Blackthroat (Serinus atrogularis) atau Black-throated Canary (kenari tenggorokan hitam) merupakan salah satu burung berkicau yang cukup populer di Indonesia karena kualitas suara, fungsi strategisnya dalam dunia burung kicau, dan stabilitas ekonominya. Meskipun penampilannya sekilas mirip dengan burung pipit atau gereja liar yang sederhana, kicau mania Indonesia sangat menghargai burung ini karena berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh burung finch lokal.



Burung Blackthroat pertama kali masuk ke Indonesia sebagai burung impor pada era 1980-an hingga awal 1990-an. Pada masa-masa tersebut, pasar burung di Indonesia mulai kedatangan banyak jenis burung finch dan kenari impor dari berbagai belahan dunia, termasuk benua Afrika dan Asia Timur.
Pada awalnya (tahun 1980an), Blackthroat masuk bersamaan dengan kerabat dekatnya sesama finch Afrika, seperti burung Sanger (Crithagra leucopygia) dan Mozambik (Crithagra mozambica). Pada tahun 1990an, pasokan Blackthroat impor dari habitat aslinya (seperti Botswana, Senegal, dan wilayah Afrika lainnya) mengalir deras ke pasar-pasar burung besar di Indonesia.

Kicau mania mulai menyadari bahwa suara roll tajam burung ini sangat efektif untuk memaster burung petarung lokal. Karena adanya pembatasan impor satwa liar dan regulasi yang lebih ketat pada tahun 2000an, akhirnya para pencinta burung di Indonesia mulai beralih untuk menangkarkannya secara lokal (domestikasi).
Baca juga : Blackthroat, Burung Penyanyi Cilik Berleher Hitam
Saat ini, mayoritas Blackthroat yang beredar di pasar burung Indonesia adalah hasil tetasan dari penangkar lokal, bukan lagi burung tangkapan alam yang diimpor langsung dari Afrika. Di kalangan pencinta kicauan Indonesia, burung Blackthroat atau kenari leher hitam asal Afrika ini umumnya dibagi menjadi 3 jenis utama berdasarkan wilayah asal dan ciri fisiknya.

Yakni Blackthroat Botswana, Somerini, dan Senegal. Selain tiga jenis Blackthroat murni di atas, ada jenis Blackthroat lain yang mulai menyita perhatian pecinta burung. Saat ini para penangkar lokal di Indonesia juga tengah mengembangkan burung Blackthroat Sombos.
Blackthroat Sombos merupakan sebutan untuk burung hasil kawin silang antara Blackthroat Somerini dan Botswana. Upaya kawin silang ini dilakukan demi mendapatkan keturunan dengan postur besar khas Somerini namun memiliki kejernihan suara khas Botswana.

Di kalangan pencinta burung berkicau, jenis Blackthroat Botswana merupakan ras yang paling populer, paling banyak dicari, dan mendominasi pasar burung. Kini, burung Blackthroat termasuk salah satu jenis burung finch atau pipit Afrika yang menduduki kasta tertinggi burung masteran di Indonesia.
Meskipun penampilan fisiknya tergolong sederhana dan didominasi warna abu-abu kecokelatan, burung ini dihargai mahal karena kualitas suaranya yang luar biasa mewah. Kicauannya memiliki tipe roll panjang yang sangat rapat, berirama naik-turun, serta memiliki nada yang kristal dan nyaring.

Di dunia lomba burung berkicau di Indonesia, materi suara Blackthroat dianggap sebagai salah satu tembakan isian termewah untuk burung petarung seperti Murai Batu, Kacer, dan Cendet. Murai Batu yang fasih membawakan lagu Blackthroat biasanya akan mendapat nilai tinggi dari juri.
Baca juga : Edel Sanger, Salah Satu Burung dari Jenis Finch Kerabat Dekat Blackthroat
Blackthroat memiliki gaya bertarung yang khas dan gagah saat berkicau ngotot, yaitu membuka kedua sayapnya lebar-lebar (gaya garuda). Selain itu burung ini memiliki mental yang sangat berani. Blackthroat tidak mudah takut dengan keberadaan manusia atau suara bising di sekitarnya, sehingga sangat cocok dipelihara di lingkungan rumah yang ramai.

Karena berasal dari savana kering Afrika membuat Blacksthroat memiliki ketahanan fisik yang luar biasa terhadap cuaca panas Indonesia. Berbeda dengan Murai Batu yang membutuhkan pasokan serangga segar (jangkrik/kroto) dalam jumlah banyak, makanan pokok Blackthroat sangat praktis karena hanya berupa biji-bijian kering seperti milet dan jewawut.
Para penangkar di Indonesia sangat menyukai Blackthroat karena sifatnya yang adaptif untuk dikawinsilangkan dengan kenari (menghasilkan Blacken) untuk menciptakan variasi lagu baru yang unik, juga Blackthroat dengan Sanger (menghasilkan Blacksang). Blackthroat juga terkenal memiliki harga yang kokoh dan tidak mudah anjlok.

Bisa dikata harga burung Blackthroat relatif mahal. Di pasar burung Indonesia saat ini, harga seekor Blackthroat bahan berkisar antara Rp. 650.000 hingga RP. 1.000.000, sementara jantan dewasa yang sudah mapan dan gacor (ngerol) bisa menembus Rp 1.450.000 hingga Rp. 3.500.000.
Alasan terbesar burung ini berhaga mahal adalah kualitas suaranya. Tembakan roll panjang, rapat, dan bernada kristal milik Blackthroat adalah materi isian paling premium untuk mendongkrak harga jual burung petarung lomba seperti Murai Batu, Kacer, dan Cendet.

Burung ini bukan burung asli Indonesia, melainkan satwa endemik dari benua Afrika jadi mendatangkan burung ini (impor) butuh dana lebih. Adanya regulasi pengetatan impor satwa liar lintas negara membuat pasokan burung yang langsung didatangkan dari alam liar menjadi sangat terbatas dan mahal.
Baca juga : Mozambik, Kerabat Kenari dari Afrika dengan Kicauan Mirip Blackthroat
Karena pasokan impor menipis, pasar kini bergantung dari pasokan penangkar lokal. Sayangnya menangkarkan Blackthroat tidak semudah memandikan atau memberinya makan. Burung ini membutuhkan tingkat kecocokan (jodoh) yang tinggi, suasana lingkungan yang tenang, serta perawatan ekstra agar sukses bertelur di dalam sangkar domestik.

Karekteristik pasokan yang terbatas (low supply) inilah yang menjaga harga Blackthroat tetap tinggi. Burung ini sangat populer di kalangan breeder, indukan Blackthroat jantan atau betina yang memiliki genetika bagus, postur bongsor (seperti jenis Somerini), atau variasi warna unik (seperti blorok) selalu dihargai jauh lebih tinggi oleh para peternak.
Tren beberapa jenis burung di Indonesia seringkali mengalami pasang surut (musiman). Namun, pasar burung ini cenderung ramai dan stabil sepanjang tahun. Burung yang sudah jinak, rajin berbunyi ngeroll, apalagi sudah bisa pamer gaya “garuda” (buka sayap), biasanya akan langsung terjual cepat. Kombinasi antara suara mewah, perawatan yang tidak merepotkan, dan nilai ekonominya yang tinggi inilah yang membuat komunitas pencinta Blackthroat di Indonesia tetap solid dan terus berkembang hingga saat ini. (Ramlee)
