Titihan Telaga (Tachybaptus ruficollis) atau yang disebut juga Little Grebe merupakan spesies burung air kecil dari keluarga grebe (Podicipedidae). Unggas air tawar ini sekilas memiliki bentuk fisik yang sangat mirip dengan bebek mini, sehingga seringkali membuat orang awam keliru mengidentifikasinya.



Titihan Telaga terbagi menjadi tujuh subspesies dan populasinya tersebar di penjuru Eropa, Asia hingga Afrika. Di Indonesia, burung ini bisa ditemui di berbagai lokasi, salah satunya di Telaga Warna Dieng. Titihan Telaga ternyata tergolong burung purba. Meskipun tubuhnya kecil dan tidak terlihat menyeramkan seperti kasuari, burung ini memiliki sejarah evolusi yang sangat tua.
Catatan fosil yang ada menunjukkan bahwa kelompok burung Titihan telah eksis dan terpisah dari kelompok burung lain sejak sekitar 70 juta tahun yang lalu. Yang berarti nenek moyang burung ini sudah hidup sejak zaman Dinosurus akhir (periode Kapur/Cretaceous).

Fosil-fosil kuno dari keluarga burung ini yang ditemukan oleh para ilmuwan menunjukkan struktur tubuh yang hampir tidak berubah selama jutaan tahun. Bentuk tubuh Titihan Telaga masih sangat optimal untuk menyelam, sama persis seperti jutaan tahun lalu. Burung Titihan Telaga menempati ordo tersendiri yaitu Podicipediformes.
Baca juga : Bebek Mandarin, Bebek Tercantik di Dunia Jadi Simbol Kesetiaan
Hal ini membedakan burung ini dari bebek atau angsa modern. Kakinya yang terletak sangat jauh di belakang tubuh merupakan adaptasi purba yang sangat efisien untuk mendorong tubuh saat menyelam, meskipun hal tersebut membuat Titihan Telaga sangat canggung saat berjalan di darat. Di balik penampilannya yang imut dan sekilas mirip bebek mini, Titihan Telaga membawa kode genetik purba yang berhasil bertahan hidup melewati berbagai zaman kepunahan massal.

Buurng Titihan Telaga adalah penghuni lahan basah perairan air tawar yang tenang dan dangkal, seperti danau air tawar, kolam, rawa-rawa, waduk, bendungan, hingga sungai yang mempunyai arus lambat. Di beberapa daerah satwa ini bahkan memanfaatkan sawah yang tergenang air.
Titahan Telaga sangat menyukai tepian air yang dipenuhi ilalang, tanaman gelagah, enceng gondok, atau tanaman air lainnya. Vegetasi lebat ini sangat penting bagi satwa ini karena karakternya yang pemalu, sehingga lebih sering bersembunyi dari predator di balik tanaman daripada berenang di perairan terbuka.

Bentuk tubuh Titihan Telaga yang ringkas dirancang untuk meminimalkan hambatan air saaat menyelam. Titihan Telaga merupakan salah satu jenis grebe terkecil, dengan pajang tubuh berkisar antara 23 hingga 29 cm. Tubuhnya sangat kompak, membulat, dan montok dengan leher yang relatif pendek. Titihan Telaga tidak memiliki bulu ekor yang kaku seperti bebek. Bagian belakang tubunya tampak bulat dan empuk seperti kemoceng.
Paruhnya berbentuk pendek, kokoh, dan runcing (berbeda dengan paruh bebek yang lebar dan pipih). Berwarna hitam pada burung dewasa dengan ujung pucat. Sedangkan pada burung remaja, paruhnya berwarna kekuningan. Titihan Telaga memilki iris mata berwarna cokelat kemerahan.

Posisi kaki Titihan Telaga terletak sangat jauh di belakang. Posisi ini berfungsi layaknya baling-baling kapal yang memberikan dorongan luar biasa saat menyelam, namun membuatnya canggung dan berjalan tegak mirip penguin saat berada di darat.
Baca juga : Angsa, Unggas Besar Berleher Panjang yang Cantik dan Anggun Simbol Kesetiaan
Burung ini tidak memiliki selaput renang penuh yang menyatukan jari-jarinya seperti bebek. Sebagai gantinya, setiap jari kaki memiliki daun sirip atau selaput lateral terpisah yang bisa melipat saat kaki ditarik ke depan dan mengembang lebar saat menendang air ke belakang.

Kakinya berukuran besar dan berwarna kehijauhan gelap. Perpaduan paruh runcing dan kaki bersirip di ujung belakang tubuh inilah yang menjadi modal utama Titihan Telaga untuk menjadi pemburu serangga air dan ikan kecil yang sangat lincah di bawah permukaan air.
Titihan Telaga adalah burung karnivora. Makanan utamanya adalah serangga air dan larva, ikan kecil, krustasea kecil, dan moluska. Kadang-kadang Titihan Telaga juga memangsa berudu (kecebong) atau anak katak kecil. Titihan Telaga menangkap hampir seluruh makanannya dengan cara menyelam selama beberapa detik, lalu muncul kembali ke permukaan sambil membawa mangsanya. Sering juga menyambar serangga yang sedang terbang rendah atau hinggap di atas permukaan air.

Penampilan bulu burung Tithan Telaga dewasa berubah secara drastis tergantung pada musim berbiaknya. Saat berbiak, bulu bagian atas dominan hitam keabu-abuan gelap. Ciri paling khas adalah area pipi, sisi leher, dan tenggorokan yang berwarna cokelat kemerahan gelap (merah karat). Terdapat bercak kulit berwarna kuning terang yang mencolok di pangkal paruhnya.
Saat musim tidak berbiak, warna bulunya berubah menjadi jauh lebih pucat. Warna merah di leher memudar menjadi cokelat muda kotor atau krem, dengan bagian punggung dan topi kepala berwarna cokelat tua. Tiutihan Telaga remaja, memilki warna lebih pucat dengan pola garis-garis hitam dan putih yang khas di bagian kepala dan sisi leher.

Masa berbiak Titihan Telaga sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama ketersediaan vegetasi air dan tinggi permukaan air. Berbeda dengan wilayah sub-tropis yang memiliki musim kawin terbatas (umumnya April hingga Agustus), di wilayah tropis seperti Indonesia dan kawasan Sunda Besar, dapat berbiak sepanjang tahun. Namun, aktivitas bertelurnya biasanya akan memuncak selama musim hujan.
Titihan Telaga menganut sistem perkawinan monogami, di mana pasangan yang terbentuk umumnya akan tetap bersama seumur hidup. Pasangan Titihan Telaga akan mengeluarkan suara tring atau rengekan tinggi seperti ringkikan kuda (weet-weet-weet) yang bersahut-sahutan untuk memikat pasangan. Kedua induk bekerja sama membangun sarang terapung di atas air dangkal dari tumpukan material tanaman pembusuk dan eceng gondok yang dijangkar ke vegetasi rawa agar tidak hanyut.

Induk betina menghasilkan sekitar 4 hingga 7 butir telur. Telur yang baru dikeluarkan berwarna putih bersih, namun lambat laun akan berubah menjadi kecokelatan karena terkena material tanaman sarang yang membusuk. Induk jantan dan betina bergantian mengerami telur selama 19 hingga 25 hari hingga menetaskan anak. Setiap kali induk hendak meninggalkan sarang untuk mencari makan, selalu menutupi telur-telurnya dengan dedaunan atau lumut basah.
Baca juga : Mentok Rimba, Burung Air yang Mirip Mentok Peliharaan Itu Kini Semakin Sulit Ditemukan
Trik cerdas ini berfungsi menyamarkan telur dari predator udara sekaligus menjaga suhu telur tetap hangat. Anak Titihan Telaga yang baru menetas memiliki bulu bergaris-garis seperti anak macan dan sudah bisa berenang dan menyelam hanya beberapa jam setelah menetas. Karena tubuh bayi masih kecil dan rentan kedinginan atau dimangsa ikan besar, anak-anaknya sering kali memanjat dan bersembunyi di atas punggung induknya saat berenang.

Sang induk bahkan bisa menyelam sebentar membawa anaknya yang menempel di punggung. Anak burung akan disuapi larva serangga oleh kedua induknya selama sekitar 30 hari sebelum mulai belajar mandiri sepenuhnya pada usia 6 hingga 7 minggu. Dalam satu tahun subur, sepasang titihan telaga bahkan bisa membesarkan 2 sampai 3 gelombang anakan (brood).
Titihan Telaga punya kebiasaan unik, yakni memakan bulunya sendiri. Bulu-bulu yang ditelan membentuk sumbatan di kantong pilorik lambung untuk menyaring material yang masuk ke usus. Jadi, sisa-sisa makanan yang sulit dicerna akan dimuntahkan bersama bulu dalam bentuk pelet. Induk Titihan Telaga pun memberikan makanan bulu pada anak-anaknya yang baru menetas, sehingga sumbatan ini sudah terbentuk sejak anaknya makan untuk pertama kalinya.

Status konservasi Titihan Telaga secara global dikategorikan sebagai Risiko Rendah (Least Concern / LC) oleh IUCN Red List, meskipun tren populasinya secara keseluruhan dilaporkan mengalami penurunan. Di Indonesia, Titihan Telaga juga tidak termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi oleh undang-undang. Berbeda dengan saudaranya, Podiceps cristatus (Titihan Jambul), Titihan Telaga dinilai masih memiliki populasi lokal yang cukup aman di berbagai lahan basah Nusantara. (Ramlee)
