Liga Derkuku Indonesia 2026 putaran III bertajuk Bengawan Solo Cup sukses digelar Pengcab PPDSI Surakarta pada Minggu, 19 Juli 2026 di Lapangan Gawanan Colomadu – Karanganyar. Dari 4 blok yang dibuka masing-masing 1 blok kelas Senior, 1 blok kelas Yunior dan 2 blok kelas Pemula ramai disesaki peserta dan hanya menyisakan beberapa tiket saja.




Sebagai gelaran berskala nasional, LDI Putaran III ini pun tidak saja dihadiri deku mania dari Solo Raya saja. Dekoe Mania dari tiga blok utama (Blok Barat, Tengah, dan Timur) di Pulau Jawa menggeruduk gelaran LDI putaran ke-3 tersebut. Selain dari Solo Raya datang juga dekoe mania dari Jakarta, Bogor, Semarang, Yogyakarta, Boyolali, Tulungagung, Blitar, Kediri, Sidoarjo, dan banyak daerah lainnya.

Ketua Panitia LDI III Agung Cahyanto mengucapkan terima kasih kepada seluruh dekoe mania yang sudah berkenan hadir di ajang Bengawan Solo Cup. Terima kasih juga disampaikan kepada seluruh pihak yang sudah memberikan dukungan baik sponsorship maupun doorprize dan dukungan lainnya serta para juri yang sudah bekerja maksimal.
“Kami mewakili panitia juga menyampaikan permohonan maaf jika selama penyelenggaraan Bengawan Solo Cup ada hal-hal yang kurang berkenan,” ujar Agung Cahyanto. Even Nasional ini tentu saja ikut dihadiri para sesepuh dekoe mania dengan gaco-gaco istimewanya. Hal ini benar-benar menjadi perjuangan yang tidak mudah buat gaco Solo Raya sebagai tuan rumah untuk bisa merebut juara.

Cuaca cerah hari itu, seakan ikut merestui gelaran LDI ke tiga di Solo. Ajang adu mental dan kualitas anggung jago-jago derkuku terbaik se Indonesia. Suasananya betul-betul ramai dan seru di tiga kelas untuk berburu poin Liga, yaitu kelas Senior, Yunior, dan Pemula.
Sementara dari bibir arena, terdengar teriakan-terikan kecil para joki maupun pemilik untuk mensuport jagonya. Agar burung andalanya mau kerja bagus dan maksimal sehingga juri memberikan nilai tertinggi. Bahkan setiap ada yang selesai melepas suara anggung merdunya, juga langsung terdengar teriakan bersama sang joki dan pemilik.

Tapi semua teriakan itu tidak sampai mengganggu kinerja para juri yang bertugas. Karena hari itu, para pengadil di lapangan benar-benar fokus menjalankan tugasnya sesuai dengan aturan main PPDSI. Fair play, memberikan nilai sesuai kerja dan kualitas anggung burung saat itu, tanpa ada kepentingan lainnya.
Pertarungan adu kualitas anggungan ketat dan seru, seperti yang terjadi di kelas Senior. Para kontestan langsung melaju kencang sejak babak pertama dimulai. Bimo Kurdo di kerekan nomor 20 milik Shorea BF, Kamajaya di kerekan nomor 22 gaco B2W, dan Golden Star di tiang 21 debutan Eko LMS langsung tampil nagen di tangkringan dan sukses menembus nilai enam warna. Ada empat gaco lainnya di akhir babak yang berhasil mendapatkan bendera lima warna.

Pada babak kedua terjadi persaingan sengit antara Bimo Kurdo dan Kamajaya, keduanya secara bergantian saling kejar perolehan nilai hingga kembali sukses raih bendera enam warna. Sayang, Golden Star tidak dapat menampilkan performa terbaiknya dan hanya mendapatkan bendera lima warna.


Babak ketiga dilangsungkan setelah panitia memberikan waktu sejenak buat para juri, Bimo Kurdo dan Kamajaya yang tampil ciamik di awal seolah kehilangan ritme. Bimo Kurdo hanya mampu mendapatkan bendera lima warna, sedangkan Kamajaya capaiannya mentok di bendera empat warna. Golden Star kembali mendapatkan bendera lima warna.

Pada babak pamungkas, ketika stamina kontestan mulai melorot, tiga gaco teratas ternyata masih sanggup tampil apik. Bahkan Bimo Kurdo mendapatkan tancapan bendera enam warna. Prestasi ini sekaligus menempatkannya di podium juara kelas Senior, setelah total nilainya tidak terkejar oleh para rival.
Di posisi kedua ada Kamajaya setelah berhasil menjaga jarak dari kejaran Golden Star yang tampil stabil. Sejatinya kedua burung mendapatkan total nilai yang sama, namun Kamajaya mendapatkan keuntungan setelah mampu mendapatkan bendera enam warna dua kali pada babak pertama dan kedua.

Pertarungan di kelas Yunior juga tidak seru. Ada empat burung yang berhasil mendapatkan tancapan bendera lima warna, diantaranya Idola Shorea tiang 180, Malioboro tiang 184, Wiro Sableng tiang 187, dan Abimanyu tiang 196. Saling kejar perolehan nilai terus terjadi hingga babak pertama usai.
Memasuki babak kedua Idola Shorea, Wiro Sableng, dan Abimanyu langsung tancap gas menembus nilai lima warna, sementara Malioboro mengendorkan tekanan dengan hanya mendapatkan bendera empat warna. Tirtonadi yang ada di tiang 210 ikut meramaikan perburuan gelar juara dengan hasil bendera lima warna.

Pada babak ketiga, ada delapan gaco tampil ciamik menembus nilai lima warna. Tiga diantaranya tetap stabil dengan performa ciamiknya, yakni Idola Shorea, Wiro Sableng, dan Abimanyu. Di babak keempat, ketiganya masih tetap stabil meraih nilai lima warna.
Penentuan juara ditentukan di meja juri perumus untuk meilhat keunggulan nilai yang didapat tiga gaco teratas di kelas Yunior ini, karena masing-masing mendapatkan nilai yang sama. Dari akumulasi nilai, Abimanyu ring N3 172 milik N3 BF Tulungagung berhasil menduduki podium utama.

Disusul kemudian oleh Idola Shorea bergelang B2W 3665 gaco Shorea BF dari Sleman yang merebut tempat kedua. Dan Wiro Sableng dengan ring DA 212 milik Cak hari dari Bogor berhak menduduki podium ketiga di kelas Yunior Bengawan Solo Cup 2026.

Di kelas Pemula yang memuat dua blok, menghadirkan kekuatan yang berimbang antar kontestan. Di kelas yang membatasi kualitas burung hanya sampai empat warna ini paling banyak menghadirkan peserta. Gairah Liga Derkuku Indonesia sebagai gelaran prestisius penggemar derkuku irama di tanah air terasa semakin meningkat.

Melalui persaingan ketat untuk berebut nilai tertinggi selama empat babak penuh, akhirnya Oreon ring Kinanti 470 milik Puji dari Sleman berhasil mengamankan poin tertinggi LDI di kelas Pemula. Selanjutnya ada Idola Shorea ring Shorea 56 milik Shorea BF Sleman di tempat kedua, dan Sekar Dadu ring Domisol 151 besutan Bangsis dari Sidoarjo.
“Hanya kebetulan,” ujar Pamungkas Puji Raharjo merendah, saat mengomentari prestasi Oreon burungnya. “Ya, saya juga ndak begitu bisa memantau hanya yakin saja jika mau bunyi dan terpantau Insya’ Allah bisa dipertimbangkan,” tambahnya. “Tapi mungkin kemarin juga banyak burung bagus yang tidak maksimal kerja, sehingga Oreon bisa juara.”


“Sebenarnya ini peran dari istri tercinta yang support hobby saya. Karena saya tidak bisa menyiapkan sendiri, kebetulan saya kerja di luar kota dan istri yang jemurin serta kasih makan dan minum selama saya tinggal. Tapi emang burung sukanya sama wanita…hehehe,” canda Puji.
“Awalnya saya pagi kemarin sudah mau gak jadi berangkat, karena masih capek banget,” jelas Puji. “Lha kok istri malah nanya, kok gak jadi berangkat, ayo tak kancani. Jadi langsung semangat saya. Alhamdulillah burung mau kerja maksimal tanpa dikomando. Dan saya juga ndak ada pikiran juara, hanya lihat dari jauh kok bunyi dan dapat nilai maksimal.”




“Sekali lagi saya selaku penanggung jawab acara ini, tak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang sudah ikut mendukung suksesnya lomba. Dan juga kepada semua kru panitia yang kerja all out, sehingga lomba ini bisa terlaksana dengan baik dan sukses. Dan permohonan ma’af, bila masih banyak kekurangan,” tutur Agung Cahyanto diakhir acara. Gelaran LDI berikutnya direncanakan digelar pada 23 Agustus 2026 di Kab. Blitar. (Ramlee/JAT)



