Solo Anggrek Festival kembali digelar untuk kedua kalinya di Kota Solo. Acara itu berlangsung pada 18—26 Juli 2026 di Loji Gandrung (Rumah Dinas Wali Kota Surakarta) Jl. Slamet Riyadi No.261, Penumping, Kec. Laweyan, Kota Surakarta. Berbeda dengan tahun lalu yang bertempat di Graha Wisata Niaga, festival tahun ini dipindahkan ke lokasi baru yang lebih rindang dan bernilai sejarah.




Solo Anggrek Festival digagas oleh Arifin Mustain Wijaya bersama komunitas Sutasora (Suka Tanaman Soloraya) serta dukungan dari pengurus Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Solo Raya, berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Surakarta. Solo Anggrek Festival mengusung tema “Merawat Keindahan Nusantara, Menumbuhkan Kolaborasi untuk Masa Depan yang Berkelanjutan”.
Solo Anggrek Festival 2026 menjadi ajang edukasi sekaligus penguatan sinergi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam menjaga keanekaragaman hayati serta mendorong pengembangan ekonomi bisnis dan pariwisata berbasis florikultura. Gelaran ini menyajikan berbagai kegiatan menarik mulai dari menampilkan berbagai varietas anggrek langka nusantara, bursa tanaman, lokakarya budidaya, hingga pameran.

Acara berskala nasional ini dibuka secara meriah oleh Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono. Wamentan memberikan dukungan penuh pemerintah terhadap hilirisasi industri ekonomi kreatif dan hortikultura nasional. Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki yang turut mendampingi dalam prosesi pembukaan dan peninjauan area pameran, menegaskan, konservasi anggrek harus berjalan seiring dengan pemanfaatan yang berkelanjutan. Menurutnya, anggrek memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomi jika dikelola secara bertanggung jawab.
“Kita perlu memperkuat perlindungan habitat anggrek, memperluas budidaya, memastikan ketelusuran peredarannya, meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat, serta menumbuhkan generasi baru pencinta flora Indonesia,” ujarnya. Acara berskala nasional ini terbuka untuk umum dan pengunjung tidak dipungut biaya. Menurut Arifin Mustain Wijaya (Ketua Panitia sekaligus tokoh PAI Solo Raya).

Solo Anggrek Festival bermula dari kegiatan berkumpul para anggota komunitas Sutasora yang ingin membuat pameran tanaman hias dengan konsep festival yang lebih meriah. Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, yang hadir dalam pembukaan mengapresiasi komunitas Sutasora dan seluruh pihak yang telah menggagas penyelenggaraan festival tersebut. Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci dalam mengembangkan potensi tanaman hias di Kota Solo.
“Pemerintah Kota Surakarta menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menggagas dan mewujudkan festival ini. Kami berharap festival ini setiap tahun akan berjalan terus dan terus berdampak kepada ekonomi dan masyarakat di sekitar yang ada di Kota Surakarta,” ujar Respati.


“Pelestarian anggrek ini bukan semata hanya tugas para pencinta tanaman, melainkan tanggung jawab bersama. Industri hobi, salah satunya anggrek, benar-benar bisa mendorong ekonomi. Justru tanaman hobi menjadi nilai ekonomi di perkotaan yang bisa menjadikan penciptaan lapangan kerja,” kata Respati. “Festival ini menjadi wujud komitmen Kota Solo dalam menghadirkan ruang apresiasi bagi pencinta anggrek, sekaligus memperkuat pariwisata, ekonomi kreatif, dan kecintaan terhadap lingkungan.”
Solo Anggrek Festival 2026 juga diramaikan dengan berbagai kegiatan menarik seperti talkshow budidaya anggrek, pameran tanaman hias, lomba, workshop, hingga pertunjukan seni yang siap menghibur pengunjung setiap harinya. Hari pertama penyelenggaraan diprediksi menjadi salah satu momen paling meriah.

Pengunjung dapat melihat langsung berbagai jenis anggrek langka, berburu tanaman favorit, memperoleh edukasi seputar budidaya anggrek dari para ahli, hingga mengabadikan momen di berbagai spot foto yang telah disiapkan panitia. Bagi masyarakat yang ingin berburu tanaman hias, ada beragam jenis anggrek dipamerkan sekaligus dijual dengan harga yang sangat beragam, mulai sekitar Rp25 ribu hingga mencapai jutaan rupiah untuk koleksi langka dan eksklusif.
Panitia juga menghadirkan berbagai kegiatann, mulai dari lomba, workshop, hingga talkshow dengan pakar anggrek nasional. Seperti talkshow konservasi anggrek bersama M. Farkhan Masykur (pegiat tanaman anggrek) dan talksho workhsop bisnis anggrek untuk UMKM bersama tim Ocha Orchid.

Festival yang berlangsung selama sembilan hari ini juga menjadi ajang pertemuan para pecinta anggrek, pelaku usaha tanaman hias, hingga komunitas UMKM dari berbagai daerah. Acara ini menampilkan beragam jenis anggrek asli Indonesia dari berbagai daerah dan memperlihatkan kekayaan flora Nusantara yang memukau.
Ada beragam jenis anggrek yang dipamerkan seperti Anggrek Bulan, Anggrek Bibir Berbulu, Anggrek Dendrobium, Anggrek Cattleya, Anggrek Oncidium dan masih banyak yang lainnya. Salah satunya ada Anggrek jenis Dendrobium Michiko (Anggrek Sultan Jadul), Dendrobium Trilamelatum (Anggrek Spesies dari Papua dan Australia) dan Dendrobium Roro Ireng.

Penataan anggrek di Solo Anggrek Festival dilakukan dengan menyusun sekitar 35 stan pameran dan menata ratusan hingga ribuan koleksi di pelataran serta area terbuka Loji Gandrung. Sebanyak 35 stan pedagang, pembudidaya, dan UMKM dari berbagai daerah disusun rapi untuk memudahkan pengunjung melihat ragam jenis bunga.
Tanaman anggrek ditata berdasarkan kategori seperti jenis spesies asli Nusantara, hasil persilangan (hybrid) terbaik, hingga tanaman hias langka. Penempatan pot dan papan display disesuaikan dengan lanskap asri halaman rumah dinas wali kota agar tampak alami dan indah dipandang. Berbagai stan juga menyediakan tanaman hias khas Tawangmangu, aneka jenis kaktus (seperti koleksi dari Cactus Rumah Sejuk), tanaman hias unik/langka, hingga suvenir.

Terdapat penilaian dan kontes anggrek dalam rangkaian acara Solo Anggrek Festival 2026. Dalam kompetisi tanaman tersebut, terdapat beberapa kategori penilaian dan penghargaan bergengsi, meliputi Best of Show (Juara Umum), Best of Species (Anggrek Spesies Terbaik), Best of Hybrid (Anggrek Hibrida Terbaik), dan Best of Section.
Best of Hybrid (Terbaik Hibrida), berhasil diraih oleh Wahyono, pemilik kebun anggrek Zilquin Orchid dari Tawangmangu, lereng Gunung Lawu, Karanganyar. Wahyono memenangkan penghargaan ini lewat keberhasilannya menyilangkan tanaman anggrek bulan jenis Phalaenopsis Blush Pink. Stan miliknya juga sempat ditinjau langsung oleh Wakil Menteri Pertanian Sudaryono saat pembukaan acara.

Best of Species (Terbaik Spesies), penghargaan ini diberikan untuk kategori tanaman anggrek spesies asli alam (non-silangan) yang memiliki kualitas pertumbuhan dan kemekaran paling sempurna. Sebagai informasi, penilaian untuk gelar Best of Show di festival ini didominasi oleh pesona spesies lokal, di mana bunga anggrek jenis Vanda Tricolor berhasil menyabet gelar tertinggi tersebut.
Seluruh tanaman pemenang kontes, termasuk piala Best of Show saat ini dipajang di area display khusus di teras utama Loji Gandrung. Para pengunjung dapat melihat secara langsung fisik tanaman juara tersebut hingga penutupan Solo Anggrek Festival pada tanggal 26 Juli 2026. (Ramlee/JAT)
