Falk (Nymphicus hollandicus) atau lebih dikenal secara global sebagai Cockatiel dan di Indonesia sering disebut Parkit Australia, merupakan salah satu burung peliharaan paling populer di dunia termasuk Indonesia. Ini karena burung ini memiliki penampilan yang unik, sifat yang ramah, kecerdasan tinggi, serta perawatannya yang relatif mudah.

Falk sebenarnya masih berkerabat dekat dengan keluarga kakatua (Cacatuidae), namun dalam versi yang jauh lebih kecil. Falk sering disebut juga kakaktua mini termasuk jenis burung yang mudah dilatih, sehingga sering dijadikan sebagai burung free flight. Ketika sudah jinak, setiap falk dilepas di alam, akan bisa kembali ke pemiliknya.

Burung yang mempunyai jambul ini dahulu dianggap sebagai anggota kelompok Nuri ataupun burung beo sejati (true parrots). Namun setelah diadakan studi oleh para ilmuwan melalui penelitian molekuler modern pada tahun 1984, akhirnya burung ini di klasifikasikan sebagai satu-satunya burung dengan genus Nymphicus dari subfamily Nymphicinae dan di tetapkan sebagai burung paling kecil dari keluarga Cacatuidae (keluarga kakak tua).

Sepasang Falk di alam liar

Burung Falk merupakan burung endemik Benua Australia yang habitatnya di wilayah pedalaman daratan Australia. Falk lebih banyak menghabiskan waktunya di kawasan sabana, padang rumput terbuka, dan semak belukar (terutama area yang banyak ditumbuhi semak akasia). Meskipun hidup di area yang kering, kawanan burung falk selalu memilih lokasi yang dekat dengan aliran sungai, danau, atau lubang air (waterhole) untuk minum.

Baca juga : Kakatua, Burung Paruh Bengkok Cerdas yang Terus Diburu

Burung ini lebih menyukai area terbuka agar mudah terbang dan mencari biji-bijian di permukaan tanah. Dan jarang sekali ditemukan di daerah hutan hujan yang lebat atau wilayah pesisir pantai yang basah. Pada umumnya Falk membutuhkan minum secara teratur sehingga kerap terlihat di dekat air.

Kawana Falk sedang turun untuk minum

Karena sifat habitatnya yang kering, burung falk hidup secara nomaden (berpindah-pindah tempat) dalam kelompok besar untuk mengikuti ketersediaan makanan dan air sesuai dengan musim. Burung falk secara alami tersebar luas di hampir seluruh wilayah daratan utama benua Australia. Sebagai hewan endemik di daratan Australia, keberadaan burung ini tersebar luas, namun jumlahnya lebih banyak di barat daya.

Karena lingkungan pedalaman Australia sering mengalami perubahan musim yang ekstrem, penyebaran burung ini sifatnya tidak menetap. Falk akan membentuk kawanan besar (bisa mencapai ratusan ekor) untuk bermigrasi secara nomaden menuju wilayah yang baru saja turun hujan, karena di sana pasokan air dan biji-biji rumput akan melimpah.

Falk pertama kali ditemukan pada tahun 1770 dan diketahui jika burung ini menunjukkan banyak tindakan dan aktivitas yang sama seperti spesies kakatua yang ukuran tubuhnya lebih besar. Selama demam emas Australia pada tahun 1900-an, burung ini mulai diekspor setelah para penambang menemukannya. Namun saat ini, menjual burung tersebut dengan mengekspornya adalah tindakan ilegal.

Berkat popularitasnya sebagai hewan peliharaan, burung Falk juga telah “tersebar” ke seluruh dunia, namun statusnya terbatas sebagai hewan domestik atau penangkaran, bukan populasi liar. Semua Falk yang dipelihara oleh para pecinta burung adalah burung hasil penangkaran, bukan tangkapan liar.

Dua ekor Falk sedang mencari makan

Falk memiliki ciri khas unik yang membedakannya dari keluarga paruh bengkok lainnya. Ciri paling ikonik adalah adanya jambul. Jambul ini bersifat fleksibel dan dapat bergerak sesuai suasana hati. Jambul akan berdiri tegak saat burung merasa senang, terkejut, atau waspada, dan akan merapat ke kepala saat rileks atau sedang marah.

Baca juga : Kakatua Raja si Hitam Eksotis Endemik Tanah Papua

Mayoritas Falk (terutama jenis wild type) memiliki lingkaran berwarna oranye cerah di bagian pipinya. Pada burung jantan dewasa, warna oranye ini biasanya terlihat jauh lebih kontras dan terang dibandingkan dnegan burung betina. Meskipun warna aslinya abu-abu, namun domestikasi telah menghasilkan berbagai mutasi warna seperti lutino (kuning polos mata merah), albino (putih polos mata merah), pearl (corak seperti mutiara, dan pied (kombinasi warna belang/blorok).

Falk di depan lubang sarangnya

Paruhnya melengkung khas keluarga kakatua. Paruh berfungsi untuk memecah biji-bijian keras dan membantu memanjat serta merapikan bulu (preening). Panjang tubuh berkisar antara 30 hingga 33 cm. ekornya berbentuk runcing dan sangat panjang, mencakup hampir setengah dari total panjang tubuhnya.

Memiliki struktur kaki unik dengan dua jari mengarah ke depan dan dua jari mengarah ke belakang. Struktur ini meberikan cengkeraman sang sangat kuat untuk bertengger dan memegang makanan. Falk juga pintar menirukan suara, dibandingkan meniru kata-kata seperti burung beo, Falk jauh lebih mahir meniru irama siulan, nada lagu, atau suara bel rumah. Burung jantan biasanya jauh lebih aktif bersiul dan cerewet daripada betina.

Falk adalah satwa herbivora (granivora/pemakan biji), utamanya adalah biji-bijian rumput liar, benih gandum, jerami, serta tunas muda, terkadang juga memakan buah-buahan beri liar dan nektar bunga jika tersedia. Di alam liar, Falk jarang mencari makan sendirian. Falk biasanay terbang dalam kawanan besar (puluhan hingga ratusan ekor).

Berbeda dari beberapa jenis buurng paruh bengkok yang mencari makan di atas pohon, Falk lebih sering turun dan berjalan di tanah untuk mematuk biji-bijian atau rerumputan yang jatuh. Karena habitatnya yang gersang dan sabana, kawanan Falk akan bermigrasi mengikuti musim hujan demi mencari sumber air dan ladang rumput yang baru bertunas serta sumber makanan lainnya.

Falk lutino

Falk memiliki jam biologis yang teratur. Aktivitas mencari makan paling intens dilakukan beberapa jam setelah matahari terbit dan sore hari menjelang matahari terbenam. Pada siang hari yang terik, Falk memilih beristirahat di dahan pohon yang rindang. Falk bersifat monogami, hanya memiliki satu pasangan. Biasanya setelah kawin, pejantan tidak akan meninggalkan betinanya.

Baca juga : Kakatua Tanimbar, Kakatua Terkecil Endemik Pulau Tanimbar yang Diburu karena Dianggap Hama

Masa berkembang biak Falk sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama ketersediaan air dan makanan. Di alam liar Australia, siklusnya bergantung pada letak geografis, sementara di penangkaran/peliharaan mereka bisa berkembang biak sepanjang tahun jika kondisinya mendukung. Burung jantan, mulai matang secara seksual pada usia sekitar 9 hingga 13 bulan, sementara betina pada usia sekitar 12 hingga 18 bulan.

Falk albino

Falk adalah burung adalah secondary cavity nesters, yaitu memanfaatkan lubang-lubang alami pada pohon (terutama pohon eukaliptus yang sudah tua atau mati) yang dekat dengan air. Burung pejantan akan masuk terlebih dahulu untuk memastikan tersebut aman dan cukup gelap. Kemudian akan bersiul memanggil betina untuk ikut memeriksa lokasi. Lubang sarang biasanya berada di ketinggian 2 hingga 6 meter di atas permukaan tanah.

Burung falk tidak membawa material dari luar seperti daun atau rumput ke dalam sarangnya. Falk akan menggunakan paruh kuatnya untuk mengunyah bagian dalam kayu pohon tersebut. serutan kayu halus hasil kunyahan ini dikumpulkan di dasar lubang sebagai alas empuk agar telur tidak menggelinding atau pecah.

Falk warna pearl

Sekali bertelur (satu klaster), betina menghasilkan 4 sampai 7 butir telur. Telur dikeluarkan secara bertahap setiap 2 hari sekali. Masa inkubasi berlangsung selama 17 sampai 23 hari. Uniknya, induk jantan dan betina akan bergantian mengerami telur (biasanya jantan berjaga siang hari, betina malam hari). Setelah menetas, bayi Falk ini dibaluti bulu kuning tebal. Anak burung Falk akan keluar dari sarang (belajar terbang) pada usia 4 hingga 5 minggu, dan akan benar-benar mandiri pada usia 8 hingga 10 minggu.

Perlindungan Hukum Ketat dari Pemerintah Australia, Di bawah undang-undang perlindungan lingkungan Australia (EPBC Act 1999), menangkap burung Falk liar dari alam untuk diperdagangkan atau diekspor ke luar negeri adalah tindakan ilegal. Semua burung Falk yang dipelihara manusia saat ini murni hasil dari budidaya penangkaran (captive-bred). (Ramlee)

By Ramlee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *