Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) merupakan satwa mamalia air tawar endemik yang hidup di perairan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Hewan yang disebut lumba-lumba air tawar ini adalah ikon kebanggaan Kalimantan Timur yang saat ini statusnya terancam kritis menuju kepunahan (Critically Endangered) menurut IUCN. Di Indonesia sendiri, pesut Mahakam di tetapkan sebagai satwa yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 tentang Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.



Habitatnya hanya ada di Teluk Balikpapan dan Sungai Mahakam yang membentang sepanjang 920 kilometer di Kalimantan Timur. Sebagian besar habitatnya berada di Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Sekilas mirip dengan lumba-lumba, namun pesut memiliki keunikannya sendiri. Pesut mempunyai kepala berbentuk bulat (seperti umbi) tanpa moncong yang panjang.
Kedua matanya sangat kecil dan mengalami reduksi (penurunan fungsi penglihatan) akibat adaptasi evolusioner hidup di lingkungan perairan Sungai Mahakam yang sangat keruh dan berlumpur. Jarak pandang matanya sangat terbatas. Mata pesut hanya mampu mendeteksi intensitas cahaya (gelap dan terang) serta gerakan objek dalam jarak yang sangat dekat. Mata pesut memproduksi lendir atau kelenjar khusus untuk melindungi kornea dari gesekan partikel lumpur, pasir, dan bakteri yang mengapung di air sungai.

Pesut mengandalkan sistem ekolokasi (echolocation) sebagai alat navigasi utamanya. Pesut akan mengeluarkan gelombang suara ultrasonik yang berfrekuensi tinggi melalui dahinya yang menonjol. Lewat sistem radar alami ini, pesut bisa melihat bentuk, ukuran, kecepatan, dan lokasi objek di sekitarnya dengan sangat akurat, meskipun dalam kondisi gelap gulita atau air yang sangat berlumpur. Ketika sungai sangat bising akibat mesin kapal, sonar pesut menjadi “buta” secara navigasi dan berakibat pesut seringkali menabark jaring nelayan (rengge) atau lambung kapal ponton.
Baca juga : Arwana Papua, Ikan Endemik Perairan Papua yang Mempunyai Teknik Berburu Unik
Tubuh pesut berwarna abu-abu sampai wulung tua, lebih pucat dibagian bawah (tidak ada pola khas). Sirip punggung (dorsal) kecil dan membundar di belakang pertengahan punggung. Dahi tinggi dan membundar; tidak ada paruh. Sirip dada (flipper) Relatif pendek tetapi memiliki struktur yang lebar dan membulat pada bagian ujungnya. Secara umum, pesut Mahakam memiliki panjang tubuh dewasa antara 1,5 hingga 2,8 meter dengan berat badan berkisar antara 90 hingga 200 kilogram.

Ukuran tubuh hewan ini menunjukkan adanya sifat dimorfisme seksual, di mana pesut jantan memiliki proporsi tubuh yang cenderung lebih besar dan lebih panjang daripada pesut betina. Bayi pesut yang baru lahir, memiliki panjang tubuh rata-rata 90 cm hingga 1 meter dengan berat lahir sekitar 10 hingga 12 kg.
Ukuran gigi pesut Mahakam tergolong sangat kecil, pendek, dan berbentuk pasak (kerucut) dengan panjang hanya sekitar 0,5 hingga 1 sentimeter saja. Gigi mereka tidak didesain untuk mengunyah atau mencabik mangsa, melainkan hanya untuk mencengkeram ikan agar tidak lepas sebelum langsung ditelan bulat-bulat.


Semua gigi pesut memiliki bentuk dan ukuran yang seragam (homodon), berbentuk runcing melengkung ke dalam untuk menahan mangsa yang licin seperti ikan putihan dan udang. Karena ukuran giginya yang kecil, pesut tidak mengunyah makanannya. namun akan langsung menelan makanan tersebut secara utuh ke dalam perutnya.
Pesut Mahakam bernapas menggunakan paru-paru, sama seperti mamalia darat pada umumnya. Karena hidup di dalam air, pesut harus naik ke permukaan sungai secara berkala untuk menghirup oksigen melalui lubang sembur (blowhole) yang terletak di atas kepalanya. Ketika muncul ke permukaan, pesut sering kali mengeluarkan embusan napas yang kuat.

Dalam kondisi berenang santai atau menjelajah normal, Pesut Mahakam biasanya muncul ke permukaan untuk bernapas setiap 10 hingga 30 detik sekali. Jika sedang berburu ikan di dasar sungai atau merasa terancam, pesut mampu menahan napas di dalam air dalam durasi yang lebih lama, yaitu sekitar 3 hingga 5 menit (maksimal hingga 10 menit dalam kondisi darurat).
Baca juga : Ikan Bilih, Ikan Endemik Danau Singkarak yang Mulai Langka
Pesut Mahakam tidak bisa tidur nyenyak seperti manusia karena proses bernapasnya bukanlah gerakan refleks bawah sadar, melainkan keputusan yang disadari (voluntary breathers). Untuk menyiasatinya, pesut tidur dengan sistem unihemisferik. Otak yang terjaga bertugas mengontrol tubuh pesut agar tetap berenang perlahan dan naik ke permukaan secara berkala untuk mengambil napas tanpa harus terbangun sepenuhnya.

Makanan alami pesut Mahakam adalah ikan-ikan kecil (terutama kelompok ikan putihan, seperti ikan kendia, repang, lais, lalang, dan biawan), udang sungai, dan moluska (kerang/bioata bercangkang lunak yang hidup di dasar dan pinggiran sungai). Sebagai hewan karnivora, pesut Mahakam sangat bergantung pada kelimpahan biotatunggal di perairan tawar.
Pesut Mahakam sering mencari makan di area tikungan rawa, pertemuan anak sungai, atau wilayah suaka perikanan seperti Danau Semayang dan Danau Melintang yang kaya pasokan ikan. Pesut Mahakam kerap menyemprotkan air ke udara/permukaan untuk menggiring dan mengejutkan gerombolan ikan kecil agar mudah ditangkap.

Pesut Mahakam juga akan bermigrasi menuju wilayah Kutai Barat atau Mahakam Ulu. Kebiasaan migrasi pesut mahakam sangat dipengaruhi oleh siklus musim, fluktuasi ketinggian air sungai, dan pergerakan alami ikan yang menjadi makanannya (ikan Kendia dan ikan Repang).
Hewan ini tidak menetap di satu titik, melainkan melakukan pergerakan musiman yang dinamis di sepanjang perairan hulu hingga hilir sungai. Dalam kondisi normal harian, wilayah jelajah pesut jantan lebih luas, mencapai jarak rata-rata 100 km (maksimal 165 km). Sementara pesut betina bergerak lebih terbatas dalam radius rata-rata 45 km (maksimal 100 km) demi melindungi bayinya.

Saat bermigrasi atau menjelajah, kelompok pesut paling sering menghabiskan waktu berdiam di area pertemuan dua arus sungai (muara anak sungai). Titik ini menjadi lokasi favorit karena arus airnya membantu mengumpulkan ikan-ikan kecil. Adanya konversi hutan rawa di daerah hulu menjadi perkebunan sawit merusak area pemijahan ikan. Akibatnya, pasokan makanan di sepanjang jalur migrasi berkurang drastis sehingga pesut harus memutar otak mencari rute alternatif yang lebih berbahaya.
Baca juga : Kelabau, Ikan Air Tawar Ikon Kota Banjarmasin yang Mempunyai Nilai Ekonomi Tinggi
Masa berkembang biak Pesut Mahakam dikenal sangat lambat dan memiliki interval waktu yang panjang, yang menjadi salah satu faktor utama mengapa populasi mamalia ini sangat rentan dan sulit pulih dari ancaman kepunahan. Pesut Betina: Mulai mencapai kematangan seksual dan siap kawin pada usia 7 hingga 9 tahun. Pesut memiliki masa kehamilan (bunting) yang sangat lama, yaitu berkisar antara 14 bulan. Setiap kali melahirkan, pesut betina hanya melahirkan 1 ekor anak.

Walaupun kelahiran bisa terjadi sepanjang tahun, intensitas kelahiran bayi pesut terpantau jauh lebih tinggi pada musim kemarau (Juli–September). Jarak antar-kelahiran (calving interval) rata-rata berkisar 3,5 hingga 5 tahun. Hal ini terjadi karena induk pesut harus menyusui anaknya selama minimal 1,5 hingga 2 tahun. Selama masa itu, anak pesut akan terus didampingi dan diawasi secara ketat oleh kelompok betina (sistem pengasuhan kolektif) sebelum bisa hidup mandiri.
Pesut mahakam memiliki ekspektasi usia hidup antara 30 hingga 50 tahun di alam liar. Uniknya, pada usia sekitar 30 tahun, pesut betina sudah mengalami fase penurunan fungsi reproduksi yang drastis atau semacam menopause, sehingga tidak lagi bisa melahirkan anak baru. Dengan rata-rata kelahiran yang hanya 5 ekor per tahun di seluruh Sungai Mahakam, kematian 4 ekor pesut dewasa per tahun akibat terjerat jaring nelayan menjadi ancaman serius bagi kelestarian pesut Mahakam. (Ramlee)
