Merpati merupakan salah satu jenis burung yang keberadaannya tidak jauh dari lingkungan manusia. Dalam istilah sehari-hari, burung merpati seringkali juga disebut burung dara. Yang disebut burung merpati adalah semua burung yang masuk ke dalam famili Columbidae. Merpati telah dikenal sejak kerajaan Mesir, tepatnya sejak abad ke-20 sebelum Masehi.




Merpati merupakan burung dengan kemampuan luar biasa. Burung ini dapat menemukan jalan pulang sekalipun dilepas dari lokasi yang jauh dengan kondisi mata tertutup. Hal ini dikarenakan merpati memiliki kemampuan navigasi melalui medan magnet bumi, posisi matahari, suara, atau bau sebagai pembimbing arah tujuannya.
Di Indonesia, merpati dipelihara sebagai hewan pekarangan yang sekaligus menjadi bagian dari kegiatan sosial masyarakat. Mereka yang memiliki merpati, melatih burung yang dimiliki untuk menghilangkan kepenatan dari aktivitas sehari-hari. Kegiatan itu akhirnya memicu keinginan untuk membandingkan kemampuan burung merpati yang ada di masyarakat, lalu berubah menjadi kompetisi.

Bukti sejarah menunjukkan bahwa hobi melombakan burung merpati telah ada di Surabaya sejak zaman penjajahan Belanda. Mulanya berupa hiburan saat panen. Perlombaan dilakukan secara sederhana di sekitar area persawahan saat musim panen padi. Lomba ini biasanya digelar bergilir antar kelompok tani dengan hadiah berupa jajanan tradisional.
Baca juga : Merpati, Burung Simbol Perdamaian ini Dapat Dijumpai di Seluruh Dunia
Tradisi ini kemudian berkembang menjadi ajang kompetisi modern dan kini telah ada beberapa jenis permainan merpati yang bisa ditemukan. Beberapa permainan merpati yang populer yaitu merpati balap, merpati tinggi ( tomprang, kolong), merpati pos, dan merpati kentong. Walaupun semuanya sama diadu kecepatan terbangnya tetapi ada perbedaan peraturan diantara permainan merpati tersebut.

Merpati Balap adalah permainan merpati yang mengadu kecepatan terbang merpati secara lurus dengan jarak lepasan mulai dari jarak pendek 300-500, jarak sedang 500-700, jarak jauh 700-1200 Meter. Kegiatan ini cocok dilakukan diarea yang luas dan biasanya area sawah, pinggir pantai, atau lapangan udara.
Jarak lepasan dan geberan biasanya saling berhadapan lurus, atau masih saling bisa melihat antara joki geber dan pelepas. Merpati balap sprint ini ibarat lari sprint pada pada cabang olahraga. Peraturan sederhananya burung yang lebih dahulu sampai nempel ke betina/ditangkap joki dialah yang menang (tidak jatuh atau jeblos).


Merpati Kolong termasuk kedalam jenis merpati tinggi, yaitu burung merpati yang diadu terbangnya di ketinggian baik kecepatan maupun manuver terbangnya. Pada merpati kolong terdapat tiang yang terdapat tali yang berbentuk persegi diatasnya. Ketika merpati datang sebisa mungkin harus melalui tengah dari persegi tersebut atau disebut kolong.
Ada dua jenis lomba merpati kolong, yakni kolong bebas dan kolong meja. Untuk merpati kolong meja disediakan meja didepan joki geber tempat burung mendarat nantinya. Sedangkan kolong bebas tidak terdapat meja, melainkan langsung dasar tanah. Peraturan sederhananya burung yang terlebih dahulu sampai menyentuh dasar atau tanah (kolong bebas) atau meja (kolong meja) dan berhasil melewati tali kolong diatas dialah yang menang.

Merpati Tomprang termasuk kedalam jenis merpati tinggi. Perbedaanya dengan merpati kolong yaitu jarak lepasang dan patek tempat gebernya. Pada merati tomprang tidak terdapat tiang atau tali, melainkan hanya area geber untuk mendarat burung (seperti merpati balap hanya lebih luas areanya).
Baca juga : Mambruk, Burung Dara Endemik Papua Bermahkota Indah
Jarak lepasan juga cukup jauh lebih dari 2 km atau sekitar 4 hingga 7 km jauhnya, tergantung situasi dan kondisi saat pelaksanaan. Peraturan sederhananya siapa yang lebih dahulu sampai patek (tanah) dialah yang menang. Ini ibarat burung balap tapi dengan jarak lepasan yang cukup jauh.

Merpati Pos, lomba ini berasal dari luar negeri. Dimana burung dilepaskan di jarak yang cukup jauh ratusan sampai ribuan km dan biasanya dilakukan berkelompok. Merpati yang digunakan juga berbeda dengan merpati tinggi atau balap, melainkan merpati pos yang postur tubuh lebih besar, homing (hafal rumah) lebih kuat, juga stamina yang baik.
Singkatnya burung dilepas pada jarak tertentu dan siapa yang waktu tempuhnya lebih kecil dialah yang menang. Terdapat perhitungan jarak, waktu, dan kecepatan berdasarkan koordinat lepasan dan kandang masing-masing. Merpati pos tidak digeber, melainkan mengandalkan kemampuan homing atau insting pulang ke rumahnya. Merpati ini mampu terbang berhari-hari untuk sampai ke rumah. Tentunya dengan istirahat, makan, minum di alam.

Merpati Kentong, lomba ini mirip dengan merpati pos hanya saja menggunakan jenis merpati biasa seperti merpati kolong atau balap dan jarak mencapai puluhan km. Burung ini juga dilombakan secara berkelompok. Singkatnya burung yang sampai rumah terlebih dahulu dialah yang menang.
Sesaat setelah burung sampai di rumahnya maka pemilik memukul kentongan dari bambu atau kayu yang menandakan burung telah sampai kandang. Permainan ini biasanya dimainkan dengan rumah yang berdekatan agar bisa saling melihat dan jarak lepasan yang sama.

Berbagai kelompok hobi dan perkumpulan mulai menerapkan standar mengenai jarak terbang, waktu pelepasan, sistem penilaian kecepatan, hingga format pertandingan berjenjang. Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antaranggota komunitas.
Baca juga : Burung Punai, Kerabat Merpati dengan Warna Bulu Mempesona
Kemajuan teknologi dokumentasi seperti fotografi, rekaman video, dan media sosial turut memperluas penyebaran informasi tentang perlombaan serta teknik pelatihan merpati balap. Kajian ilmiah mengenai homing pigeon juga memperkuat pemahaman tentang kemampuan orientasi burung yang menjadi dasar pelatihan dalam kompetisi modern.

Kini, balap merpati telah berevolusi menjadi olahraga rakyat yang melibatkan jaringan komunitas luas, ekonomi perdagangan burung unggulan, serta pertukaran pengetahuan tentang pelatihan dan genetika merpati. Kompetisi masih rutin berlangsung di berbagai daerah, menunjukkan bahwa tradisi ini tetap menjadi bagian penting dari kebudayaan lokal yang dinamis.
Dalam perkembangannya, sejumlah organisasi daerah dan nasional turut berperan dalam standarisasi perlombaan balap merpati. Salah satu yang paling dikenal adalah Persatuan Penggemar Merpati Balap Indonesia (PPMBI), yang sejak tahun 1990-an aktif mengadakan kejuaraan resmi di berbagai provinsi. PPMBI juga berperan dalam pembinaan atlet, pelatih, serta penyusunan peraturan lomba agar pelaksanaannya lebih tertib dan profesional. (Ramlee)
