Kenari Gunung (Cicorintus estereae/Serinus estherae) atau disebut juga Jenar Melayu merupakan satu-satunya jenis burung kenari asli Indonesia. Spesies endemik ini hidup di alam liar pegunungan tinggi. Burung kenari sangat berbeda dengan jenis kenari yang selama ini dikenal dan dipelihara oleh kicau mania tanah air.




Kenari peliharaan yang populer dipelihara merupakan burung hasil impor dan domestikasi. Domestikasi burung kenari (Serinus canaria domestica) dimulai pada paruh kedua abad ke-15 ketika pelaut Spanyol dan Portugis membawa burung kenari liar dari habitat aslinya di Kepulauan Canary ke Eropa.
Proses panjang ini mengubah burung liar berbulu hijau kusam ini menjadi salah satu burung peliharaan paling populer di dunia dengan kicauan merdu dan variasi warna yang indah. Burung kenari hasil domestikasi ini menjadi burung yang sangat mudah dirawat.

Burung kenari ini menjadi tidak membutuhkan kandang yang terlalu luas untuk berkembang biak. Burung kenari hasil domestikasi juga menjadi sangat bergantung pada perawatan manusia untuk bertahan hidup dibandingkan dengan kerabat liarnya yang masih hidup di Kepulauan Canary.
Baca juga : Kenari, Burung Bersuara Merdu dengan Warna Mencolok dan Berpostur Unik
Burung kenari gunung termasuk dalam suku Fringillidae (suku besar dan menyebar luas hampir di seluruh dunia). Suku ini berukuran kecil, pemakan biji dengan paruh tebal. Suku ini mirip dengan burung manyar. Perbedaannya terletak pada ekornya yang lebih panjang dan bertakik, paruh sedikit lebih kecil, sarang terbuka berbentuk mangkuk (tidak tertutup seperti burung manyar).

Kenari gunung hidup liar di hutan-hutan dataran tinggi nusantara. Di dunia internasional, burung ini secara resmi disebut Indonesian Serin atau Mountain Serin. Istilah “kenari gunung” di kalangan pencinta burung dunia juga sering merujuk pada Harz Roller (Harz Mountain), yaitu ras kenari domestik asal Jerman yang dikembangkan di kawasan Pegunungan Harz karena kemampuan kicaunya yang luar biasa.
Burung kenari gunung ini memiliki keunikan fisik dan adaptasi yang sangat kontras jika dibandingkan dengan kenari biasa. Kenari gunung berukuran kecil sekitar 11 cm. Tubuh bagian atas berwarna cokelat tua dengan coretan rapat di bagian dada.

Ciri khas utamanya adalah corak warna kuning cerah atau merah-jingga pada bagian dahi, garis sayap, dan tunggirnya. Berbeda dengan kenari hias peliharaan yang dominan kuning cerah atau merah, kenari gunung memiliki corak liar yang khas untuk menyamar di alam.
Burung kenari gunung hanya hidup di lereng dan puncak pegunungan tinggi yang berhawa dingin dan lembap (subtropis/tropis). Kenari gunung hidup secara misterius dan tidak mencolok di dalam vegetasi yang lebat. Burung ini biasanya mencari makan dalam kelompok kecil di permukaan tanah atau semak-semak.


Burung kenari gunung ini terbagi ke dalam beberapa subspesies yang mendiami wilayah puncak gunung berbeda di Indonesia. Peta sebaran kenari gunung bersifat fragmentaris (terputus-putus), karena burung endemik ini hanya mendiami wilayah dataran tinggi dan puncak gunung tertentu di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.
Pulau Sumatera, dihuni oleh subspesies Chrysocorythus estherae vanderbilti. Habitat utamanya berpusat di wilayah utara, khususnya di kawasan pegunungan tinggi Taman Nasional Gunung Leuser. Pulau Jawa (Bagian Barat), dihuni oleh subspesies nominasi Chrysocorythus estherae estherae, yang tersebar terbatas di hutan pegunungan atas Jawa Barat, seperti di kompleks Gunung Gede Pangrango.

Pulau Jawa (Bagian Timur), dihuni oleh subspesies Chrysocorythus estherae orientalis. Area sebarannya berada di kawasan pegunungan kering bagian timur, tepatnya di sekitar Pegunungan Tengger dan Bromo. Pulau Sulawesi, dihuni oleh subspesies Chrysocorythus estherae renatae yang berpusat di Gunung Rantekombola (Sulawesi Selatan).
Baca juga : Kenari Dada Lemon, Kicauan Merdunya Terdengar seperti Perpaduan Suara Blackthroat dan Mozambik
Selain itu, terdapat populasi unik (takson belum terdeskripsi) di Sulawesi Tengah (seperti Taman Nasional Lore Lindu/Gunung Rorekatimbu) yang memiliki ciri fisik mencolok berupa corak warna merah-jingga, berbeda dari corak kuning pada umumnya.

Sebelumnya, populasi kenari gunung di Pulau Mindanao (Filipina) dianggap sebagai bagian dari spesies ini. Namun, sejak tahun 2021, International Ornithologists’ Union (IOC) secara resmi memisahkannya menjadi spesies mandiri dengan nama Mindanao Serin (Chrysocorythus mindanensis).
Kenari gunung ini memiliki suara kicauan bergemerencing pendek yang dikeluarkan sewaktu terbang dan juga punya cicitan metalik. Meskipun suara kicauannya tidak kalah merdu, kenari gunung sangat sulit untuk diadopsi atau dipelihara di dataran rendah, berbeda dengan kenari domestik yang tangguh di berbagai cuaca.

Habitat aslinya yang berada di ketinggian di atas 1.300 mdpl membuat sistem pernapasannya membutuhkan suhu udara yang sangat dingin dan lembap. Jika dibawa turun ke pemukiman yang bersuhu panas, burung ini akan mengalami stres berat, sesak napas, dan berisiko tinggi mati mendadak. Oleh karena itu, burung ini jauh lebih baik dibiarkan lestari di alam liar.
Membedakan jenis kelamin burung kenari gunung ini memang lebih mudah dibanding membedakan jenis kelamin burung kenari lainnya, karena memang termasuk jenis burung finch yang secara fisik bisa terlihat perbedaannya.

Ciri burung jantan berdahi dan dada berpita kuning dan bercoret hitam, tunggir kuning terang, sayap hitam dengan mantel abu-abu, tenggorokan hitam, perut putih bercoret hitam. Sedangkan burung betina hampir mirip jantan tetapi tunggir kuning lebih suram dan dada kurang berbintik.
Pakan alami kenari gunung di alam liar sangat berbeda dari burung kenari peliharaan pada umumnya. Karena hidup terisolasi di area vegetasi sub-alpin dan pegunungan tinggi (di atas 1.300 mdpl), jenis makanan yang mereka konsumsi beradaptasi dengan flora khas pegunungan.

Kenari gunung bersarang di area vegetasi tinggi atau semak sub-alpin, biasanya di atas ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Burung ini memilih percabangan pohon pendek atau semak tebal yang tersembunyi guna berlindung dari angin kencang gunung dan predator.
Baca juga : Kenari Lancashire Burung Kenari Terbesar di Inggris
Kenari gunung membuat sarang berbentuk mangkuk atau cangkir terbuka (basket/cup-shaped nest) yang khas bagi rumpun Fringillidae. Burung ini biasa mengumpulkan serat tumbuhan, lumut gunung, ranting halus, dan rumput kering untuk merajut struktur luar sarang.

Bagian dalam sarang dilapisi dengan material lembut seperti bulu halus atau serat pakis agar hangat bagi telur. Burung betina memegang peran utama dalam merajut sarang, sementara jantan membantu mengumpulkan material. Saat musim kawin tiba, kenari gunung akan mempertahankan area sekitar sarang secara agresif dari burung sejenis lainnya.
Burung jantan akan memikat betina menggunakan nyanyian kicauan bernada tinggi sambil melakukan manuver terbang pendek atau membusungkan dada. Kenari gunung umumnya menghasilkan sekitar 3 hingga 5 butir telur dalam satu siklus bersarang.

Telur dierami selama kurang lebih 14 hari sebelum menetas. Di luar musim berbiak, kenari gunung akan meninggalkan sarangnya dan kembali hidup berkelompok dalam kawanan kecil untuk mencari biji-biji tumbuhan di permukaan tanah.
Kenari gunung merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri LHK. Segala aktivitas mengambil sarang, telur, atau menangkap burung ini dari habitat alaminya adalah tindakan ilegal. Proses penangkaran harus mengikuti regulasi resmi dan legalitas penangkaran yang berlaku agar kelestarian kenari gunung di alam liar tetap terjaga. (Ramlee)
