Belida (Chitala spp.) merupakan penyebutan bagi ikan air tawar yang berasal dari genus Chitala. Genus ini mudah dikenali dan diidentifikasi dari badannya yang ramping, pipih, dan tubuhnya yang cukup besar. Warnanya juga khas, yaitu silver atau abu-abu yang terkadang dihiasi corak tutul, bercak, atau garis. Secara ilmiah, ikan Belida termasuk dalam suku Notopteridae.



Notopteridae adalah famili ikan air tawar bersirip kipas yang dikenal sebagai ikan pisau (knife fish) atau ikan punggung bulu (featherback). Notopteridae berasal dari wilayah Afrika dan Asia, memiliki tubuh yang panjang, sirip punggung kecil, serta sirip dubur memanjang dan menyatu dengan sirip ekor.
Di berbagai wilayah Indonesia, ikan ini memiliki nama lokal yang berbeda. Masyarakat di Pulau Jawa mengenalnya sebagai ikan Lopis, di Sumatera disebut ikan Belida, sedangkan di Kalimantan lebih dikenal dengan nama ikan Manjul. Dalam bahasa Inggris, ikan Belida dikenal dengan sebutan featherback karena memiliki sirip panjang yang tipis menyerupai bulu.

Ikan Belida ini memiliki bentuk tubuh yang unik dengan bentuk pipih dan memanjang menyerupai pisau atau kipas. Bagian punggung melengkung yang tampak cembung dan bagian perutnya meruncing. Bagian perutnya berduri ganda dengan tampilan ekor yang memanjang. Sisik ikan ini terbilang kecil, berbentuk sikloid dengan bagian samping badan berbentuk gurat sisi.
Baca juga : Betutu, Ikan Pemalas Menyeramkan dengan Kandungan Gizi Tinggi
Di bagian kepala, terdapat area sisik dengan lubang hidung berbentuk tabung, serta tidak tertutup insang bawah. Ikan Belida memiliki bukaan mulut lebar dengan rahang atas depan dan rahang atas. Ikan Belida dewasa dapat tumbuh sampai 150 cm dengan berat hingga mencapai 1,5 – 7kg.

Salah satu ciri utama ikan tersebut adalah rahang atasnya yang memanjang sampai ke area bawah atau belakang mata. Hewan ini memiliki gigi-gigi pada rahang atas depan, rahang atas, rahang bawah, tulang mata bajak (vomer), tulang langit-langit (palatine) hingga lidah. Sirip punggungnya ikan Belida tergolong berukuran kecil, terletak di rentang pertengahan sirip dubur yang bersatu hingga ke bagian sirip ekor.
Ikan Belida menyukai perairan tawar yang tenang, teduh, atau agak gelap dengan tingkat kekeruhan tertentu. Ikan ini sering ditemukan di bagian sungai yang memiliki vegetasi air atau banyak sela-sela akar pohon. Ikan ini tergolong demersal, yakni lebih banyak menghabiskan waktu di dekat dasar perairan berlumpur atau berpasir.


Ikan Belida hidup di wilayah perairan yang sering mengalami genangan atau rawa banjir (floodplain), ikan Belida mampu bertahan pada kondisi lingkungan atau kualitas air dengan kadar oksigen yang rendah karena dilengkapi alat pernapasan tambahan (labirin).
Labirin pada ikan Belida berupa lipatan-lipatan epitelium pernapasan yang terletak di atas insang. Organ ini berfungsi menyimpan cadangan oksigen dan memungkinkan ikan Belida untuk bernapas langsung dari udara bebas. Sehingga memungkinkan ikan Belida bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen terlarut sangat rendah.

Ikan Belida sendiri termasuk dalam kelompok ikan predator yang lebih aktif berburu pada malam hari (nokturnal). Pada siang hari, ikan ini lebih suka bersembunyi di balik kayu atau tumbuhan air untuk menghindari predator dan melindungi diri.
Baca juga : Ikan Toman, Ikan Predator yang Enak Dimakan dan Bermanfaat untuk Kesehatan
Sebenarnya ikan Belida tergolong ikan omnivora, namun cenderung memakan ikan kecil (predator). Biasanya, ikan Belida akan memangsa ikan-ikan kecil dan krustasea yang ada di sekitarnya. Di musim kemarau, sebagian dari kelompok ikan Belida memilih tinggal di area perairan sungai dan sebagian lainnya berada di tempat-tempat terdalam yang tergenang oleh air.

Sedangkan di saat musim hujan, ikan Belida menyebar ke area rawa banjiran dan persawahan, baik untuk memijah (berkembang baik) maupun untuk mencari makan. Ikan Belida mencari makan dengan cara berburu secara aktif menggunakan strategi sebagai predator nokturnal.
Ikan Belida sangat aktif mencari mangsa saat malam hari di perairan dengan pencahayaan rendah (keruh atau gelap) dengan mengandalkan penglihatan yang tajam dan kemampuan kamuflase untuk menyergap mangsa berupa ikan kecil, udang, dan serangga di perairan tenang dan gelap pada malam hari.

Ikan Belida sering bersembunyi di balik vegetasi air, kayu tenggelam, atau celah sungai dan menunggu mangsa yang lewat, sebelum menyergap dengan gerakan yang sangat cepat. Makanannya didominasi oleh udang (sekitar 31%) dan ikan-ikan kecil bergerombol yang berada di sekitar habitatnya.
Ikan Belida berkembang biak secara ovipar (bertelur) melalui proses pemijahan. Induk yang matang gonad (usia 2–3 tahun) akan menempelkan ratusan telur berdiameter besar pada substrat di dalam air, seperti batang kayu atau tanaman. Telur-telur ini kemudian diinkubasi dan menetas menjadi larva.

Telur ikan belida membutuhkan waktu inkubasi antara 3 hingga 6 hari (bahkan bisa sampai 8 hari tergantung suhu) untuk menetas menjadi larva. Setelah menetas, larva akan membawa kantung kuning telur sebagai cadangan makanan. Setelah kantung makanan habis, larva akan mencari makanan alaminya berupa Artemia atau Daphnia.
Baca juga : Ikan Patin, Ikan Omnivora yang Hidup di Dasar Perairan
Ikan Belida saat ini berstatus langka dan mendapat perlindungan penuh dari pemerintah. Ikan yang dahulu dikenal luas sebagai bahan baku utama pempek khas Palembang ini mengalami penurunan populasi yang sangat drastis akibat penangkapan berlebihan serta kerusakan habitat alami di berbagai daerah.

Pencemaran sungai, alih fungsi lahan rawa, pembangunan di kawasan perairan, serta kerusakan hutan riparian atau kawasan tepian sungai telah mengurangi habitat alami ikan Belida. Kondisi ini membuat ikan ini kesulitan menemukan tempat yang aman untuk mencari makan maupun berkembang biak.
Dibandingkan dengan beberapa jenis ikan konsumsi lainnya, ikan Belida memiliki pertumbuhan populasi yang lebih lambat. Akibatnya, jumlah ikan yang tertangkap di alam tidak dapat segera tergantikan oleh generasi baru.

Di Indonesia, terdapat empat spesies ikan Belida yaitu Belida Borneo (Chitala borneensis), Belida Sumatera (Chitala hypselonatus), Belida Jawa (Notopterus notopterus), dan Belida Lopis (Chilata lopis). Keempat jenis itu dilindungi dari kepunahan berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.1/2021.
Sebelumnya, keempat ikan Belida itu dilindungi melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018. (Ramlee)
