Dendrobium capra (atau dikenal secara lokal sebagai Anggrek Larat Hijau) merupakan spesies anggrek epifit langka endemik Pulau Jawa, khususnya di wilayah Jawa Timur seperti Bojonegoro dan Madiun. Nama ilmiah dari anggrek unik ini pertama kali diperkenalkan oleh ahli botani Belanda, Johannes Jacobus Smith, pada tahun 1910.




Penelitian yang dilakukan oleh LIPI, menyatakan bahwa Dendrobium capra memang merupakan anggrek alam yang persebarannya di Indonesia terbatas hanya terdapat di hutan jati dataran rendah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Keindahan anggrek ini tersembunyi di balik kerindangan pohon jati.
Penelitian pada tahun 1990 pernah melaporkan keberadaan anggrek ini di Jawa Timur yaitu, di hutan jati di kaki gunung Penanggungan, Pandaan, dan di gunung Lamongan-Kraksaan, Probolinggo. Penelitian pada tahun 2008 menyebutkan Dendrobium capra pernah ditemukan di dua wilayah, yakni Madiun dan Bojonegoro.

Namun, temuan mutakhir di tahun 2022, menyatakan bahwa populasi di Madiun telah punah. Kenyataan ini menjadikan hutan jati Bojonegoro sebagai satu-satunya habitat alami terakhir yang diketahui untuk spesies ini di dunia. Populasinya sangat terbatas, tersebar di tiga Resort Pemangkuan Hutan (RPH), Sugihan, Sukun, dan Dodol. Dan jumlahnya kini semakin menurun.
Baca juga : Anggrek Paphiopedilum Anggrek Kantong Semar, Tanaman Unik nan Cantik
Anggrek ini hidup di dataran rendah dengan kisaran suhu harian 30 – 33 ˚C dan kelembaban udara 40 – 60 %. Habitat anggrek Dendrobium capra diketahui hanya berada di hutan jati. Anggrek ini menempel hidup di pohon jati yang telah tua, berusia lebih dari 50 tahun (seperti di Hutan Jati Gondang Bojonegoro). Substrat humus tempat Dendrobium capra ini menempel pada kulit batang tidak terlihat, sehingga perakaran anggrek ini tidak tertutup oleh humus.

Batang pohon jati tertutup kulit kayu yang rata, pada pohon yang berumur tua terjadi pengelupasan kulit. Kayu jati mengandung cairan berbau keras yang mengandung zat penolak karat, berupa cairan berminyak dan berwarna coklat. Pada saat pohon jati menggugurkan daun selama 3-5 bulan, peredaran cairan pohon tersebut terhenti.
Bagian terluar lapisan kayu yang terbentuk paling akhir menjadi kering dan membentuk jaringan padat. Kondisi sifat fisik pohon jati ini yang kemungkinan banyak dijadikan sebagai pohon inang bagi Dendrobium capra yaitu kulit kayunya kering dan tidak lembab.


Pada umumnya pohon jati akan menggugurkan daunnya pada musim kemarau dan akan bersemi kembali pada permulaan musim penghujan. Tajuk pohon jati juga tidak terlalu rapat dan menggugurkan daunnya pada musim kemarau sehingga memudahkan Dendrobium capra untuk mendapatkan sinar matahari secara langsung.
Intensitas cahaya yang diterima anggrek ini digolongkan terbuka yang berarti tidak terhalang oleh naungan secara langsung. Hal tersebut menunjukkan anggrek ini menyukai kondisi kering, kelembaban rendah di tempatnya menempel dan menyukai sinar matahari dengan intensitas tinggi. Meskipun berdaya tahan kuat terhadap kekeringan, anggrek ini terkenal sulit diaklimatisasi karena pertumbuhan akarnya yang lambat.

Anggrek ini memiliki perawakan tegap, kaku dan panjang batang sampai 40 cm. Diameter batang akan mengecil pada bagian pangkal dekat akar dan tampak menggembung pada bagian tengah batang. Daun kaku berdaging, berwarna hijau kusam, berbentuk bundar telur memanjang dengan ujung runcing dan bercuping dua di bagian ujung daun.
Baca juga : Cymbidium Hartinahianum, Anggek Endemik Sumatera Utara yang Susah Hidup di Luar Habitatnya
Daun tersebut tersebar hanya di bagian atas batang. Daunnya berwarna hijau kusam, berbentuk bundar telur memanjang, memberikan kesan kokoh. Panjang daun antara 7,5-15 cm dengan lebar 1,5-2 cm. Tangkai perbungaan muncul dari batang bagian ujung, panjangnya mencapai 30 cm, menyangga 4-15 kuntum bunga.

Bunganya, yang menjadi daya tarik utamanya, berukuran relatif kecil dengan diameter hanya 2,5 hingga 3 cm, berbentuk bintang. Warna bunganya didominasi oleh hijau kekuningan yang lembut, dengan aksen garis-garis ungu yang mencolok pada bagian bibir bunganya (labellum). Kombinasi warna ini menciptakan kontras yang elegan dan memancarkan keindahan yang khas.
Kelopak (sepal) dan mahkota (petal) anggrek Dendrobium capra memiliki karakteristik morfologi yang sangat khas dengan tekstur tebal, kaku, dan permukaan yang mengkilap. Warna dasar kelopak dan mahkota didominasi warna hijau kekuningan polos yang eksotis.

Bentuk kelopak bundar telur memanjang dengan ujung tumpul. Mahkota berbentuk sudip (melebar di ujung), berujung runcing dan tidak berpilin (tidak melintir). Ciri tidak berpilin ini membedakannya dari beberapa jenis anggrek dari Spulata lainnya. Bibir bercuping tiga melengkung keluar.
Uniknya, Dendrobium capra cenderung rajin berbunga saat daun-daunnya mulai berguguran (meranggas) menjelang akhir musim kemarau. Satu tangkai bunganya dapat menghasilkan hingga 20 kuntum yang mekar bersamaan. Anggrek ini hanya mekar sekali setahun.

Waktu berbunga Dendrobium capra terjadi pada akhir musim kemarau hingga awal musim penghujan, yaitu berkisar antara bulan Agustus hingga Desember. Fase pembungaan ini sangat dipengaruhi oleh siklus pohon jati yang menjadi inangnya. Saat musim kemarau, pohon jati akan meranggas (menggugurkan daun), membuat anggrek ini menerima intensitas cahaya matahari secara penuh yang memicu fase generatif atau pembungaan.
Baca juga : Anggrek Tebu, Spesies Anggrek Terbesar di Dunia yang Semakin Sulit Ditemui di Habitatnya
Setelah knop terbuka sempurna, masing-masing bunga memiliki masa mekar (fase anthesis) sekitar 12 hingga 14 hari sebelum akhirnya layu. Jika terjadi penyerbukan yang berhasil, proses perkembangan buah hingga matang membutuhkan waktu yang lama yakni sekitar 75 hari.

Dendrobium capra kini masuk dalam daftar CITES Apendiks II, yang berarti hanya boleh diperdagangkan apabila berasal dari hasil perbanyakan dan pengambilan langsung di alam untuk perdagangan tidak diperbolehkan. Status kelangkaannya semakin kritis akibat siklus hidupnya yang sangat spesifik.
Karena anggrek Dendrobium capra hanya mekar sekali setahun, sehingga laju regenerasinya sangat lambat. Selain itu, ancaman terbesarnya adalah siklus tebang pohon jati. Pohon jati berusia tua yang menjadi rumah anggrek ini seringkali ditebang karena telah memasuki masa panen, secara serta-merta menghancurkan habitat dan populasi anggrek ini.

Konservasi ex-situ merupakan pilar kesempatan terakhir untuk menyelamatkan anggrek, termasuk Dendrobium capra, dari kepunahan. Ketika spesies di alam mengalami degradasi dan kepunahan, koleksi ex-situ berfungsi sebagai bahan cadangan perbanyakan tumbuhan dan penelitian.
Anggrek jenis ini tidak hanya merupakan jenis anggrek yang memiliki bunga indah, tetapi sangat berpotensi sebagai induk silangan karena bunganya memiliki warna hijau, helai mahkota tebal dan berkilap. Potensi anggrek larat sebagai induk silangan belum banyak tergali dan sampai awal tahun1999 baru digunakan sebanyak empat kali sebagai induk silangan. (Ramlee)
