Zebra Finch (Taeniopygia guttata) merupakan salah satu jenis finch yang cukup digemari di Indonesia. Sudah banyak kicau mania di Indonesia yang menangkarkannya. Spesies ini merupakan salah satu jenis finch yang paling populer di seluruh dunia, selain burung kenari.

Zebra finch memiliki wilayah persebaran cukup terbatas di Pulau Timor dan Australia. Namun sudah cukup lama burung ini dikembangbiakkan di luar habitat aslinya, termasuk ke Eropa, Amerika Serikat, hingga Puerto Rico. Tidak mengherankan jika pipit zebra termasuk burung paling populer di kawasan tersebut.

Mengacu pada spesies aslinya (tanpa upaya kawin silang), ada dua subspesies/ras zebra finch, yaitu Taeniopygia guttata guttata, atau populer dengan sebutan Zebra Timor. Ras ini banyak ditemukan di Pulau Lombok dan kawasan Sunda Kecil lainnya. Zebra Australia (Taeniopygia guttata castanotis), yang mendiami seluruh wilayah di Australia.

Zebra Finch di habitat alaminya

Perbedaan mendasar dari kedua ras ini adalah postur tubuhnya, di mana zebra timor lebih kecil daripada ras di Australia. Zebra finch mengalami perubahan warna yang jelas selama hidupnya, terutama pada paruh dan bulunya. Perubahan warna pada burung zebra finch terjadi secara alami seiring bertambahnya usia, perbedaan jenis kelamin (jantan dan betina), atau karena mutasi genetik yang menghasilkan pola bulu yang unik.

Baca juga : Zebra Finch, Burung Berpostur Kecil Lincah dengan Warna Bulu Memukau Bermotif Mirip Zebra

Anak burung zebra finch mengalami perubahan warna yang sangat mencolok saat tumbuh dewasa. Saat menetas, anakan burung ini memiliki bulu abu-abu polos dan paruh berwarna hitam pekat. Memasuki umur 1 bulan, warna hitam pada paruh mulai memudar dan berubah menjadi jingga. Usia 3 bulan (dewasa), paruh berubah menjadi warna merah jingga terang.

Sepasang Zebra Finch di penangkaran

Warna bulu dewasa muncul dengan pola yang tegas. Zebra finch dewasa memiliki perbedaan warna bulu yang jelas antara jantan dan betina. Yang jantan memiliki pipi berwarna jingga, garis-garis hitam di bagian dada (seperti kalung), dan bercak cokelat dengan bintik putih di bagian sayap. Untuk betina, tubuhnya cenderung berwarna abu-abu polos tanpa garis hitam di dada dan tanpa warna oranye di pipi.

Perubahan warna ini terjadi karena perubahan hormon menuju masa kawin. Warna paruh dan bulu yang cerah pada jantan berfungsi untuk menarik perhatian betina saat musim kawin. Sebagaimana kenari, zebra finch memiliki banyak varietas hasil mutasi genetik melalui perkawinan silang (cross breeding). Mutasi ini sering terjadi di penangkaran. Contohnya mutasi Penguin (menghilangkan warna gelap), Dada Hitam (bercak dada besar), dan mutasi warna Putih.

Normal Grey, adalah warna alami dari burung zebra finch. Disebut warna alami karena warna ini yg mendominasi warna zebra finch di alam aslinya. seperti juga josan (hijau standart) pada Lovebird, atau classic pada red siskin, dll. Ini adalah sederetan warna asli alami pada suatu burung di habitat alaminya.

Zebra finch tipe normal memiliki punggung berwarna abu-abu, serta bercak pipi, paruh, dan kaki berwarna oranye cerah. Terdapat pola hitam menyerupai tetesan air mata di sepanjang tepi bercak pipi, dan garis putih yang mempertegas warna paruh yang cerah. Bagian dadanya memiliki pita hitam kecil, diikuti warna putih atau krem. Bintik-bintik cokelat dan putih terlihat tepat di bawah sayapnya saat terlipat, memberikan kesan “liar” pada burung ini. Pasangannya (betina) tidak memiliki bercak pipi tersebut.

Anakan Zebra Finch

Di penangkaran, terdapat banyak mutasi warna seperti putih, cokelat muda (krem), pipi hitam, dan dada oranye. Jika mutasi ini terjadi, warna bulu burung akan berubah secara permanen mengikuti pola genetiknya. Zebra finch itu rajanya mutasi. Dari 1 warna “wild type” bisa jadi 50an jenis warna. Mutasi zebra finch itu intinya perubahan warna/bulu karena gen.

Baca juga : Beternak Zebra Finch, Usaha Sampingan yang Menjanjikan

Mutasi pada zebra finch itu sebenarnya karena “kesalahan ketik” di gen, tapi kesalahan ini yang bikin warnanya jadi unik dan mahal. Mutasi adalah perubahan DNA pada gen warna/bulu. Zebra finch “normal” di alam liar warnanya grey. Ketika diternak oleh manusia, muncul gen baru yang ngubah warna itu. Analoginya, gen normal = kode warna Abu-abu dan mutasi = kodenya keedit jadi putih/coklat/hitam.

Zebra Finch warna putih

Ada 3 penyebab utama terjadinya mutasi pada zebra finch. Pertama, terjadinya mutasi alami, ini terjadi 1 dari 10.000 telur. DNA nya “salah copy” pas pembentukan telur. Ini awal mula munculnya mutasi White, Fawn, dll. Kedua, adanya seleksi peternak, pas ada anakan mutasi keluar, peternak sengaja mengawinkannya terus. Lama-lama jadi banyak. Dan perkawinan inbreed (perkawinan sedarah, atau kawin kakak adik), perkawinan ini membuat gen resesif yang “ngumpet” jadi keluar. Tapi bahaya kalau kebanyakan.

Jadi mutasi itu awalnya karena kecelakaan, lalu kemudian terus kembangkan. Gen mutasi ada 2 tipe, yakni gen dominan dan gen resesif. Gen dominan, Cukup 1 induk punya gen ini, anak langsung keliatan mutasinya. Contoh: Pied, Black Cheek, Black Breast, rumusnya BC x Normal = 50 % Anak BC, 50 % Normal. Gampang jadi, cepat kelihatan hasilnya.

Gen resesif, mengharuskan adanya 2 induk yang sama-sama bawa gen ini baru anak keliatan mutasinya. Contoh: White, Fawn, CFWRumus: White x White = 100 % Anak White. Rumusnya, Split White x Split White = 25 % White, 50 % Split, 25 % Normal Split = Bawa gen tapi tidak kelihatan, jadi kayak “pembawa” (carier).

Jika Jantan (gen Normal Split White) dikawinkan dengan Betina (gen Normal Split White), saat bertelur 4 butir, kemungkinan anaknyanya jadi 1 ekor White (karena dapat gen white dari bapak + ibu), 2 ekor Normal Split White (bawa gen tapi tidak kelihatan), dan 1 ekor Normal (tidak membawa gen mutasi sama sekali). Nah ini kenapa ternak zebra finch dengan gen resesif butuh kesabaran.

Zebra Finch warna cokelat kekuningan (Fawn Zebra Finch)

Faktor yang mempengaruhi terjadinya mutasi, karena genetik indukan (90 %). Kalau induk jantan betinanya tidak membawa gen mutasi, anaknya tidak akan pernah keluar warna mutasi. Pakan dan kesehatan, pakan yang kurang baik membuat mutasi terlihat “kabur”/jelek, bulunya jadi kusam. Faktor umur indukannya, 6-18 bulan paling bagus hasil mutasinya. Tua banget kualitas mutasinya turun.

Baca juga : Budidaya Burung Emprit Jepang Mudah dan Menguntungkan

Kesimpulan gampangnya, mutasi = gen + kawin yang tepat + sabar. Mutasi tidak bisa “dihasilkan” dari nol. Harus ada darahnya dulu di indukannya. Tugas peternak cuma “nempelin” gen yang tepat biar keluar mutasinya. Selain warna abu-abu standar, ada banyak mutasi warna hasil dari perubahan pigmen pada bulu.

Zebra Finch muka-hitam (Black-faced Zebra Finch)

Fawn, tubuh berwarna cokelat kayu manis (pada jantan, warna khasnya tetap bertahan). Putih (white), bulu seluruhnya berwarna putih bersih. Berdada Hitam (Black-breasted), garis hitam di dada jantan menjadi jauh lebih tebal dan lebar. Pipi hitam (Black-cheeked), bercak pipi yang biasanya berwarna jingga berubah menjadi warna hitam pekat.

Selain perubahan alami, perubahan warna juga bisa menjadi tanda masalah. Semisal warna bulu kusam/pudar, biasanya terjadi jika burung kekurangan nutrisi (terutama protein dan vitamin) atau sedang stres. Paruh berubah pucat, bisa menjadi tanda dehidrasi, stres, atau kekurangan sinar matahari. Bercak botak, perubahan warna kulit yang terlihat akibat hilangnya bulu, biasanya karena kutu atau stres. Peternak zebra finch mutasi wajib catat trah. Biar tahu ini apakah burungnya normal murni ataukah normal pembawa (split). (Ramlee)

By Ramlee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *