Kadal Duri Mata Merah atau red-eyed crocodile skink (Tribolonotus gracilis) merupakan reptil eksotis endemik Papua dan Papua Nugini. Kadal nokturnal ini memiliki ciri khas duri tajam di punggung, lingkaran merah menyala di sekitar mata. Meski tergolong ke dalam keluarga kadal, spesies ini memiliki fisik yang cukup menyeramkan seperti buaya, atau naga.

Kadal duri mata merah sebenarnya masuk dalam genus Tribolonotus yang banyak tersebar di wilayah Australia, Oseania, hingga bagian timur Indonesia. Bedanya, kadal yang satu ini merupakan hewan endemik dari Pulau Papua yang jadi wilayah dari Indonesia dan Papua Nugini.

Ciri khas yang paling mudah dikenali dari satwa ini adalah cincin periokular berwarna merah bata yang kontras dengan tubuh bersisik gelap. Sisik tersebut dilengkapi dengan tonjolan osteoderm menyerupai pelindung, sehingga tampak seperti “miniatur buaya”.

Kadal duri mata merahberpenampilan seperti naga atau buaya

Tubuh kadal duri mata merah relatif pendek dengan sisik keras di bagian punggung dan samping tubuh. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa osteoderm tersebut dapat memancarkan biofluoresensi hijau ketika terkena sinar ultraviolet, dengan intensitas paling kuat di bagian kepala, mata, tenggorokan, dan ujung sisik.

Baca juga : Kadal, Reptilia Bersisik yang Tersebar Luas di Dunia

Fenomena biofluoresensi pada spesies ini merupakan laporan pertama pada keluarga Scincidae dan diduga berkaitan dengan komunikasi visual di lingkungan bercahaya rendah. Selain itu, warna merah di sekitar mata juga berperan sebagai sinyal visual jarak dekat yang kemungkinan membantu dalam interaksi antar sesama.

Kaki belakang kadal buaya bermata merah memperlihatkan sisik seperti buaya

Kadal duri mata merah hidup di lantai hutan hujan yang lembap, kadal ini juga suka berendam di aliran air. Tidak hanya hidup di hutan hujan dataran rendah, kadal duri mata merah juga bisa hidup di tempat-tempat dengan ketinggian mulai dari 0 – 1.000 meter di atas permukaan laut.

Kadal duri mata merah juga lebih banyak menghabiskan waktu di daratan ketimbang di area aliran air. Umumnya, kadal duri mata merah ini akan memilih batang kayu busuk atau sisa-sisa batok kelapa sebagai tempat tinggalnya. Tubuh hingga ekor kadal duri mata merah ini dilapisi kulit berwarna cokelat tua yang sangat mirip dengan kulit buaya.

Hanya saja, moncong kadal duri mata merah jauh lebih pendek dan area matanya memiliki semacam cincin berwarna merah atau jingga. Ukuran kadal duri mata merah pun terbilang kecil. Kadal duri mata merah tumbuh dengan panjang sekitar 20 – 25 cm dengan bobot 36 – 45 gram saja.

Di habitat alaminya, kadal ini bersifat semi-fosorial dan lebih menyukai mikrohabitat lembap, misalnya di bawah serasah daun, akar, atau dekat aliran air kecil. Perilaku tersebut membuatnya jarang terlihat secara langsung di alam liar. Kadal duri mata merah tergolong sebagai karnivora atau lebih tepatnya insektivora.

Kadal buaya bermata merah dewasa memperlihatkan lingkaran merah pada matanya

Insektivora adalah hewan yang makanan utamanya adalah serangga dan hewan kecil. Makanan kadal ini cukup bervariasi, mulai dari cacing tanah, lalat buah, jangkrik, sampai ulat bambu. Untuk memperoleh makanannya itu, mereka bisa mencarinya hampir di segala tempat berkat kemampuan adaptasinya. Kadal duri mata merah diketahui cukup ahli dalam memanjat dan berenang.

Baca juga : Kadal Pensil, Reptil Unik Tanpa Kaki yang Menyerupai Ular

Oleh karena itu, kadal duri mata merah bisa dengan mudah menemukan mangsanya. Baik yang bersembunyi di atas pohon, di dalam tanah, sampai yang berada di dalam air. Biarpun demikian, pohon dan perairan bukan tempat favorit dari hewan ini. Mereka lebih memilih berada di atas tanah untuk tinggal, bersembunyi, atau mencari makanan.

Kadal buaya bermata merah lebih menyukai hidup di lantai hutan basah

Walaupun wajahnya terbilang lucu, kadal duri mata merah bukan termasuk hewan yang suka berada di dekat hewan lain, apalagi predator dan manusia. Saat merasa terancam, kadal duri mata merah memiliki berbagai adaptasi untuk bertahan agar bisa melewati ancaman itu.

Salah satu bentuk adaptasi yang menarik dari kadal ini adalah perilakunya ketika sedang mengalami stres berlebih. Kadal duri mata merah akan mengeluarkan suara unik ketika merasa terancam ataupun demi melindungi anak-anaknya. Kalau itu masih belum cukup, mereka akan diam membatu hingga berpura-pura mati agar ancaman yang ada di dekatnya segera menjauh.

Oleh karena itu, hewan pemalu yang satu ini akan lebih banyak bersembunyi di sarangnya ketika merasa ada makhluk lain yang bisa mengancam keberadaannya. Sebelum bisa kawin dengan betina, kadal duri mata merah jantan harus bertarung dengan pejantan lain agar berhak untuk kawin.

Bagi jantan, kematangan seksual bisa diperoleh ketika sudah berumur 3 tahun. Sementara, untuk betina, umumnya ada pada rentang umur 4 – 5 tahun. Kadal duri merah mata jantan dapat dikenali melalui bantalan putih pada kakinya. Kadal duri merah mata betina hanya memiliki satu ovarium yang berfungsi dan bertelur satu butir telur pada satu waktu.

Kadal buaya bermata merah setengah terendam dalam air

Kadal duri mata merah bereproduksi dengan jumlah telur yang sedikit, biasanya hanya satu butir dalam setiap siklus (masa kawin). Ukuran telur kadal jenis ini sekitar 2 cm. Telur tersebut berukuran relatif besar dibandingkan tubuh induknya. Kadal duri mata merah bereproduksi setiap 5 – 6 minggu sekali. Karena itu, dalam setahun, kadal duri mata merah betina bisa menetaskan sepuluh butir telur.

Baca juga : Biawak, Kadal Besar yang Kemampuannya Mirip Ular

Betina menjaga telur tunggal di sarang dan mempertahankannya secara agresif. Sementara jantan juga dapat mengeluarkan vokalisasi pertahanan. Perilaku penjagaan induk terhadap telur, termasuk vokalisasi pertahanan, diduga meningkatkan peluang keberhasilan menetas pada lingkungan hutan yang penuh ancaman predator. Ketika terkejut, kadal ini cenderung membeku dan bahkan bisa berpura-pura mati.

Kadal buaya bermata merah terlihat menyeramkan sekaligus menggemaskan

Berdasarkan penilaian terbaru dari IUCN (amandemen 2015, diterbitkan 2022), kadal duri mata merah dikategorikan sebagai “Risiko Rendah” (Least Concern). Meski demikian, pemantauan tetap diperlukan mengingat keterbatasan data ekologi dan taksonomi dari spesies ini.

Kajian regional mengenai keanekaragaman skink di Oceania dan Papua juga menyoroti adanya kesenjangan pengetahuan yang dapat memengaruhi akurasi penilaian konservasi. Hal ini menekankan pentingnya penelitian lanjutan untuk memperbarui data populasi dan status konservasi. (Ramlee)

By Ramlee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *