersembunyi di lantai hutan Borneo.

Species kuau-kerdil kalimantan pertama kali diamati dan dideskripsikan secara ilmiah pada tahun 1877 oleh seorang zoolog bernama Friedrich Brüggemann di wilayah Kalimantan Tengah. Ciri khas kuau kerdil ada pada bulu ekor dan sayap yang dihiasi motif ocelli atau pola “mata” berkilau yang tampak memantulkan cahaya saat terkena sinar. Pola motif ocelli itulah yang membuat burung unik endemik tesebut sering dianggap sebagai versi kecil dari burung merak.

Kuau-kerdil Malaya (Polyplectron malacense)

Kuau kerdil Kalimantan memiliki tubuh ramping dengan panjang sekitar 65–70 cm. Ciri burung ini adanya motif bintik-bintik pada tubuhnya. Bintik pada burung jantan berwarna hijau, sedangkan pada betina berwarna biru. Bagian pipi dan tenggorokan berwarna kuning pucat, kontras dengan bulu lainnya.

Baca juga : Merak, Burung dengan Warna Bulu Paling Memukau di Dunia

Bagian iris berwarna kuning, paruh kehijauan gelap, kulit muka gundul dan merah, kaki serta tungkai berwarna hitam, untuk burung jantan dengan dua taji. Kuau-kerdil jantan memiliki ciri jambul hijau metalik, dada hijau keunguan mengkilap pada bagian tenggorokan dan bercak dada berwarna putih. Adapun burung betina warnanya lebih suram dan lebih biru. Iris berwarna cokelat dan tidak memiliki taji di kakinya.

Kuau-kerdil Palawan (Polyplectron napoleonis)

Habitat utamanya di hutan hujan dataran rendah primer yang masih rapat dan hutan perbukitan (lowland dipterocarp forest). Kuau-kerdil Kalimantan lebih menyukai area yang lebih kering dan punggung bukit (ridges), serta menghindari kawasan rawa yang sangat lembap. Umumnya ditemukan di kisaran 100 hingga 500 meter di atas permukaan laut (mdpl), hingga di ketinggian 1.100 mdpl.

Kuau-kerdil Kalimantan tersebar terutama di wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur (seperti kawasan Sungai Wain, Balikpapan), serta Sabah, Malaysia. Populasi utamanya terfragmentasi dan terkonsentrasi di wilayah Kalimantan Tengah. Kuau-kerdil Kalimantan masih berkerabat dengan Kuau-kerdil Malaya dan Kuau-kerdil Palawan. Beberapa ilmuwan menganggap jenis ini merupakan subspesies dari Kuau-kerdil Malaya (Polyplectron malacense).

Kuau-kerdil Kalimantan termasuk satwa omnivora. Burung ini suka bertengger di pohon, namun berjalan diam-diam pada lantai hutan sepanjang siang untuk mencari makanan berupa buah-buahan, biji, dan serangga. Keberadaannya disatu wilayah sangat bergantung pada ketersediaan pakan alami di lantai hutan.

Pergerakannya di alam sering kali bersifat musiman mengikuti ketersediaan buah dan serangga di sekitarnya. Spesies burung ini membantu mengendalikan populasi serangga dan menyebarkan biji tanaman melalui kotoran mereka. Kehadiran mereka di hutan hujan merupakan indikator kesehatan lingkungan yang baik.

Kuau-kerdil Kalimantan betina

Selain memiliki bulu yang estetik dan menarik secara visual, burung ini juga memiliki suara yang merdu di hutan Kalimantan. Kuau-kerdil Kalimantan dikenal dengan suaranya yang unik dan merdu. Jantan mengeluarkan suara nyanyian yang rumit untuk menarik pasangan dan guna untuk mempertahankan wilayah mereka. Suaranya yang khas ini dapat didengar dari kejauhan di hutan hujan Kalimantan.

Baca juga : Burung Kuau Raja, si Raksasa Bermata Seratus yang Terancam Punah

Burung ini memiliki tingkah atau perilaku yang sangat unik. Saat musim kawin, jantan Kuau-kerdil Kalimantan menampilkan tarian kawin yang menakjubkan. Kuau kerdil Kalimantan jantan akan melebarkan ekor dan sayapnya yang berwarna-warni, dan melompat-lompat di depan betina sambil mengeluarkan suara nyanyiannya.

Kuau-kerdil Kalimantan lebih sering terlihat berjalan di lantai hutan

Tarian ini merupakan cara untuk memikat betina dan menunjukkan kebugaran. Musim kawin Kuau kerdil Kalimantan diperkirakan berlangsung antara akhir Oktober hingga pertengahan Maret. Kuau kerdil Kalimantan diduga poligami, di mana jantan membersihkan area tertentu di hutan untuk memamerkan bulu ekornya yang indah dan memikat beberapa betina.

Kuau-kerdil betina umumnya bertelur di atas tanah atau batang kayu busuk tanpa membuat sarang khusus. Dalam satu periode bertelur (klutch), mereka hanya menghasilkan 1 hingga 2 butir. Telur dierami oleh betina selama sekitar 20 hingga 23 hari.

Anak burung Kuau-kerdil Kalimantan terlahir sebagai satwa prekosial (precocial), yang berarti yang berarti begitu menetas dalam kondisi mata terbuka, sudah memiliki bulu bawah, dan memiliki kemampuan fisik untuk mandiri sejak dini. Namun, karena spesies ini sangat langka dan pemalu, proses kemandirian anak burung ini di alam liar memiliki karakteristik yang sangat unik.

Sebagai burung tanah (terrestrial), begitu menetas dan bulunya mengering, anak kuau sudah bisa berjalan mengikuti induknya untuk mencari makan di lantai hutan. Di bawah bimbingan induknya, anak burung belajar mandiri mencari makanan yang kaya protein seperti semut, serangga kecil, dan buah-buahan jatuh di dasar hutan.

Tarian Kuau-kerdil Kalimantan jantan untuk memikat pasangannya

Sejak kecil, anak burung ini sudah mewarisi sifat soliter dan sangat pemalu induknya. Anak burung Kuau-kerdil Kalimantan sangat pandai bersembunyi di balik serasah daun kering atau tanaman bawah hutan untuk menghindari predator. Burung ini memiliki sifat pemalu sehingga sangat sulit berkembang biak di luar habitat alaminya.

Baca juga : Sempidan, Burung Eksotis Penghuni Hutan Sumatera dan Kalimantan yang Terancam Punah

Burung Kuau-kerdil Kalimantan jarang terlihat oleh manusia, bahkan lebih sering berlari bersembunyi di balik vegetasi daripada terbang. Karena perilakunya yang sangat tertutup tersebut, mmebuat kehidupan burung kuau kerdil Kalimantan masih relatif sedikit dipahami oleh para peneliti.

Induk Kuau-kerdil Kalimantan bersama anaknya

Burung eksotis yang menjadi maskot Provinsi Kalimantan Tengah ini saat ini berstatus Terancam Punah (Endangered) dalam Daftar Merah IUCN. Angka reproduksinya yang sangat rendah (hanya membesarkan satu anak sekali musim) membuat populasinya sulit pulih apabila habitat hutan dataran rendah tempat mereka bernaung terus rusak akibat pembalakan atau kebakaran hutan.

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991, burung ini sepenuhnya dilindungi di Indonesia. Praktik penangkaran komersial untuk spesies ini tidak umum dilakukan karena risikonya yang justru dapat meningkatkan perburuan liar dan menekan populasi alaminya di hutan hujan dataran rendah. Upaya pelestarian saat ini lebih difokuskan pada perlindungan habitat asli (insitu) melalui kawasan konservasi serta pemantauan populasi oleh lembaga pegiat lingkungan. (Ramlee)

By Ramlee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *