Bandikut merupakan mamalia marsupial (hewan berkantung) endemik wilayah Papua hingga Australia. Bandikut sering disebut tikus babi atau kusu tanah. Disebut tikus babi karena dari bentuknya, hewan nokturnal ini kecil seperti tikus dengan moncong yang panjang, berkaki pendek, sehingga menyerupai babi.

Nama bandikut sendiri bukan berasal dari Papua melainkan diambil dari istilah “pandi-kokku”, dalam Bahasa Telugu, India, yang memiliki arti tikus babi. Menariknya, tikus babi yang termasuk dalam famili Peroryctidae, termasuk hewan marsupial atau mamalia yang memiliki kantung, seperti halnya kanguru dan juga koala yang ada di Benua Australia.
Bandikut merupakan satwa peralihan antara Australia Utara dan Papua Nugini yang tersebar di wilayah Papua, Papua Nugini, dan Australia. Penyebarannya di Tanah Papua tersebar mulai dari Pulau Waigeo, Biak, Yapen, bagian utara dari timur Manokwari, Merauke, hingga ke arah selatan Pulau Nugini dengan ketinggian 1.550 meter di atas permukaan laut.

Bandikut juga ditemukan di Kepulauan Maluku seperti Pulau Seram dan Halmahera. Dari delapan spesies bandikut yang dapat ditemukan di Tanah Papua, dua di antaranya merupakan jenis endemik, yaitu bandikut cokelat utara (Isoodon macrourus) dan Bandikut Raffay (Perorcytes raffrayana).
Baca juga : Kuskus, Mamalia Berkantung Dilindungi Khas Indonesia Timur
Meskipun sering dianggap mirip tikus, bandikut betina memiliki kantung di perutnya (mamalia berkantung) layaknya koala dan kanguru. Di dalam kantung itu, bandikut akan merawat, membesarkan, dan menyusui bayi mereka yang lahir dalam kondisi belum matang. Uniknya, kantung betina menghadap ke belakang untuk mencegah tanah masuk saat satwa ini menggali.

Bandikut adalah hewan omnivora yang memakan tumbuhan dan hewan (invertebrata). Di alam liar, makanan utamanya meliputi serangga (seperti rayap dan ulat), cacing, reptil kecil, telur, akar-akaran, jamur, umbi-umbian (seperti singkong dan ubi jalar), serta buah.
Hewan ini memiliki tubuh dengan rambut berwarna coklat kekuningan bercorak agak kehitaman, dan cenderung agak terang di bagian pipi dan tenggorokannya. Bobot badan tikus babi dewasa antara 2hingga 3 kg dan pernah ditemukan dengan berat tubuh mencapai 4,6 kg.


Bandikut memiliki moncong runcing yang berfungsi sebagai alat utama untuk mencari makan. Moncong ini dilengkapi dengan indra penciuman yang sangat tajam untuk mendeteksi mangsa, serta digunakan untuk mengendus dan membongkar tanah atau serasah daun saat mencari serangga, cacing, dan umbi-umbian.
Selain itu bandikut juga memiliki cakar di kaki depan. Spesies marsupial ini amat cekatan dalam menggali tanah untuk menemukan umbi-umbian, makananan kesukaannya. Hewan ini menggunakan jari-jari kakinya yang panjang dan melengkung untuk menggali makanan di bawah tanah. Bandikut akan terlihat mendengus dengan gembira ketika moncongnya menemukan makanan, dan mengeluarkan suara melengking ketika diganggu.

Kebiasaannya yang mencari makanan membuat bandikut sering dianggap sebagai hama oleh para petani tradisional karena kebiasaannya yang suka merusak kebun untuk memakan ubi jalar, singkong, dan keladi. Bagi masyarakat Papua, bandikut dipandang sebagai hama perusak kebun dan sebagai sumber protein hewani serta pengobatan tradisional.
Baca juga : Walabi, Mamalia Khas Papua yang Terancam Punah
Bandikut adalah satwa nokturnal (aktif pada malam hari) yang menghabiskan siang hari dengan tidur dan bersembunyi di dalam sarang. Bandikut akan beristirahat total sepanjang siang untuk memulihkan energi sebelum aktif kembali mencari makan pada malam hari. Bandikut membangun sarang yang tersembunyi di vegetasi padat, dedaunan tua, atau menggali liang dangkal di atas permukaan tanah.

Sarang ini sering dilapisi dengan rumput atau bahan tumbuhan agar hangat. Berdiam diri di sarang yang tertutup rapat membantu bandikut menghindari ancaman pemangsa dan menjaga kelembaban tubuh selama cuaca panas. Beberapa spesies bandikut sering berganti-ganti sarang dan biasanya menggunakan lebih dari satu lokasi sarang untuk tidur.
Karena kebanyakan bandikut mempunyai sifat soliter, umumnya bandikut akan hidup menyendiri di dalam sarang dan hanya menempati sarang tersebut sendirian. Selain itu bandikut juga sangat teritorial. Satwa ini akan mempertahankan wilayahnya secara agresif dari penyusup.

Wilayah jelajah ini ditandai menggunakan aroma dari kelenjar di belakang telinga, dan jantan biasanya lebih protektif serta memiliki area yang jauh lebih luas daripada betina. Bandikut jantan sangat selektif dan akan bersikap agresif jika ada jantan lain yang masuk wilayahnya. Area teritorial antara jantan dan betina berbeda.
Wilayah betina biasanya seluas 1 – 4 hektar, sedangkan wilayah jantan jauh lebih besar, mencapai 18 – 40 hektar. Wilayah jantan dan betina terkadang tumpang tindih. Bandikut menandai batas teritorialnya menggunakan aroma dari kelenjar bau yang terletak di belakang telinga.

Hal unik lain, dalam setahun seekor tikus babi betina dewasa mampu melahirkan 5–6 kali. Bandikut memiliki masa kebuntingan terpendek sekitar 11 hari, lebih pendek dibandingkan hewan berkantung lain. Jumlah anak per kelahiran 3–4 ekor, lama bunting 12–13 hari, dan lama menyusui 50–60 hari dengan masa sapih satu minggu. Siklus estrus rata-rata 21 hari dan induk mulai kawin kembali setelah anak dalam kantung umur 50 hari.
Baca juga : Dingiso, Kanguru Pohon Langka Dari Pegunungan Tengah Papua
Selama menyusui, induk bandikut masih bunting dan menyapih anak sehingga induk bandikut mampu memelihara tiga generasi dalam waktu yang sama. Sebagai hewan berkantung, bandikut betina memiliki kantung tempat anak-anaknya tumbuh dan minum susu dari putingnya.

Kantung ini “terbalik”, yakni terbuka di bagian belakang sehingga kotoran tidak masuk saat menggali. Anak bandikut yang belum berkembang dan tidak berbulu hanya berukuran 1 cm saat dilahirkan, dan membutuhkan waktu tiga bulan untuk hidup mandiri. Bahkan jika makanan langka, induk bandikut betina ada kemungkinan akan memakan anaknya.
Status konservasi bandikut sangat bervariasi antar spesies. Menurut IUCN Red List, banyak spesies, seperti bandikut hidung panjang (Perameles nasuta) dan bandikut kalubu (Echymipera kalubu), berstatus Risiko Rendah (Least Concern). Namun, spesies lain seperti bandikut tikus terancam Rentan (Vulnerable), dan spesies langka seperti bandikut berkaki babi telah dinyatakan punah. (Ramlee)
