Wresah atau Hanggasa (Amomum dealbatum) merupakan tumbuhan aromatis dari suku jahe-jahean (Zingiberaceae) berkerabat dekat dengan kapulaga, yang menghasilkan buah unik berasa manis-masam. Family ini dikenal memiliki keragamann dan manfaat yang tinggi. Tumbuhan ini termasuk tumbuhan khas Pulau Jawa dan Lombok yang masih jarang dimanfatkan.




Wresah ini memiliki banyak nama di beberapa daerah, Hanggasa/Hangasa (Sunda), Wresah (Jawa), Langkasa (Kangean), Renggak (Lombok), dan dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Java cardamom(kapulaga Jawa). Wilayah sebaran wresah meliputi India, Nepal, Bangladesh, Yunnan (Tiongkok), Thailand, hingga Indonesia (terutama di Pulau Jawa dan Lombok).

Tanaman herbal tahunan ini tumbuh berumpun mirip tanaman pohon pisang kecil atau kapulaga dan subur di lantai hutan tropis. Sebagai tumbuhan bawah (understory), tanaman ini memilki peran penting dalam menjaga kelembapan mikro tanah hutan dan menjadi komponen keanekaragaman hayati lantai hutan. Tumbuhan ini juga tumbuh di area pada ketinggian 50-1200 mdpl.
Baca juga : Jahe, Tumbuhan yang Rimpangnya Digunakan sebagai Bumbu dan Bahan Baku Pengobatan Tradisional
Tumbuhan ini hidup terpencar-pencar di dalam hutan primer, sekunder, pinggiran sungai (aliran air), serta kebun talun tradisional. Menyukai area yang teduh atau ternaungi oleh tajuk pohon-pohon besar, karena paparan sinar matahari langsung yang terik dapat membuat daunnya mudah menguning atau terbakar. Sifatnya yang tumbuh berumpun rapat dapat membantu mencegah terjadinya erosi tanah permukaan akibat tetesan air hujan langsung di lantai hutan.

Tanaman berbatang semu yang terbentuk dari pelepah-pelepah daun yang saling memeluk erat. Tanaman wresah bisa tumbuh mencapai ketinggian hingga 3 meter. tanaman ini memiliki sistem perakaran serabut yang tumbuh dai bagian rimpangnya. Rimpangnya berada di bawah tanah, beruas-ruas, berserat, dan mengeluarkan aroma wangi yang khas. Perbanyakan tanaman ini bisa menggunakan rimpangnya yang sudah berakar.

Tanaman wresah memiliki daun yang berbentuk memanjang hingga lanset (lonjong), dengan panjang 30-90 cm dan lebar 10 hingga 20 cm. Permukaan atas daun terasa licin dan gundul. Sedangkan permukaan bawahnya berbulu halus berwarna putih yang terasa seperti kain beludru.

Tanaman ini berbunga majemuk berbentuk tandan yang muncul dari rimpang dekat pangkal batang semu. Warnanya bunganya cenderung kuning kemerahan atau putih kekuningan. Tabung mahkota sedikit lebih panjang dari kelopak, berwarna putih berbentuk oval dengan corak kuning dan kemerahan di bagian tengahnya.
Baca juga : Kapulaga, Rempah Aromatik Kaya Manfaat dan Khasiat
Buah wresah tumbuh berkelompok di dekat tanah, sekilas terlihat menyerupai rambutan karena kulit luarnya yang berserabut atau berambut kasar saat matang. Kulit buah ini cenderung keras dan harus dikupas terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Buah ini memiliki aroma harum khas seperti kapulaga.

Kulit buahnya berwarna hijau saat muda hingga keunguan saat matang, berbulu halus, dan memiliki sembilan sisi bersayap bergerigi. Buah ini memiliki biji kecil-kecil berwarna cokelat kehitaman dan terbungkus dalam salut biji (arilus) berdaging putih abu-abu yang mengandung banyak sari buah.

Salut biji (arilus) buah wresah yang matang memiliki tekstur berdaging, banyak mengandung sari buah, dan memilki rasa manis berpadu sedikit masam yang menyegarkan sehingga sering dikonsumsi secara langsung sebagai buah meja. Penelitian terkini terhadap kandungan kimia buah wresah didapatkan adanya senyawa flavonid yang merupakan salah satu senyawa yang berfungsi sebagai penangkap radikal bebas atau sebagai antioksidan dan kaya akan vitamin C.

Bagian umbut (pucuk batang muda), kuncup bunga yang masih muda, serta buahnya yang masih hijau sering direbus untuk dijadikan sayur teman makan nasi dengan sambal atau lalapan tradisional. Di beberapa negara Asia seperti India, buah wresah sengaja dikeringkan untuk diperdagangkan sebagai bumbu rempah pengharum masakan.
Baca juga : Lempuyang, Tanaman Rempah Berbunga Cantik yang Kaya Manfaat
Di Indonesia sendiri tumbuhan ini dimanfaatkan sebagai penyegar kulit pada bagian wajah, (oleh kaum wanita) dengan metodelogi merebus rimpangnya. Sementara di daerah lain ada yang beropini bahwa di daerah Lombok Barat, masyarakat memanfaatkan air rebusannya dengan cara di jadikan air untuk pembersih badan setelah lahiran atau usai persalinan. Air tersebut dipercaya dapat menghilangkan bau amis atau bau dari darah nipas.

Akibat alih fungsi hutan (deforestasi) dan perluasan lahan pertanian/perkebunan, kini beradaan tanaman wresah di alam liar kini semakin langka. Apalagi mayoritas masyarakat lokal masih mengandalkan pencarian secara langsung di hutan atau kebun talun. Sangat jarang ada petani yang secara sengaja membudidayakannya dalam skala komersial. (Ramlee)
