Kedih (Presbytis thomasi) merupakan salah satu spesies primata endemik yang berasal dari kawasan hutan bagian utara Pulau Sumatera, Indonesia. Primata ini dikenal unik karena ekspresi wajahnya yang tampak selalu murung atau sedih, sehingga masyarakat lokal menamainya “Kedih”.



Spesies ini pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada akhir tahun 1892 (dan diterbitkan dalam jurnal resmi pada April 1893) oleh Robert Collet, ilmuwan asal Norwegia. Robert Collet memberikan nama spesies thomasi (awalnya dinamai Semnopithecus thomasi) sebagai bentuk penghormatan kepada Oldfield Thomas, yang kala itu merupakan ahli mamalia terkemuka di British Museum.
Sejauh ini, Kedih ditemukan di bagian utara Danau Toba (Sumatera Utara), Riau, dan Aceh. Populasinya diperkirakan hanya berjumlah 2.000 ekor pada seluruh wilayah sebarannya di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Sebagian besar monyet ini berada di hutan primer dan sekunder tropis, yang berada di ketinggian 4.921 kaki, sementara itu perkebunan pohon karet menjadi habitat alternatif bagi monyet kedih di tengah bahaya kerusakan ekosistem.

Monyet Kedih memiliki tubuh yang relatif kecil dengan panjang tubuh sekitar 40-60 cm dan ekor yang lebih panjang dari tubuhnya, sekitar 50-75 cm yang berfungsi sebagai penyeimbang saat melompat. Tubuhnya didominasi oleh bulu berwarna abu-abu kehitaman di bagian punggung, sementara bagian dada, perut, dan garis wajahnya berwarna putih terang. Salah satu ciri khasnya adalah jambul bulu di atas kepalanya mirip gaya rambut mohawk.
Baca juga : Yaki, Monyet Hitam Berjambul Endemik Sulawesi
Bagian wajahnya yang bulat didominasi oleh kulit berwarna hitam keabu-abuan. Namun, area di sekitar mata diberi aksen lingkaran atau pola bulu putih vertikal yang sangat kontras. Area hidung dan mulutnya cenderung berwarna merah muda atau cokelat menonjol. Kombinasi ini memberikan ekspresi wajah yang tampak tenang, sayu, atau seperti sedang bersedih.

Sebagai penanda, monyet Kedih mengandalkan suaranya yang khas dan keras. Tujuannya untuk memanggil keluarganya berkumpul. Wilayah jelajah Kedih digunakan sebagai tempat mencari makan, berkembang biak, bersembunyi dari predator, serta bersarang.
Satwa ini bersifat diurnal (aktif pada siang hari) dan hidup berkelompok di atas pohon (arboreal). Secara umum, jumlah monyet Kedih dalam satu kelompok berkisar antara 2 hingga 16 individu, dengan rata-rata 6 sampai 10 ekor per kelompok. Ukuran kelompok ini tergolong kecil sebagai bentuk strategi pertahanan alaminya.

Mayoritas kelompok menganut sistem satu pejantan dominan yang memimpin beberapa betida dewasa serta anak-anaknya. Selain kelompok campuran, Kedih juga sering membentuk kelompok khusus yang seluruh anggotanya adalah pejantan (biasanya berisi pejantan muda atau yang kalah bersaing).
Kedih adalah pemakan tumbuhan (herbivora) yang menyukai buah-buahan, daun muda, bunga, dan biji-bijian. Kadang-kadang Kedih juga memakan jamur dan serangga kecil. Kedih menjelajah hutan sekitar 12 hingga 15 hektar dengan berpindah dari satu tajuk pohon ke pohon lain untuk mencari makan.

Kedih sangat bergantung pada kerapatan vegetasi hutan primer; jika pohon pakan di hutan primer menipis, Kedih akan bergerak ke hutan sekunder atau perkebunan karet/buah milik masyarakat untuk mencari makan. Kedih biasanya mencari makan di bagian kanopi pohon dengan ketinggian hingga 10 meter.
Baca juga : Owa, Primata Tanpa Ekor yang Gesit Berayun di Pohon Kini Terancam Punah
Sesekali, Kedih akan sengaja turun ke permukaan tanah atau membongkar batang kayu lapuk untuk berburu semut, siput tanah, jamur, hingga memakan tanah tertentu (geofagi) guna mendapatkan asupan mineral tambahan. Kedih tidak mencari makan terus-menerus sepanjang hari. Puncak aktivitas mencari makan biasanya terjadi tiga kali sehari (pagi hari, siang hari menjelang sore, dan sore hari sebelum kembali ke pohon tidur).

Di sela-sela waktu makan tersebut, Kedih akan turun ke bagian dahan pohon yang lebih rendah untuk beristirahat dan mencerna makanan. Ketika seluruh anggota kelompok (terutama betina dan anak-anak) sedang sibuk memilih dan mengonsumsi makanan, pejantan dominan akan mengambil posisi di dahan yang paling tinggi.
Kedih memiliki kecenderunga kuat untuk langsung beristirahat saat hujan turun. Kedih akan menghentikan pergerakan mencari makan dan berdiam di pohon pakan terakhir hingga hujan reda. Saat malam tiba, kedih akan bergerak ke posisi dahan pohon yang lebih tinggi. Kedih memilih tidur di pohon yang tinggi dan kokoh di dalam hutan primer demi keamanan.

Monyet Kedih umumnya menganut sistem perkawinan poligini di dalam kelompoknya. Karena kelompok Kedih biasanya terdiri dari satu pejantan dominan dan beberapa betina dewasa, pejantan dominan inilah yang memiliki hak eksklusif untuk kawin dengan seluruh betina produktif di kelompok tersebut.
Betina Kedih melahirkan satu anak setelah masa kehamilan sekitar 6-7 bulan. Saat baru lahir, bayi monyet Kedih memiliki penampilan yang sangat kontras dengan induknya. Bulunya cenderung berwarna putih terang atau keperakan, sangat berbeda dengan warna abu-abu kehitaman pada monyet dewasa. Perbedaan warna yang mencolok ini secara alami memicu insting protektif dari anggota kelompok lainnya.

Bayi Kedih akan disapih oleh induknya setelah berusia sekitar 12 hingga 15 bulan. Anak Kedih akan mencapai kematangan seksual penuh pada usia sekitar 4 hingga 5 tahun. Setelah beranjak dewasa, monyet Kedih muda (terutama yang jantan) biasanya akan keluar atau diusir dari kelompoknya. Kedih muda tersebut kemudian akan bergabung dengan kelompok semua pejantan sebelum nantinya siap merebut atau membentuk kelompoknya sendiri.
Baca juga : Siamang, Primata Hitam Berlengan Panjang yang Hobi Menggericau
Jumlah populasi Kedih terus menurun dari tahun ke tahun dan terancam punah. Penyebab utama menurunnya populasi Kedih karena kerusakan dan hilangnya habitat alaminya akibat aktivitas manusia. Primata ini sangat bergantung pada vegetasi hutan yang terhubung (konektivitas tajuk pohon) karena sifat hidupnya yang arboreal.

Alih fungsi lahan (deforestsi), pembabatan hutan, pembukaan lahan, hingga kebakaran hutan menjadi sederet alasan. Akibat hutan yang semakin sempit, Kedih sering keluar untuk mencari buah di kebun warga. Akibatnya, satwa ini dianggap hama oleh sebagian masyarakat. Di beberapa wilayah, Kedih juga menghadapi ancaman perburan liar untuk diperjualbelikan atau alasan lainnya.
Lembaga Konservasi Dunia (IUCN) memasukkan Kedih dalam status Rentan (Vulnerable/VU). Saat ini Pemerintah Indonesia telah menetapkan Kedih sebagai satwa yang wajib dilindungi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. Upaya ini harus dilakukan untuk mencegah kepunahan total kedih di alam liar. (Ramlee)
